BerandaProfileNengah Jenek - (Habis): “Petani Lahan Kering, Juara Na…
Profile

Nengah Jenek - (Habis): “Petani Lahan Kering, Juara Nasional”

Prestasi nasional itu tak datang dari panggung besar, melainkan dari kebun sunyi di lahan kering. Dari sanalah Nengah Jenek merawat inovasi pelan, tekun, dan konsisten hingga mangga yang ia tanam bukan hanya berbuah lebat, tetapi juga mengantarkan pengakuan di tingkat nasional.

FacebookWhatsAppXTelegram

Nengah Jenek - (Habis)

“Petani Lahan Kering, Juara Nasional”
          

Tak ada prestasi yang lahir dari kebetulan. Di balik mangga-mangga yang kelak mengantarkan nama Nengah Jenek ke panggung nasional, tersimpan proses panjang yang dijalani dengan kesabaran. Dari lahan kering yang sama, ia terus belajar, mencoba, dan memperbaiki hingga inovasi menjadi bagian dari keseharian bertani.

Sejak awal tahun 1990-an, Nengah Jenek telah menambatkan pilihannya pada mangga. Di tengah keterbatasan udara dan kondisi tanah yang kering, keputusan itu selalu mudah. Banyak orang yang mengira mangga bisa tumbuh optimal di wilayah seperti Bantas. Namun ia justru melihat peluang. Mangga, menurutnya, memiliki daya tahan asal dirawat dengan cara yang tepat.

Di atas lahan sekitar dua hektar, ia membudidayakan mangga arumanis dan brazil. Kebun itu bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ruang belajar. Setiap musim menjadi catatan, setiap panen menjadi bahan evaluasi. Dari sanalah ia merangkai pengetahuan secara perlahan, konsisten, dan berbasis pengalaman lapang.

Perawatan tanaman dimulai sejak panen selesai. Pemangkasan dilakukan untuk membuang cabang yang tidak produktif dan mengatur editorial agar sirkulasi udara serta cahaya matahari lebih optimal. Baginya, menghentikan bukan sekedar rutinitas teknis, melainkan cara menyiapkan masa depan tanaman. Dari tunas-tunas baru itulah harapan panen berikutnya tumbuh.

Dalam pemupukan, Nengah Jenek memilih keseimbangan. Pupuk organik digunakan untuk memperbaiki struktur tanah, sementara pupuk anorganik N, P, dan K diberikan sesuai fase pertumbuhan tanaman. Semua dilakukan secara bertahap dan terukur. Ia percaya, tanah yang sehat akan melahirkan tanaman yang kuat.

Pengendalian hama dilakukan secara selektif dan ramah lingkungan. Lalat buah dikendalikan dengan perangkap petrogenol, sementara hama lain ditangani dengan insektisida sesuai kebutuhan dan dosis. Prinsipnya sederhana: menjaga kebun tetap produktif merusak tanpa keseimbangan alam.

Tantangan terbesar tetaplah udara. Di lahan kering, udara adalah penentu kehidupan. Untuk itu, ia memanfaatkan embung sebagai sumber irigasi. Udara dialirkan melalui pipa langsung ke kebun, memungkinkan penyiraman tetap berjalan saat kemarau panjang. Sistem sederhana ini menjadi kunci keberlangsungan kebun mangganya.

Perawatan yang konsisten itu membuahkan hasil. Satu pohon mangga brazil mampu menghasilkan hingga satu kuintal, sementara arumanis sekitar setengah kuintal. Dengan kualitas buah yang terjaga, nilai ekonomi per pohon bisa mencapai jutaan rupiah. Namun bagi Nengah Jenek, keberhasilannya bukan sekedar angka. Yang terpenting adalah keinginan—bahwa kebun tetap hidup dan bisa diwariskan.

Puncak perjalanan panjang itu datang ketika ia mengikuti Kontes Mangga dalam Pesta Mangga di Probolinggo 22 November 2025. Dari kebun di lahan kering Bantas, mangga yang ia rawat bertahun-tahun bersanding dengan mangga terbaik dari berbagai daerah. Hasilnya, Nengah Jenek dinobatkan sebagai Juara 1 Mangga Terbesar Tingkat Nasional.

Penghargaan itu ia terima dengan sikap sederhana. Tak ada euforia yang berlebihan. Baginya, prestasi tersebut adalah pengakuan atas kerja panjang yang dijalani dengan tekun. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi pesan bagi petani lahan kering bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bersaing di tingkat nasional.

Prestasi nasional itu melengkapi peran-peran yang selama ini ia jalani sebagai petani, ketua kelompok tani, bendesa adat, dan penyuluh swadaya. Semua peran itu berpijak pada satu hal yang sama keinginan untuk berbagi dan bertumbuh bersama.

Kini, kebun mangga Nengah Jenek tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga inspirasi. Dari lahan kering di Bantas, ia menunjukkan bahwa inovasi tak selalu lahir dari tempat besar. Kadang-kadang, ia tumbuh perlahan di kebun yang sunyi, dirawat oleh ketekunan dan kesetiaan pada prosesnya.

Bagi Nengah Jenek, prestasi bukan tujuan akhir. Ia hanyalah bagian dari perjalanan panjang seorang petani yang memilih bertahan, belajar, dan berbagi. Dari tanah kering itu, ia membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh dan bahkan mengharumkan nama hingga tingkat nasional.

Koresponden : Laksmi DPD Perhiptani Karangasem

Editor: Widianta

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar