DENPASAR – Cakrabuana Agritan kembali turun ke sawah. Kali ini, varietas padi unggul tersebut diuji di Subak Kerdung, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Bukan sekadar mengejar angka produksi, pengujian ini juga ingin menjawab satu pertanyaan penting, seberapa cocok varietas tersebut dengan lahan petani dan seberapa disukai nasinya oleh konsumen?
Pertanyaan itu menjadi bagian dari kegiatan Pengenalan Varietas SISUKA (Berbasis Uji Kesukaan) yang dilaksanakan UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (BPSBTPHBUN), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.

Sebanyak lima varietas padi inbrida ditanam dalam areal seluas satu hektare. Empat di antaranya merupakan varietas unggul baru (VUB), yakni Cakrabuana Agritan, Cisaat, Respati, dan Inpari VTE 13. Sementara Ciherang digunakan sebagai varietas pembanding karena masih menjadi salah satu varietas yang banyak ditanam petani di lokasi tersebut.
Masing-masing varietas ditanam pada lahan seluas 0,2 hektare. Di sinilah varietas tidak lagi berbicara melalui brosur atau angka potensi hasil. Semuanya diuji langsung di lapangan berhadapan dengan tanah, air, iklim, organisme pengganggu tanaman, dan kebiasaan budidaya petani.
Cakrabuana Paling Genjah
Dari hasil pengamatan pada fase vegetatif dan generatif, Cakrabuana Agritan menjadi varietas yang paling cepat memasuki fase berbunga.
Pada umur sekitar 78 hari setelah semai (HSS), Cakrabuana telah berbunga penuh ketika varietas lain masih mulai memasuki fase pembungaan. Karakter genjah ini menjadi salah satu daya tariknya.
Cakrabuana Agritan sendiri dilepas pada 2018 dengan umur panen sekitar 104 HSS dan rata-rata hasil sekitar 7,5 ton per hektare.
Namun, perjalanan di lapangan tidak selalu mulus. Sebagian areal Cakrabuana mengalami serangan hama tikus yang menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak seragam. Pada bagian tertentu, tanaman tampak lebih kerdil dibandingkan pertanaman di sekitarnya.

Sementara itu, Inpari VTE 13 mengalami pertumbuhan yang relatif terlambat di beberapa bagian akibat kondisi lahan yang sempat mengalami genangan air berlebih.
Justru di situlah nilai penting pengujian varietas. Potensi yang tertulis di atas kertas harus berhadapan dengan kondisi nyata di lapangan.
Bukan Sekadar Melihat Tanaman
Konsep SISUKA memiliki pendekatan yang berbeda. Petani tidak hanya diajak melihat keragaan tanaman, tetapi juga dilibatkan dalam menilai hasil akhirnya.
Setelah panen, kualitas nasi dari masing-masing varietas diuji secara organoleptik. Penilaian meliputi kenampakan, warna, aroma, tekstur, dan rasa.
Dengan demikian, varietas tidak berhenti pada pertanyaan “berapa ton hasilnya?”. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting, apakah berasnya disukai?
Kepala UPTD BPSBTPHBUN Provinsi Bali Desak Made Megandini, S.TP mengatakan, Pengenalan Varietas SISUKA diharapkan memberikan alternatif pilihan varietas unggul bagi petani yang sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat.
Menurutnya, pengujian lapangan diperlukan untuk melihat performa varietas secara langsung sekaligus mendukung penyediaan benih bermutu bagi petani.
“Petani dapat melihat langsung pertumbuhan tanaman sekaligus menguji mutu nasi dari masing-masing varietas melalui uji kesukaan, mulai dari kenampakan, warna, aroma, tekstur hingga rasa,” ujarnya.
Pendekatan tersebut membuat petani tidak sekadar menjadi penerima informasi. Mereka ikut melihat, merasakan, membandingkan, dan mendapatkan pengalaman langsung sebelum menentukan pilihan varietas yang akan dikembangkan.

