Beranda›Lintas Daerah›Universitas Panji Sakti dan Penyuluh Bersinergi, Doron…
Lintas Daerah

Universitas Panji Sakti dan Penyuluh Bersinergi, Dorong Petani Durian Lebih Mandiri

Universitas Panji Sakti Singaraja bersama penyuluh pertanian bersinergi mendampingi petani durian di Desa Banjar, Buleleng, Rabu (28/10/2026). Pendampingan ini memperkuat pengendalian hayati sekaligus mendorong petani lebih mandiri dalam mengelola kebun dan meningkatkan keuntungan usaha tani secara berkelanjutan.

FacebookWhatsAppXTelegram

Pendampingan di Desa Banjar, Buleleng, memperkuat penerapan pengendalian hayati sekaligus membekali petani dengan kemampuan mengelola usaha tani secara lebih profesional dan berkelanjutan.

BULELENG — Kebun durian yang produktif tidak cukup hanya mengandalkan kesuburan tanah dan perawatan rutin. Petani juga perlu memahami cara mengendalikan penyakit tanaman, menerapkan teknologi ramah lingkungan, serta menghitung keuntungan usaha secara cermat. Semangat itulah yang melandasi kolaborasi Fakultas Pertanian dan Teknik Universitas Panji Sakti Singaraja bersama penyuluh pertanian dalam mendampingi Kelompok Tani Ternak (KTT) Gopala Nandini di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Rabu (28/10/2026).

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayah kerja BPP Banjar tersebut, petani mendapatkan pendampingan untuk menghadapi persoalan busuk batang dan serangan penggerek batang durian. Materi kegiatan mencakup pemanfaatan agen hayati, penerapan Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT), serta penguatan manajemen usaha tani.

WhatsApp Image 2026 10 28 at 14.36.45


Ketua kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Dewa Putu Arta Jaya, S.P., M.P., M.Agr., bersama tim memperkenalkan pendekatan pengendalian yang tidak hanya berorientasi pada penanganan gejala, tetapi juga mengutamakan pengamatan, identifikasi penyebab, dan pemilihan tindakan sesuai kondisi tanaman.

Dalam sesi teknis, petani memperoleh penjelasan mengenai dugaan keterlibatan jamur patogen Diplodia palmifora dalam penyakit busuk batang serta serangan kumbang ambrosia yang membentuk lorong gerekan pada jaringan kayu dan memiliki hubungan dengan jamur simbionnya.

Keterkaitan langsung antara kumbang ambrosia dan jamur penyebab busuk batang di kebun setempat masih memerlukan identifikasi serta pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, petani didorong mengamati lubang gerekan, serbuk kayu, perubahan warna jaringan, kondisi kulit batang, dan keluarnya cairan dari batang. Pengamatan tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan langkah pengendalian yang tepat.

Mengenalkan Pengendalian Hayati

Salah satu materi utama dalam pendampingan ini adalah pemanfaatan agen hayati sebagai bagian dari strategi pengendalian organisme pengganggu tanaman yang lebih ramah lingkungan.

Tiga jenis agen hayati diperkenalkan, yakni Trichoderma sp., Bacillus thuringiensis (Bt), dan Metarhizium sp. Trichoderma berpotensi menekan patogen tanaman tertentu melalui mekanisme antagonisme dan kompetisi. Sementara itu, Bacillus thuringiensis menghasilkan protein insektisida yang bekerja terhadap kelompok serangga tertentu, terutama larva yang rentan. Adapun Metarhizium merupakan jamur entomopatogen yang berpotensi menginfeksi serangga sasaran.

WhatsApp Image 2026 10 28 at 14.36.46


Pemanfaatan ketiganya perlu disesuaikan dengan organisme pengganggu, karakteristik agen hayati, formulasi, kondisi lingkungan, dan petunjuk teknis penggunaannya. Efektivitas pengendalian juga harus didukung sanitasi kebun, pemeliharaan tanaman, pengelolaan luka pada batang, serta pemantauan secara berkala.

Untuk mendukung penerapan teknologi di lapangan, petani menerima bantuan substrat agen hayati, tangki sprayer elektrik, dan wadah pendukung penyiapan agen hayati. Dukungan tersebut diharapkan memudahkan petani mempraktikkan materi yang diperoleh dengan tetap memperhatikan mutu inokulum, kemurnian kultur, kebersihan peralatan, dan prosedur aplikasi yang benar.

Pendekatan PHT turut diperkuat melalui pemangkasan yang tepat, konservasi tanah, sanitasi kebun, dan pengelolaan bahan organik. Petani juga diperkenalkan pada Arachis pintoi sebagai tanaman penutup tanah atau cover crop di bawah tajuk durian.

Tanaman tersebut berpotensi membantu mengurangi erosi, menekan pertumbuhan gulma tertentu, dan menjaga kelembapan tanah. Namun, pengelolaannya tetap perlu memperhatikan drainase dan kebersihan area pangkal batang agar kelembapan berlebih tidak menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan penyakit.

WhatsApp Image 2026 10 28 at 14.36.45 (2)


Melalui pendekatan terpadu ini, petani diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada penggunaan pestisida kimia sintetis secara berlebihan. Apabila diperlukan, pestisida tetap dapat digunakan secara bijaksana sesuai sasaran dan rekomendasi teknis.

Tak Hanya Panen, Petani Harus Mampu Menghitung Keuntungan

Pendampingan juga menyentuh aspek ekonomi yang kerap menentukan keberlanjutan usaha tani. Petani dibekali pemahaman mengenai perhitungan investasi pohon durian sejak pembentukan kebun hingga memasuki fase menghasilkan.

Komponen biaya yang perlu dicatat meliputi persiapan lahan, pengadaan bibit, penanaman, pemupukan, pengairan, tenaga kerja, pengendalian hama dan penyakit, serta pemeliharaan selama tanaman belum menghasilkan.

Pencatatan investasi, biaya operasional tahunan, dan penerimaan penjualan buah menjadi dasar untuk mengevaluasi laba-rugi, menghitung keuntungan bersih, serta merencanakan kebutuhan modal. Dengan pembukuan yang sederhana tetapi konsisten, petani dapat menilai perkembangan usaha berdasarkan data, bukan sekadar perkiraan.

Sebagai ilustrasi, apabila investasi pembentukan satu pohon durian mencapai Rp3 juta, dengan asumsi nilai residu nol dan umur manfaat ekonomis 20 tahun, penyusutan menggunakan metode garis lurus mencapai Rp150 ribu per tahun.

WhatsApp Image 2026 10 28 at 14.36.46 (2)


Angka tersebut merupakan contoh perhitungan, bukan hasil pengukuran biaya aktual kebun peserta. Perhitungan usaha tani yang sesungguhnya perlu menggunakan data biaya, umur ekonomis, produktivitas, harga jual, dan pengeluaran operasional sesuai kondisi masing-masing kebun.

Melalui sinergi perguruan tinggi dan penyuluh pertanian, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi berlanjut menjadi praktik budidaya yang lebih baik di tingkat petani. Pendampingan menjadi ruang untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus memperkuat kemampuan petani mengambil keputusan secara mandiri.

Bagi KTT Gopala Nandini, pengelolaan kebun durian yang profesional berarti menjaga keseimbangan antara kesehatan tanaman, kelestarian lingkungan, dan kelayakan ekonomi. Sebab, keberhasilan usaha tani bukan semata-mata diukur dari banyaknya buah yang dipanen, melainkan juga dari kemampuan petani mempertahankan produktivitas dan mengelola keuntungan secara berkelanjutan. (DND/DenBagus)

 

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar