BerandaLintas DaerahKatimker Sidak Demplot PM-AAS, Tanam Bukan Akhir Penga…
Lintas Daerah

Katimker Sidak Demplot PM-AAS, Tanam Bukan Akhir Pengawalan

Setelah benih ditanam, pekerjaan belum selesai. Di Subak Temukus, setiap rumpun padi kini menjadi objek pengamatan. Tiga varietas diuji, sementara pengawalan PM-AAS terus dilakukan agar inovasi tidak berhenti di lahan, tetapi benar-benar memberi pembelajaran bagi petani.

FacebookWhatsAppXTelegram

BULELENG – Hamparan padi di Subak Temukus, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng, menjadi ruang pembuktian inovasi budidaya. Tiga varietas padi diuji melalui demplot PM-AAS. Bukan sekadar mengejar tanaman tumbuh, tetapi mengawal setiap tahapan agar teknologi benar-benar memberi pembelajaran bagi petani.

Kegiatan monitoring dilakukan Katimker CWS Buleleng Made Sumetriani, M.P., bersama tim di lokasi demplot. Pengawalan tersebut sekaligus menjadi momentum melihat langsung perkembangan tanaman, mengevaluasi perlakuan budidaya, serta memastikan kebutuhan tanaman terpenuhi.

WhatsApp Image 2026 09 16 at 19.30.00


Demplot PM-AAS di Subak Temukus dilaksanakan pada beberapa hamparan dengan tiga varietas, yakni Inpari 32, Inpago Agritan, dan Cakrabuana.

Demplot perdana dilaksanakan 6 Agustus 2026 di lahan garapan Dewa Made Mertayasa seluas 0,7 hektare menggunakan varietas Inpari 32. Selanjutnya, 13 Agustus 2026, penanaman dilakukan di lahan garapan I Ketut Jaya Santika seluas 0,25 hektare dengan varietas Inpago Agritan.

Sehari kemudian, 14 Agustus 2026, penanaman kembali dilakukan di dua lokasi. Masing-masing di lahan garapan I Ketut Widnyana seluas 0,6 hektare dan Nyoman Sujana seluas 0,4 hektare dengan menggunakan varietas Cakrabuana.

Memasuki fase pertumbuhan, ketiga varietas mulai memperlihatkan karakter masing-masing. Warna dan bentuk daun, jumlah anakan, hingga vigor tanaman menjadi bagian yang diamati. Perbedaan tersebut menjadi bahan pembelajaran untuk melihat varietas mana yang mampu menunjukkan pertumbuhan dan adaptasi terbaik pada kondisi lahan Subak Temukus.

WhatsApp Image 2026 09 16 at 19.28.53


“PM-AAS ini tidak berhenti pada kegiatan tanam. Setelah ditanam, tanaman harus terus dikawal dan dimonitor. Kita ingin melihat bagaimana respons masing-masing varietas terhadap perlakuan yang diberikan, sekaligus memastikan pemupukan, pengendalian OPT, dan pemeliharaannya berjalan sesuai rencana,” ujar Made Metri.

Menurutnya, demplot menjadi penting karena penerapan teknologi dapat dilihat secara langsung di tingkat petani. Setiap perkembangan tanaman menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

“Kita ingin teknologi yang diterapkan benar-benar memberikan pembelajaran bagi petani. Karena itu pendampingan harus intens. Kalau ada persoalan di lapangan, jangan menunggu sampai tanaman terganggu. Segera diamati, dibahas, dan ditindaklanjuti,” tegasnya.

Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah perlakuan pemupukan. Pada budidaya normal, dosis yang digunakan sekitar 275 kilogram Urea per hektare dan 250 kilogram NPK per hektare. Sementara pada perlakuan PM-AAS digunakan 300 kilogram Urea dan 400 kilogram NPK per hektare.

WhatsApp Image 2026 09 16 at 19.26.47


Perbedaan perlakuan tersebut menjadi bagian dari pengamatan untuk melihat respons tanaman sekaligus mengevaluasi penerapan teknologi PM-AAS di lapangan.

Selain pemupukan, sejumlah perlakuan lain juga diterapkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Di antaranya aplikasi asam humat, silika, bio urine, serta pengendalian gulma menggunakan herbisida.

Penyuluh Wilbin Temukus dan Banjar Shinta Istihsan, S.P. mengatakan, perkembangan tanaman pada setiap petak terus diamati karena masing-masing varietas menunjukkan karakter pertumbuhan yang berbeda.

“Kami terus mengawal perkembangan tanaman, mulai dari jumlah anakan, kondisi daun, pertumbuhan tanaman, sampai potensi gangguan OPT. Perbedaan respons setiap varietas menjadi pembelajaran yang menarik bagi petani,” kata Shita.

Menurutnya, pendampingan langsung di lapangan membuat petani tidak hanya mengetahui hasil akhir, tetapi juga memahami proses budidayanya.

WhatsApp Image 2026 09 16 at 19.28.54 (1)


“Petani tidak hanya melihat hasil akhirnya. Mereka ikut mengikuti prosesnya. Ketika ada perbedaan pertumbuhan atau persoalan di lapangan, kami bisa langsung berdiskusi dan menentukan tindakan yang diperlukan,” ujarnya.

Pendampingan turut melibatkan PPL Wilbin, Babinsa Desa Temukus, dan petani pelaku demplot. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan setiap tahapan budidaya berjalan sesuai rencana.

Bagi petani, demplot bukan hanya hamparan tanaman percobaan. Di tempat inilah teknologi diperkenalkan sekaligus diuji dalam kondisi nyata. Perkembangan tanaman diamati, persoalan dibahas, dan setiap perlakuan menjadi pengalaman yang dapat dipelajari bersama.

Pada akhirnya, keberhasilan PM-AAS tidak semata diukur dari berapa hektare lahan yang ditanami. Lebih dari itu, bagaimana teknologi dikawal hingga petani memahami prosesnya, melihat respons tanaman, dan memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan pada lahan mereka.

WhatsApp Image 2026 09 16 at 19.28.54


Di Subak Temukus, tanam hanyalah awal. Pengawalan, pendampingan, dan evaluasi menjadi bagian penting untuk memastikan inovasi tidak berhenti sebagai program, tetapi benar-benar tumbuh menjadi praktik budidaya yang memberi manfaat bagi petani.

Dari petak demplot, pembelajaran dimulai. Dari pengawalan yang intensif, diharapkan lahir budidaya padi yang semakin optimal dan produktif.

Koresponden: Shinta BPP Bajar Buleleng

Ditulis oleh

perhiptani

Lihat artikel penulis →
DISKUSI

Komentar