TABANAN – Bertani tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan. Apalagi ketika efisiensi biaya produksi semakin menjadi perhatian petani. Karena itu, tanah perlu “diajak bicara” sebelum pupuk ditaburkan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Roadshow Uji Tanah yang digelar Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Selemadeg Barat, Tabanan berkolaborasi dengan Pupuk Indonesia, 23–25 September 2026. Kegiatan menyasar enam lokasi, meliputi subak, subak abian, dan kelompok tani.
Kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi. Penyuluh bersama petani turun langsung ke lahan untuk mengambil sampel tanah dan mengenali kondisi lahan secara lebih faktual.

Koordinator BPP Selemadeg Barat, I Made Karmayanta, SP, mengatakan uji tanah menjadi langkah penting agar pemupukan tidak lagi semata-mata didasarkan pada kebiasaan.
“Selama ini petani banyak belajar dari pengalaman. Itu penting. Tetapi pengalaman akan semakin kuat kalau didukung data. Melalui uji tanah, kita ingin petani mengetahui kondisi lahannya sehingga pemupukan dapat dilakukan lebih tepat sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah,” ujar Karmayanta.
Menurutnya, setiap lahan memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, kebutuhan pupuk tidak selalu bisa disamaratakan.
“Intinya bukan mengurangi pupuk, tetapi menggunakan pupuk secara tepat. Jangan sampai pupuk diberikan berlebihan karena kebiasaan, sementara kebutuhan tanaman dan kondisi tanah tidak diketahui,” tegasnya.

Pesan senada disampaikan pihak Pupuk Indonesia. Kolaborasi dalam roadshow tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman petani bahwa penggunaan pupuk yang efektif perlu diawali dengan mengenali kondisi lahan.
“Kami ingin mendorong petani agar semakin memahami bahwa pemupukan yang baik bukan sekadar berapa banyak pupuk yang diberikan, tetapi apakah pupuk tersebut sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanahnya. Uji tanah menjadi salah satu dasar untuk menuju pemupukan yang lebih tepat dan efisien,” ujar perwakilan Pupuk Indonesia.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian yang semakin berbasis data. Sampel tanah yang diambil dari lahan petani dianalisis untuk memperoleh informasi mengenai kondisi dan tingkat kesuburan tanah.
Data tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pemupukan.
Sebab, setiap petak sawah memiliki “cerita” yang berbeda. Ada tanah yang membutuhkan unsur tertentu lebih banyak, ada pula yang tidak memerlukannya dalam jumlah yang sama.
Maka, stop asal tabur!

Bukan berarti pupuk harus dikurangi begitu saja. Yang lebih penting, pupuk diberikan secara tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan tanaman serta kondisi tanah.
Di sinilah penyuluh hadir. Petani terlibat langsung. Pupuk Indonesia memperkuat dukungan dan edukasi. Sedangkan tanah menjadi sumber data untuk menentukan langkah berikutnya.
Dari lahan lahir data. Dari data lahir keputusan. Dan dari keputusan yang tepat, diharapkan lahir pemupukan yang lebih efisien, tanaman yang lebih sehat, serta usaha tani yang semakin menguntungkan. (Ichiro/DenBagus)






Komentar