“BERANI” Lahan Bera Jadi Cuan
Didampingi penyuluh BPP Blahbatuh, inovasi bawang merah di Subak Celuk tembus ajang Swacitta Nugraha Provinsi Bali dan jadi sorotan.
“BERANI” Lahan Bera Jadi Cuan
Ajang Swacitta Nugraha Provinsi Bali kembali memantik lahirnya ide-ide segar dari akar rumput. Selasa (7/4/2026), panggung inovasi itu digelar di Mall Pelayanan Publik Kabupaten Gianyar. Enam sektor unjuk gigi mulai UMKM, kelautan dan perikanan, pertanian, pariwisata, industri, hingga sosial semuanya membawa satu misi. Mengubah potensi jadi nilai tambah.
Sorotan tajam justru datang dari sektor pertanian. Komang Wirama Putra, petani muda dari Desa Medahan, Blahbatuh, tampil percaya diri membawa inovasi “BERANI” (Bera Produktif Inovasi Bawang Merah). Bukan sekadar konsep, tapi solusi nyata yang langsung menyentuh persoalan klasik petani. Lahan bera yang menganggur.
Di kawasan Subak Celuk, lahan bera 4–5 hektare kerap tak tersentuh setiap musim akibat sistem pengaturan air sorog. Bagi sebagian petani, ini dianggap risiko. Tapi bagi Wirama, ini peluang.
Lewat “BERANI”, lahan tidur disulap jadi ladang bawang merah bernilai tinggi. Hasilnya tak main-main. Produktivitas naik, pendapatan petani ikut terdongkrak.
“Ini soal cara pandang. Lahan bera bukan masalah, tapi potensi. Bawang merah terbukti tetap bisa tumbuh optimal meski air terbatas,” tegasnya saat pemaparan.
Namun, keberhasilan ini bukan hasil kerja sendiri. Di balik inovasi “BERANI”, ada peran penting penyuluh pertanian dari BPP Blahbatuh yang setia mendampingi sejak awal.
Koordinator BPP Blahbatuh, Ni Kadek Sintya Dewi, SP., mengaku ikut merasakan ketegangan saat Komang Wirama tampil di hadapan dewan juri.
“Jujur kami ikut deg-degan. Karena ini bukan hanya tentang lomba, tapi bagaimana inovasi petani bisa diakui dan memberi dampak lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, pendampingan penyuluh menjadi kunci agar inovasi petani tidak berhenti di ide, tetapi benar-benar bisa diterapkan dan berkembang.
Inovasi ini bukan hanya cerdas, tapi juga kontekstual lahir dari persoalan riil di lapangan. Tak heran, tim juri dari Badan Riset dan Inovasi Daerah Bali dan akademisi Universitas Udayana memberi perhatian khusus. Penilaian menitikberatkan pada kebaruan, dampak, keberlanjutan, hingga peluang direplikasi di daerah lain.
Ajang ini menjadi bukti, inovasi tak harus lahir dari laboratorium. Dari tangan petani pun, perubahan bisa digerakkan. Pemerintah Provinsi Bali berharap, langkah kecil seperti “BERANI” bisa menjadi efek domino menginspirasi lahirnya inovasi-inovasi lain yang adaptif, membumi, dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Koresponden: Sintya
Editor; JikWid
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
1