Sempat Galau Jadi Penyuluh, Kini Putri Asyik Dampingi Kelompok Tani
Senyum Made Rizki Putri Dinanti tak pernah lepas saat menyusuri pematang sawah di Desa Samplangan. Di balik keramahan penyuluh muda itu, tersimpan kisah perjuangan menaklukkan rasa takut sebelum akhirnya menjadi pendamping petani yang diandalkan.
"Sempat Galau Jadi Penyuluh, Kini Putri Asyik Dampingi Kelompok Tani"
GIANYAR – Pagi baru saja menghangat ketika sosok perempuan bertopi lebar itu menyusuri pematang sawah di Desa Samplangan, Gianyar. Sesekali ia berhenti, membungkuk mengamati rumpun padi, lalu berbincang dengan petani mengenai kondisi tanaman yang baru ditanam. Tak ada kesan canggung. Senyumnya mengalir, obrolannya akrab, dan langkahnya begitu lincah berpindah dari satu petak sawah ke petak lainnya.
Di sela kesibukannya melakukan pengamatan pertanaman padi, Made Rizki Putri Dinanti, S.TP, menyempatkan diri berbincang dengan awak media Perhiptani Bali. Sulit membayangkan, perempuan yang kini begitu menikmati pekerjaannya sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) itu ternyata pernah merasa sangat galau saat pertama kali ditugaskan turun ke sawah.
"Jujur, waktu pertama mendapat penempatan sebagai PPL saya galau sekali. Saya takut, apakah bisa beradaptasi di lapangan, diterima petani, dan menjalankan tugas ini dengan baik," kenang Putri sambil tersenyum mengingat masa-masa awal pengabdiannya.
Perempuan kelahiran Sumbawa Besar itu sebenarnya bukan orang baru di dunia pertanian. Ia merupakan alumnus Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Universitas Udayana, tahun 2014. Namun, selepas kuliah kariernya justru lebih banyak bergelut di balik meja sebagai staf keuangan di Dinas Pertanian. Perubahan ritme kerja dari ruangan berpendingin udara menuju hamparan sawah menjadi tantangan yang sempat membuatnya ragu.
Namun Putri memilih tidak larut dalam kegelisahan. Ia mendatangi para penyuluh senior untuk belajar langsung mengenai dunia penyuluhan. Beruntung, ia mendapat pendampingan dari Ni Nyoman Apriani, SP, yang dengan sabar membimbingnya memahami teknik penyuluhan sekaligus membangun komunikasi dengan petani.
"Kuncinya mau belajar dan mau mendengar. Dari para senior saya banyak belajar bagaimana mendekati petani, memahami karakter mereka, sampai menyampaikan teknologi dengan cara yang mudah diterima," ujarnya.
Proses belajar itu perlahan mengubah rasa takut menjadi kepercayaan diri. Kini Putri dipercaya mendampingi kelompok tani di wilayah binaan Desa Samplangan dan Desa Tegal Tugu, wilayah kerja BPP Gianyar. Hampir setiap hari ia turun ke lapangan, mulai dari memantau pertumbuhan tanaman, memberikan penyuluhan budidaya, hingga mendampingi petani memanfaatkan alat dan mesin pertanian modern seperti power sprayer agar pekerjaan lebih efisien.
Baginya, penyuluh bukan sekadar penyampai teknologi. Penyuluh harus hadir sebagai sahabat petani, mendengarkan persoalan mereka, lalu bersama-sama mencari solusi. Filosofi itulah yang membuat kehadirannya kini begitu diterima oleh kelompok tani di wilayah binaannya.
Dari perempuan yang sempat takut menginjak sawah, Putri menjelma menjadi penyuluh yang menikmati setiap langkah di pematang. Sawah yang dulu terasa asing kini menjadi ruang belajar sekaligus tempatnya mengabdi. Dan di sanalah, di antara hijaunya tanaman padi dan hangatnya sapaan petani, Putri menemukan panggilan profesinya yang sesungguhnya. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0