BULELENG — Musim kemarau identik dengan satu persoalan klasik bagi peternak: pakan. Ketika rumput mulai sulit didapat, kebutuhan pakan sapi tetap berjalan setiap hari. Tak bisa ditunda, apalagi dihentikan.
Persoalan itulah yang dirasakan anggota Kelompok Tani Ternak (KTT) Kembang Merta Jati, Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Dengan populasi sekitar 30 ekor sapi, ketersediaan pakan menjadi kebutuhan penting, terutama ketika hijauan mulai menipis.
Masalah tersebut kemudian dibahas dalam rapat kelompok. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Selat I Dewa Nyoman Darmayasa, S.P., M.P., melakukan Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk menggali langsung persoalan dan kebutuhan yang dihadapi anggota.

Dari proses tersebut, persoalan pakan saat musim kemarau muncul sebagai salah satu kebutuhan utama. Selain pakan, peternak juga menghadapi persoalan kesehatan dan kenyamanan ternak akibat gangguan cacing dan lalat.
Dari sinilah pendampingan diarahkan. Bukan sekadar kegiatan, tetapi berdasarkan kebutuhan yang benar-benar dirasakan peternak.
Anggota KTT Kembang Merta Jati mendapatkan bantuan obat cacing dan obat pengendali lalat. Mereka juga mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Silase, sebagai salah satu alternatif penyediaan pakan ketika rumput segar sulit diperoleh.
Dalam bimtek tersebut, peternak belajar mengolah bahan yang relatif mudah ditemukan, seperti jerami, dedak, molase dan EM4. Bahan dicampur dengan komposisi yang sesuai, kemudian difermentasi dalam kondisi kedap udara selama kurang lebih dua minggu.
Setelah proses fermentasi selesai, silase dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Teknologinya sederhana. Namun bagi peternak, manfaatnya bisa panjang. Jerami yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini memiliki nilai guna sebagai cadangan pakan.

Konsepnya sederhana: pakan tidak lagi dicari ketika rumput sudah sulit. Sebaliknya, pakan disiapkan sebelum kebutuhan mendesak datang.
Karena itu, silase bagi KTT Kembang Merta Jati bukan sekadar hasil sebuah pelatihan. Ia diharapkan menjadi semacam “tabungan pakan” disiapkan saat bahan masih tersedia dan digunakan ketika hijauan mulai terbatas.
Ketua KTT Kembang Merta Jati, Ketut Ngartina, mengatakan persoalan pakan memang menjadi salah satu kendala yang cukup dirasakan anggota.
“Selama ini kalau musim kemarau, mencari pakan cukup sulit. Dengan adanya bimtek silase ini, kami mendapat pengetahuan baru bagaimana jerami yang sebelumnya kurang dimanfaatkan bisa disimpan dan digunakan sebagai pakan. Harapannya anggota bisa menerapkannya, terutama untuk persiapan menghadapi musim kemarau.”

Sementara itu, Darmayasa, menegaskan bahwa pendampingan dilakukan berdasarkan kebutuhan kelompok.
“Kami tidak ingin kegiatan hanya sekadar pelatihan. Melalui PRA, kami menggali dulu apa yang menjadi masalah dan kebutuhan anggota. Dari sana terlihat bahwa pakan menjadi salah satu kendala utama, sehingga kami arahkan pada teknologi silase. Bantuan obat cacing dan pengendali lalat juga diberikan sesuai kebutuhan peternak.”
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa PRA bukan berhenti pada pengumpulan data. Lebih dari itu, PRA menjadi pintu masuk untuk menentukan bentuk pendampingan yang tepat dan benar-benar dibutuhkan peternak.
Dari persoalan pakan, lahirlah solusi sederhana. Jerami tidak dibiarkan terbuang, tetapi diolah, difermentasi, lalu disimpan untuk menghadapi masa ketika rumput sulit didapat.

Bagi sekitar 30 ekor sapi di KTT Kembang Merta Jati, langkah itu mungkin terlihat sederhana. Namun dari langkah sederhana tersebut, ada satu pesan penting, menghadapi kemarau bukan hanya soal mencari pakan ketika rumput mulai menipis, tetapi menyiapkannya sejak jauh hari. (DND/DenBagus)






Komentar