GIANYAR – Petani bukan sekadar objek program yang hanya menerima bantuan dan menjalankan instruksi. Mereka harus menjadi subjek sekaligus pelaku utama pembangunan pertanian. Karena itu, setiap program harus berpijak pada kebutuhan nyata di lapangan, melibatkan petani dalam pengambilan keputusan, serta membekali mereka dengan kemampuan menguasai teknologi.
Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Budidaya Bawang Merah dan Bawang Putih yang berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Kamis (5/11). Forum ini tidak sekadar menjadi ruang sosialisasi program, tetapi juga wadah bertukar pengalaman, mengidentifikasi persoalan, dan merumuskan langkah konkret pengembangan komoditas bawang di tingkat petani.
Salah satu materi disampaikan Kelompok Kerja Penyuluhan Pertanian Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., dengan topik Pengembangan Bawang Merah Berbasis Kawasan: Strategi Peningkatan Produksi, Kemandirian Benih, dan Penguatan Agribisnis Berkelanjutan.

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa pengembangan bawang merah dan bawang putih harus dilakukan melalui pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Keberhasilan usaha tani tidak cukup hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan dan benih. Petani juga harus memahami keseluruhan proses produksi, mulai dari persiapan lahan, pemilihan benih atau umbi bermutu, pengaturan jarak tanam, pengelolaan drainase, pemupukan berimbang, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Aspek pascapanen dan pemasaran pun tidak boleh diabaikan. Sebab, keberhasilan budidaya bukan semata-mata diukur dari banyaknya hasil panen, tetapi juga kualitas produk, efisiensi biaya produksi, serta kemampuan petani memperoleh nilai tambah.
Dengan kata lain, petani tidak cukup hanya terampil menanam dan memanen. Mereka juga perlu memahami bagaimana menghasilkan produk berkualitas, menekan biaya usaha tani, membaca peluang pasar, dan meningkatkan posisi tawar.
Khusus pada lahan bekas sawah, pengelolaan air menjadi salah satu faktor penentu. Tanaman bawang membutuhkan kelembapan tanah yang cukup, tetapi tidak tahan terhadap genangan berkepanjangan. Karena itu, pembuatan bedengan dan saluran drainase harus dipersiapkan secara cermat sebelum penanaman.

Penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati juga menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan tanah. Sementara pemenuhan unsur hara makro dan mikro harus disesuaikan dengan karakteristik lahan, hasil analisis tanah, serta fase pertumbuhan tanaman.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong petani menerapkan teknologi secara lebih tepat, efisien, dan berkelanjutan. Dengan demikian, pengembangan bawang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada keberlanjutan usaha tani dan keuntungan yang diperoleh petani.
Petani Bukan Penonton, tetapi Penentu Keberhasilan
Suasana rakor semakin dinamis ketika memasuki sesi diskusi dan tanya jawab. Petani dan penyuluh memperoleh kesempatan menyampaikan kondisi lahan, kendala teknis, pengalaman budidaya, hingga kebutuhan nyata dalam pengembangan bawang merah dan bawang putih.
Berbagai masukan tersebut menjadi bahan penting dalam merumuskan tindak lanjut. Sebab, program pertanian yang baik tidak semestinya hanya lahir dari target administratif atau keputusan di balik meja. Program harus berpijak pada kondisi agroekosistem, kemampuan petani, ketersediaan sarana produksi, serta peluang pasar.

Di sinilah petani harus ditempatkan sebagai mitra strategis, bukan sekadar penerima bantuan. Pengalaman dan pengetahuan mereka merupakan modal penting dalam menentukan teknologi yang sesuai dengan kondisi lapangan. Keterlibatan petani sejak perencanaan hingga evaluasi juga menjadi kunci agar program memiliki keberlanjutan.
Peran penyuluh pertanian pun semakin strategis. Penyuluh tidak hanya bertugas menyampaikan informasi dan rekomendasi teknologi, tetapi juga menjadi penghubung antara petani, pemerintah, dan lembaga penerapan teknologi pertanian.
Pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari persiapan lahan, penerapan teknologi budidaya, pengelolaan tanaman, hingga evaluasi hasil. Dengan begitu, teknologi tidak berhenti sebagai materi sosialisasi, tetapi benar-benar diterapkan dan memberikan dampak terhadap produktivitas serta pendapatan petani.

Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan bawang merah dan bawang putih tidak cukup diukur dari terlaksananya rapat, tersalurkannya bantuan, atau tercapainya target luas tanam. Ukuran yang lebih substantif adalah meningkatnya kapasitas dan kemandirian petani, tumbuhnya usaha tani yang menguntungkan, serta membaiknya kesejahteraan keluarga petani.
Sebab, pertanian yang maju bukan hanya tentang teknologi yang semakin modern, melainkan juga tentang petani yang semakin cerdas, mandiri, dan berdaya saing. (DenBagus/DND)
Koresponden: Novita BPP Blahbatuh Gianyar






Komentar