“Inovasi tidak selalu lahir dari teknologi modern dan mahal…”

Inovasi tidak selalu lahir dari teknologi mahal. Di Desa Bona, Gianyar, seorang petani penangkar benih berhasil menyulap drum bekas menjadi alat pembersih gabah (seed cleaner) yang mampu meningkatkan kebersihan gabah hingga sekitar 90 persen.

Mar 15, 2026 - 04:39
Mar 15, 2026 - 04:45
 0  73
“Inovasi tidak selalu lahir dari teknologi modern dan mahal…”

“Inovasi tidak selalu lahir dari teknologi modern dan mahal…”

Kreativitas petani kembali melahirkan inovasi teknologi tepat guna di sektor pertanian. Seorang petani penangkar benih di Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, berhasil merakit alat pembersih gabah atau seed cleaner sederhana yang murah, praktis, namun efektif membantu proses pengolahan benih padi.

Adalah I Gusti Ngurah Sura Adnyana, petani penangkar benih dari Subak Gunung Carik, yang menciptakan alat rakitan tersebut. Dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana, ia mampu menghadirkan alat pembersih gabah yang efisien dan mudah diaplikasikan oleh petani skala kecil hingga menengah.

Alat ini dibuat dari lima batang kayu usuk albesia, satu kilogram paku, drum bekas, kipas angin serta corong plastik sebagai bagian dari sistem pemisah gabah. Meski sederhana, alat tersebut mampu bekerja optimal dalam membersihkan gabah dari kotoran, sekam, maupun gabah hampa.

Menariknya, biaya pembuatan alat ini tergolong sangat terjangkau. “Total biaya yang dikeluarkan tidak lebih dari sekitar Rp350 ribu, tetapi manfaatnya sangat membantu proses pembersihan benih,” ujar Adnyana saat ditemui di gudang perbenihan Pertiwi Nuswantoro, Jalan Raya Kresna, Gang Krisna, Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar.

Alat ini bekerja dengan memanfaatkan aliran udara atau blower sederhana yang mampu memisahkan gabah bernas dari kotoran ringan. Dengan metode tersebut, tingkat kebersihan gabah yang dihasilkan dapat mencapai sekitar 90 persen.

Menurut Adnyana, proses processing atau pengolahan benih kerap menjadi kendala bagi produsen benih skala kecil hingga menengah. Keterbatasan sarana dan peralatan sering menyebabkan tingginya kehilangan hasil (losses) serta menurunnya mutu benih yang dihasilkan.

“Di lapangan kami sering menghadapi persoalan pengeringan dan pembersihan benih, terutama saat panen raya. Fasilitas seperti lantai jemur dan terpal sering tidak mencukupi, apalagi saat musim hujan,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterbatasan sarana pengeringan juga membuat petani kerap menunda proses penanganan pascapanen di lapangan. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas benih berisiko menurun karena sangat bergantung pada kondisi cuaca.

UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Dwi Wahyuni, S.TP., M.Si., mengapresiasi inovasi yang lahir dari petani tersebut. Menurutnya, teknologi sederhana yang dikembangkan langsung dari kebutuhan lapangan memiliki potensi besar untuk membantu meningkatkan mutu benih padi.

“Inovasi seperti ini sangat kami apresiasi karena lahir langsung dari kebutuhan petani. Teknologi sederhana namun tepat guna mampu membantu proses processing benih sekaligus meningkatkan kualitas hasil,” ujarnya.

Ia menilai kreativitas petani dalam merakit alat pembersih gabah tersebut menjadi bukti bahwa peningkatan kualitas benih tidak selalu harus bergantung pada mesin modern yang mahal.

“Dengan biaya yang relatif terjangkau, petani sudah mampu membuat alat yang fungsinya mendekati mesin pembersih modern. Ini tentu sangat membantu penangkar benih skala kecil dan menengah,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Ketua Harian DPW Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb. Ia menilai inovasi petani tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas di tingkat lapangan mampu melahirkan solusi nyata bagi persoalan pertanian.

“Inovasi petani seperti ini patut diapresiasi dan didorong untuk terus berkembang. Dengan biaya yang relatif murah namun fungsional, alat ini bisa menjadi solusi bagi penangkar benih skala kecil agar tetap mampu menghasilkan benih berkualitas,” ujarnya.

Menurutnya, Perhiptani Bali selama ini terus mendorong lahirnya berbagai inovasi dan terobosan di sektor pertanian, terutama yang berangkat dari pengalaman serta kebutuhan nyata petani di lapangan.

“Penyuluh pertanian memiliki peran penting dalam menjembatani ide dan pengalaman petani dengan pengembangan teknologi tepat guna. Ketika inovasi lokal seperti ini muncul, tentu harus kita dorong agar bisa direplikasi di wilayah lain,” tegasnya.

Ia berharap inovasi sederhana namun berdampak besar tersebut dapat menjadi inspirasi bagi petani lainnya untuk terus berkreasi menciptakan teknologi murah, efisien, dan aplikatif demi meningkatkan kualitas hasil pertanian. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 6
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0