Penyuluh Kawal Petani Kedelai, PHT Jadi Jurus Jaga Panen dan Ekosistem
KLUNGKUNG – Bukan sekadar mengejar hasil panen, petani kedelai di Subak Telaga, Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Klungkung, mulai didorong untuk menjaga keseimbangan ekosistem lahan. Melalui penerapan Pengelolaan Hama Terpadu (PPHT), penyuluh bersama petani membangun pola budidaya sehat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia.
Subak Telaga merupakan salah satu wilayah sentra pengembangan kedelai di Kabupaten Klungkung. Program PPHT dilaksanakan melalui tujuh kali pertemuan, terdiri atas satu kali sosialisasi awal, lima kali pertemuan berkala untuk pengamatan hama dan penyakit, penyampaian materi serta praktik lapangan, dan ditutup dengan kegiatan Farmer Field Day (FFD) untuk mengevaluasi hasil pada akhir musim.

Pada pertemuan Jumat (21/8), sebanyak 16 petani dengan total hamparan sekitar 10 hektare mengikuti kegiatan yang difokuskan pada penguatan teknik budidaya sehat dan pengendalian hayati.
Penyuluh pertanian bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) tidak hanya menyampaikan teori. Petani langsung diajak mengamati kondisi tanaman dan menerapkan teknik pengendalian hama ramah lingkungan di lahan.
Salah satunya melalui penanaman refugia di sekitar pematang. Tanaman berbunga tersebut berfungsi sebagai tempat berlindung sekaligus sumber pakan bagi musuh alami hama. Dengan demikian, keberadaan musuh alami dapat membantu menjaga populasi hama tetap berada di bawah ambang pengendalian.

Kegiatan dilanjutkan dengan penelusuran budidaya untuk mengevaluasi kesesuaian teknik pemeliharaan tanaman yang telah diterapkan petani. Edukasi kemudian diperkaya dengan praktik pembuatan Trichokompos, pupuk organik yang diperkaya agens hayati Trichoderma sp. untuk membantu menekan patogen tular tanah sekaligus meningkatkan kesuburan lahan.
Petugas POPT Pendamping, I Putu Mahardika, SP., menekankan bahwa inti PHT bukan sekadar mengurangi penggunaan pestisida, tetapi mengubah cara pandang petani dalam mengelola pertanaman.
“Prinsip utama PHT adalah menjadikan petani sebagai pengamat di lahannya sendiri. Melalui refugia dan Trichokompos, petani dapat memperkuat pertanaman sekaligus menjaga keberadaan musuh alami tanpa merusak lingkungan,” ujarnya.
Peran penyuluh juga menjadi kunci agar teknologi tidak berhenti pada ruang pertemuan. PPL Wilbin Desa Pikat secara langsung mendampingi petani dalam setiap tahapan, mulai dari pengamatan, identifikasi masalah hingga praktik di lapangan.
“Subak Telaga memiliki potensi besar sebagai sentra kedelai di Klungkung. Melalui tujuh tahapan pendampingan ini, kami ingin memastikan petani tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mempraktikkannya secara mandiri. Harapannya, produktivitas meningkat, biaya produksi lebih efisien, dan ekosistem lahan tetap terjaga,” ungkap Ayu Rahmawatiningsih, yang kini bertugas Wilbin Desa Pikat.

Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan petani sebagai subjek utama dalam penerapan PHT. Penyuluh dan POPT berperan membuka pengetahuan serta memperkuat keterampilan, sementara petani didorong mampu mengambil keputusan berdasarkan hasil pengamatan di lahannya sendiri.
Sinergi penyuluh, POPT, dan petani di Subak Telaga diharapkan tidak berhenti pada rangkaian tujuh pertemuan. Lebih jauh, PPHT menjadi pijakan untuk membangun kemandirian petani dalam mengelola tanaman kedelai secara sehat, efisien, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, menjaga ekosistem bukan lagi sekadar slogan. Dari pematang hingga hamparan kedelai, petani bersama penyuluh mulai membuktikan bahwa produktivitas dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
Koresponden: Ayu Rahmawatiningsih BPP Dawan Klungkung







Komentar