JEMBRANA – Kebun kakao menjadi ruang belajar terbuka bagi mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Brawijaya. Tidak sekadar melihat tanaman, mahasiswa diajak memahami bagaimana komoditas perkebunan memiliki potensi ekonomi dan mampu menggerakkan kehidupan masyarakat perdesaan.
Pembelajaran lapangan tersebut berlangsung di lahan milik petani I Ketut Witamayasa, yang berada di kawasan Subak Abian Mekar Sari, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Dalam kunjungan ini, Penyuluh Pertanian Wilayah Binaan (Wilbin) Desa Kaliakah, I Nyoman Widnyana Putra, S.P., mendampingi mahasiswa untuk mengenal budidaya kakao secara langsung, mulai dari hulu hingga hilir.
Di bawah rindangnya tajuk tanaman kakao, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai berbagai aspek teknis budidaya. Mulai dari persiapan lahan, pemilihan bibit unggul, teknik penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga pemanenan buah kakao.

Pembelajaran tidak berhenti pada proses produksi. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan penanganan pascapanen, seperti fermentasi, pengeringan, pengolahan biji kakao, serta peluang pengembangan produk olahan dan pemasarannya. Rangkaian proses tersebut memberikan gambaran bahwa nilai ekonomi kakao tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga kualitas produk dan kemampuan menciptakan nilai tambah.
Bagi mahasiswa PWK, pengalaman ini menjadi kesempatan untuk memahami pertanian dari perspektif pengembangan wilayah. Komoditas kakao tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan aktivitas ekonomi petani, kelembagaan, rantai pasok, peluang usaha, hingga kesejahteraan masyarakat desa.
Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai peran Subak Abian sebagai kelembagaan petani dalam mendukung keberlanjutan usaha perkebunan. Keberadaan kelembagaan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama, meningkatkan kapasitas petani, serta mengembangkan potensi komoditas unggulan desa.
Penyuluh Pertanian I Nyoman Widnyana Putra, S.P., mengatakan bahwa pendampingan kepada mahasiswa merupakan bagian dari upaya memperkenalkan potensi pertanian lokal sekaligus membangun jembatan komunikasi antara dunia akademis dan masyarakat petani.
"Pertanian memiliki potensi yang sangat besar untuk mendukung pengembangan wilayah perdesaan. Melalui kunjungan ini, kami ingin mahasiswa melihat secara langsung bahwa kakao bukan hanya tanaman perkebunan, tetapi juga memiliki rantai usaha yang panjang dan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan. Penyuluh siap menjadi penghubung pengetahuan dan inovasi agar potensi pertanian lokal semakin dikenal dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkapnya.

Sementara itu, koordinator mahasiswa, A. Nabil Iqbal Ardiansyah, menyampaikan bahwa kunjungan lapangan memberikan pengalaman dan perspektif baru bagi mahasiswa dalam memahami keterkaitan sektor pertanian dengan perencanaan wilayah.
"Melalui kegiatan ini, kami mendapatkan gambaran langsung mengenai proses budidaya kakao, penanganan pascapanen, hingga peluang pengembangannya. Pengalaman ini sangat bermanfaat karena kami dapat memahami bahwa potensi pertanian dan kelembagaan petani merupakan bagian penting dalam pembangunan serta pengembangan ekonomi wilayah perdesaan," ujarnya.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa penyuluh pertanian memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mendampingi petani dalam kegiatan budidaya. Penyuluh juga menjadi fasilitator pembelajaran, penghubung inovasi, dan mitra strategis dalam memperkenalkan potensi pertanian kepada generasi muda maupun kalangan akademisi.

Dari kebun kakao di Desa Kaliakah, mahasiswa Universitas Brawijaya mendapatkan pelajaran bahwa pembangunan wilayah perdesaan tidak bisa dilepaskan dari kekuatan sektor pertanian. Sebab, di balik setiap tanaman yang tumbuh, terdapat pengetahuan, kerja keras petani, kelembagaan, serta peluang ekonomi yang perlu terus dikembangkan. (DND/DenBagus)
Koresponden: Widnyana BPP Negara






Komentar