Kopi Wanagiri Naik Kelas, Teknologi dan Zero Waste Jadi Senjata

Dari lereng hijau Wanagiri, Buleleng, lahir gerakan baru petani kopi berbasis teknologi dan ekonomi hijau. Lewat inovasi edible coating dan konsep zero waste, petani tak hanya menghasilkan kopi berkualitas, tetapi juga mengubah limbah menjadi sumber nilai ekonomi baru.

May 12, 2026 - 05:30
 0  103
Kopi Wanagiri Naik Kelas, Teknologi dan Zero Waste Jadi Senjata

Kopi Wanagiri Naik Kelas, Teknologi dan Zero Waste Jadi Senjata

Hamparan kebun kopi di lereng Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, kini tak sekadar menjadi tempat petani memanen hasil kebun. Dari kawasan perbukitan berhawa sejuk itu, petani mulai membangun model pertanian kopi modern berbasis teknologi, keberlanjutan, dan ekonomi hijau.

Kelompok Tani Leket Sari dan Kelompok Tani Jagrawana menjadi pusat pengembangan program pemberdayaan petani kopi melalui skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK) bertajuk PM_UPUD Penanganan Pascapanen Kopi melalui Aplikasi Coating dengan Konsep Zero Waste untuk Menunjang Green Economy.

Program tersebut merupakan kolaborasi Universitas Warmadewa bersama Institut Teknologi Kesehatan Bali yang diketuai Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, MSi bersama tim, yakni Ir. I Nyoman Kaca, M.P., Ir. A.A. Ngurah Mayun Wirajaya, M.M., dan I Gusti Agung Yogi Rabani R.S., STP, M.Si. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa dalam pendampingan langsung kepada petani di lapangan.

Program pengabdian masyarakat yang telah berjalan selama tiga tahun itu didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Tahun 2026 menjadi tahun terakhir pelaksanaan program dengan fokus penguatan teknologi pascapanen dan pengelolaan limbah kopi.

Pada kegiatan petik merah kopi yang berlangsung Sabtu (9/5/2026), petani diperkenalkan pada sistem penanganan pascapanen yang lebih terarah. Dari hasil pendampingan diketahui, untuk menghasilkan satu kilogram kopi berkualitas dibutuhkan sekitar 335 biji kopi pilihan.

Di lahan perbukitan dengan populasi sekitar 800 hingga 900 pohon per hektare, setiap pohon bahkan mampu menghasilkan hingga dua kilogram kopi saat musim panen.

Namun kekuatan utama program ini bukan hanya pada produktivitas, melainkan inovasi teknologi yang diterapkan. Melalui teknologi edible coating, biji kopi diberikan lapisan berbahan alami untuk menjaga kualitas produk, memperpanjang masa simpan, sekaligus meningkatkan nilai jual kopi petani.

Konsep pertanian hijau juga diterapkan melalui pendekatan zero waste. Limbah kulit kopi yang sebelumnya terbuang kini diolah menjadi pupuk organik dan pakan ternak sehingga seluruh hasil panen memiliki nilai manfaat ekonomi.

Sebagai dukungan penguatan usaha tani, kelompok petani juga menerima bantuan mesin penggiling kopi bubuk, mesin pengolah kulit kopi, hingga alat sealer kemasan. Pendampingan desain label produk dan fasilitasi perizinan turut dilakukan agar kopi lokal Wanagiri mampu menembus pasar yang lebih luas.

Ketua Kelompok Tani Leket Sari, Ketut Ngembeng, mengaku program tersebut membawa perubahan besar terhadap pola pikir petani.

“Dulu petani hanya fokus panen lalu menjual hasil. Sekarang kami belajar bagaimana kopi diolah dengan baik, limbah dimanfaatkan, dan produk memiliki nilai jual lebih tinggi. Petani jadi lebih kreatif dan mandiri,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator BPP Sukasada, Mohammad Hanan, SP. menilai program tersebut menjadi contoh nyata sinergi dunia pendidikan dengan petani dalam membangun pertanian masa depan yang berkelanjutan.

“Program ini bukan hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran pentingnya pertanian ramah lingkungan. Potensi kopi Wanagiri sangat besar dan bisa berkembang melalui konsep green economy seperti ini,” katanya.

Melalui sosialisasi konsep zero waste, pelatihan teknik coating, hingga diskusi berbagai tantangan budidaya dan pascapanen, petani kopi Wanagiri diharapkan semakin inovatif, adaptif, dan memiliki daya saing tinggi.

Dari lereng Wanagiri, para petani kini membuktikan bahwa kopi bukan sekadar komoditas, melainkan jalan menuju kemandirian ekonomi hijau yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.

Koresponden: DND
Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0