Jangan Terlalu Lama Terpaku pada Satu Varietas
Penggunaan satu varietas secara terus-menerus memang memberikan kemudahan bagi petani karena karakter tanaman sudah dikenal. Namun, dalam jangka panjang, ketergantungan pada satu varietas dapat meningkatkan risiko terhadap hama dan penyakit, mempersempit keragaman genetik, serta mengurangi efektivitas ketahanan varietas.
Karena itu, pergiliran varietas menjadi salah satu strategi yang penting dalam budidaya padi.
Melalui SISUKA, petani diperkenalkan dengan sejumlah pilihan baru. Selain Cakrabuana Agritan yang memiliki rata-rata hasil sekitar 7,5 ton per hektare, Respati memiliki rata-rata hasil sekitar 7,54 ton per hektare dengan umur panen sekitar 112 HSS.
Sementara Cisaat memiliki rata-rata hasil sekitar 6,38 ton per hektare dengan umur panen sekitar 121 HSS. Adapun Inpari VTE 13 memiliki rata-rata hasil sekitar 6,6 ton per hektare dengan umur panen sekitar 121 HSS.
Sebagai pembanding, Ciherang yang telah lama dikenal petani memiliki umur panen sekitar 116–125 HSS dengan rata-rata hasil 5–7 ton per hektare.
Angka-angka tersebut tentu bukan satu-satunya pertimbangan. Kesesuaian dengan agroekosistem, kemudahan budidaya, ketahanan terhadap gangguan, serta penerimaan petani dan konsumen tetap menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan.

Dari Lahan, Petani Mendapat Jawaban
Kegiatan Pengenalan Varietas SISUKA dilaksanakan April hingga Oktober 2026. Tahapannya mencakup persiapan lokasi, pengadaan benih, persemaian, penanaman, pemeliharaan, panen, pascapanen hingga uji kesukaan.
Pengawas Benih Tanaman (PBT), penyuluh pertanian, dan petani Subak Kerdung terlibat dalam seluruh proses tersebut. Budidaya menerapkan teknologi spesifik lokasi, mulai dari pengolahan lahan, pengaturan jarak tanam, pemupukan berimbang, pengairan hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Hasil pengamatan juga menemukan persoalan lain yang tidak kalah penting, kebersihan lingkungan subak.
Sejumlah bagian areal dan saluran air masih dipenuhi sampah rumah tangga. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu kelancaran aliran air sekaligus berpotensi mendukung keberadaan tikus dan organisme pengganggu lainnya.
Karena itu, pengurus subak didorong mengajak anggota melakukan pembersihan lingkungan secara berkala. Pengendalian hama tikus juga perlu dilakukan secara terpadu.
Pada pertanaman Cakrabuana yang lebih dahulu berbunga, pemasangan jaring pengaman burung direkomendasikan untuk mengurangi potensi kehilangan hasil. Sementara pada areal Inpari VTE 13 yang mengalami genangan, perbaikan drainase dan pengaturan aliran air menjadi perhatian agar pertumbuhan tanaman dapat lebih optimal.

Varietas Boleh Unggul, Petani Tetap Penentu
SISUKA pada akhirnya bukan sekadar kegiatan memperkenalkan varietas baru.
Ia menjadi ruang pertemuan antara teknologi dan pengalaman petani. Varietas diuji di lahan, pertumbuhan diamati, gangguan dicatat, hasil dipanen, kemudian nasi dicicipi.
Di Subak Kerdung, Cakrabuana kembali mendapat panggung. Kali ini bukan untuk sekadar diperkenalkan, melainkan diuji dalam kondisi nyata dan dinilai langsung oleh mereka yang setiap hari bergelut dengan sawah.
Sebab, varietas unggul bukan hanya tentang angka produktivitas. Ia harus mampu berbicara di lahan petani dan pada akhirnya, diterima di meja makan. (Windu/DenBagus)






Komentar