GIANYAR – Tidak harus memiliki sawah atau lahan luas untuk bisa berkontribusi dalam ketahanan pangan. Pekarangan rumah pun dapat menjadi ruang produktif jika dikelola dengan kreativitas dan kemauan untuk mencoba. Inilah yang dilakukan Tinton, pemuda yang bernama Komang Budiartawan, warga Jalan Kukur, Banjar Belah Tanah, Desa Sakah, Gianyar.
Pemuda lajang yang pernah bekerja sebagai pengemudi ojek online (Gojek) ini mulai menekuni budidaya hidroponik di lingkungan rumahnya. Dengan memanfaatkan ruang yang tersedia, ia merancang sistem budidaya sayuran yang dipadukan dengan pemeliharaan ikan lele dan nila.

Ada enam drum yang dimanfaatkan sebagai wadah pemeliharaan ikan. Sementara itu, instalasi hidroponik menyediakan sekitar 200 lubang tanam yang ditanami pakcoy dan kangkung. Di bagian pinggir, tanaman tomat cherry turut menambah keragaman komoditas yang dibudidayakan.
Meski terbilang sederhana, penataan tersebut memperlihatkan bagaimana pekarangan dapat dimanfaatkan secara optimal. Tidak sekadar memperindah lingkungan rumah, tetapi juga menghasilkan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah. Tanaman memperoleh nutrisi melalui larutan air yang mengandung unsur hara esensial, dengan dukungan instalasi dan media tanam yang sesuai. Sistem ini memungkinkan kegiatan bercocok tanam dilakukan di lahan terbatas.
Menariknya, kegiatan yang dirintis Tinton baru berjalan sekitar dua bulan. Namun, hasilnya sudah mulai terlihat. Panen perdana pakcoy dan kangkung menjadi pengalaman sekaligus penyemangat untuk terus mengembangkan budidaya tersebut.
“Awalnya saya ingin memanfaatkan pekarangan rumah agar lebih produktif. Ternyata, meskipun tidak memiliki lahan luas, kita tetap bisa menanam sayuran dan memelihara ikan. Sekarang hasil panen perdana sudah bisa dinikmati bersama keluarga,” ungkap Tinton.

Ia menegaskan, hasil panen tersebut belum ditujukan untuk kepentingan komersial. Seluruhnya dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan keluarga. Dengan demikian, sayuran segar dapat dipetik langsung dari halaman rumah sesuai kebutuhan.
Bagi Tinton, kegiatan ini bukan semata-mata tentang menghasilkan sayuran, tetapi juga membangun kemandirian pangan dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Pengalaman merintis budidaya tersebut menjadi pembelajaran bahwa bertani tidak selalu identik dengan pekerjaan di sawah atau perkebunan.
Kisah Tinton sekaligus memberikan pesan menarik bagi generasi muda. Latar belakang pekerjaan bukanlah penghalang untuk mencoba kegiatan produktif di bidang pertanian. Dari pengalaman bekerja sebagai pengemudi ojek online, kini ia mulai menemukan aktivitas baru yang dekat dengan pangan dan lingkungan.

Apa yang dilakukan Tinton memang belum berskala usaha besar. Namun, langkah kecil ini memiliki arti penting. Enam drum ikan, sekitar 200 lubang tanam, dan sejumlah tanaman tomat cherry menjadi bukti bahwa pekarangan rumah memiliki potensi yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Sebab, ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan pertanian yang luas. Bisa dimulai dari halaman rumah, dari kemauan menanam, dan dari kesadaran untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.
Dari jalanan mencari nafkah, kini Tinton menanam harapan. Pekarangan rumah menjadi ruang belajar, tempat panen, sekaligus langkah kecil menuju keluarga yang lebih mandiri pangan. (DND/DenBagus)






Komentar