Harga Semangka Anjlok, Pekaseh Turun Tangan Selamatkan Petani
Harga semangka di tingkat petani kembali merosot saat panen raya. Untuk mencegah petani merugi, Pekaseh Subak Sidakarya, Denpasar Selatan, turun tangan menyerap hasil panen anggota subak dengan harga yang lebih layak sebelum dipasarkan kembali melalui Bale Subak.
Harga Semangka Anjlok, Pekaseh Turun Tangan Selamatkan Petani
DENPASAR – Harga semangka di tingkat petani kembali merosot saat panen raya. Untuk mencegah petani merugi, Pekaseh Subak Sidakarya, Denpasar Selatan, turun tangan menyerap hasil panen anggota subak dengan harga yang lebih layak sebelum dipasarkan kembali melalui Bale Subak.
Langkah tersebut dirasakan langsung oleh I Wayan Mastra, petani asal Sidakarya yang musim tanam kali ini membudidayakan berbagai komoditas di lahan seluas 20 are. Sebanyak 7 are ditanami semangka nonbiji, 7 are semangka varietas Inden Kuning, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk menanam cabai, kacang panjang, dan aneka bunga.
Namun, hasil panen semangka kali ini belum sesuai harapan. Selain harga jual yang turun, produktivitas buah juga dipengaruhi keterbatasan pasokan air selama masa pertumbuhan.
"Panen kali ini harganya lebih murah dari target. Buahnya juga ada yang kurang maksimal karena sempat kesulitan air," ujar Mastra.
Ia menjelaskan, harga semangka varietas Inden Kuning hanya mencapai sekitar Rp2.000 per kilogram, sedangkan semangka nonbiji berada pada kisaran Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Dengan produktivitas rata-rata sekitar 14 ton per hektare atau sekitar 130 kilogram per are, penurunan harga tersebut cukup menggerus pendapatan petani.
"Saat harga semangka turun, kami tidak ingin petani menjual hasil panennya dengan harga yang terlalu rendah. Karena itu, Subak Sidakarya melalui Bale Subak berupaya menyerap hasil panen anggota dengan harga yang lebih layak. Ini merupakan bentuk gotong royong agar petani tetap memperoleh keuntungan dan terus semangat berproduksi," ujar Pekaseh Subak Sidakarya, Made Redika.
Melihat kondisi tersebut, Pekaseh Subak Sidakarya Made Redika mengambil inisiatif membeli hasil panen anggota subak dengan harga yang lebih pantas dibandingkan harga yang ditawarkan tengkulak. Selanjutnya, semangka dipasarkan kembali melalui Bale Subak agar nilai jual tetap memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani.
Menurut Made Redika, langkah tersebut merupakan bentuk gotong royong subak dalam menjaga keberlangsungan usaha tani anggotanya, terutama ketika harga pasar sedang tidak berpihak kepada petani.
Meski pendapatan dari semangka menurun, Mastra masih memperoleh tambahan penghasilan dari komoditas lain yang ditanam sebagai strategi diversifikasi usaha tani.
Tanaman kacang panjang menghasilkan sekitar 10 kilogram setiap panen dengan harga pasar berkisar Rp8.000–Rp10.000 per kilogram. Panen dilakukan setiap dua hari sekali dan dapat berlangsung hingga 10–15 kali selama satu musim tanam.
Sementara itu, dari sekitar ada 400 tanaman cabai, panen perdana menghasilkan sekitar 2,5 kilogram. Produksi terus meningkat hingga dua kali lipat pada panen berikutnya dan mulai stabil rata-rata 7 kilogram per petikan sejak panen ketujuh. Harga cabai di tingkat petani saat ini berkisar Rp35.000–Rp40.000 per kilogram.
Diversifikasi tanaman tersebut menjadi penyangga pendapatan ketika harga salah satu komoditas jatuh. Di sisi lain, langkah Subak Sidakarya menyerap hasil panen anggota menunjukkan bahwa kelembagaan subak tidak hanya berperan mengatur irigasi, tetapi juga hadir sebagai solusi ekonomi bagi petani saat menghadapi gejolak harga. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0