Jaga Cicih Gondrong, Bali Lahirkan Sri Sedana

Pelestarian plasma nutfah Bali terus melahirkan inovasi baru. Dari proses pemuliaan padi lokal selama enam tahun, lahir varietas Sri Sedana yang menggabungkan cita rasa khas padi lokal dengan produktivitas lebih tinggi untuk mendukung pengembangan pertanian organik di Bali.

May 25, 2026 - 05:25
May 25, 2026 - 06:06
 0  4
Jaga Cicih Gondrong, Bali Lahirkan Sri Sedana

Jaga Cicih Gondrong, Bali Lahirkan Sri Sedana

Pelestarian plasma nutfah Bali terus mendapat perhatian serius. Hal itu terlihat dalam panen perdana padi lokal Sri Sedana yang dilaksanakan di Subak Kumbuh, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Minggu, (24/5). Salah satu varietas padi lokal khas Bali, “Cicih Gondrong” asal Sudaji, Buleleng, dinilai harus tetap dijaga keasliannya sebagai sumber benih dan aset genetik daerah.

Namun upaya pelestarian tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan kemurnian varietas. Inovasi juga terus dikembangkan melalui proses pemuliaan alami dengan mengawinkan varietas lokal yang memiliki keunggulan berbeda.

Ketua Yayasan Asosiasi Organik Bali Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, MS, menjelaskan bahwa padi lokal Cicih Gondrong digunakan sebagai pejantan atau sumber serbuk sari, kemudian dikawinkan dengan padi lokal Ngaos Rinjani sebagai induk betina.

“Dua varietas lokal ini memiliki karakter unggul masing-masing. Dari proses persilangan tersebut lahirlah padi lokal Sri Sedana,” ujarnya saat panen perdana.

Sri Sedana memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan varietas sebelumnya. Selain umur panen yang lebih singkat, padi tersebut menghasilkan anakan lebih banyak dengan karakter nasi pulen dan aroma yang mendekati Cicih Gondrong.

Padi Sri Sedana merupakan hasil persilangan galur Cicih Gondrong Sudaji dengan Ngaos Rinjani yang saat ini masih dalam proses pendaftaran varietas. Jika Cicih Gondrong membutuhkan waktu panen sekitar enam bulan, Sri Sedana dapat dipanen pada umur 112 hari.

Dari hasil pengamatan lapangan, varietas tersebut menunjukkan kinerja yang cukup menjanjikan. Jumlah anakan mencapai sekitar 20 batang per rumpun dengan jumlah bulir rata-rata 158 per malai. Tinggi tanaman berkisar 67–80 sentimeter, panjang daun bendera mencapai 34–48 sentimeter, sedangkan berat 1.000 butir mencapai 29 gram.

Produktivitas rata-rata Bali saat ini mencapai sekitar 6,2 ton per hektar. Sedangkan berdasarkan hasil ubinan Sri Sedana pada 20 Mei, hasil pengamatan lapangan menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Dari hasil ubinan sebesar 7,1 kilogram, potensi produksi tercatat setara 11,36 ton per hektare. Setelah memperhitungkan faktor koreksi lapangan sebesar 15 persen, potensi hasil diperkirakan masih mampu mencapai sekitar 9,65 ton per hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dr. I Wayan Sunada, SP., M.Agb., menyambut baik pengembangan varietas lokal tersebut. Menurutnya, penguatan padi lokal harus terus didorong melalui pengembangan dan pendaftaran varietas agar memiliki kepastian identitas dan manfaat yang lebih luas bagi petani.

“Padi lokal perlu terus dikembangkan dan didaftarkan menjadi varietas. Dengan begitu penerapan pertanian padi organik di Bali semakin berkembang. Harapannya produksi tidak turun, tapi malah meningkat,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari sisi produktivitas, Bali masih menunjukkan capaian yang cukup tinggi secara nasional. Oleh karena itu inovasi berbasis padi lokal dipandang sebagai langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan alih fungsi lahan, peningkatan jumlah penduduk, hingga pertumbuhan sektor pariwisata.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar yang mewakili Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ni Made Yuliani Putri, SP., M.Agb., mengatakan mendukung varietas padi lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian benih di tingkat petani.

“Pemerintah Kabupaten Gianyar mendukung pengembangan padi lokal seperti Sri Sedana. Ke depan, kami juga memiliki kegiatan yang berkaitan dengan penangkaran dan penguatan program mandiri benih sehingga kebutuhan benih berkualitas dapat terpenuhi secara berkelanjutan oleh petani,” ujarnya.

Meski demikian, sejumlah tantangan budidaya masih ditemukan, mulai serangan tikus, wereng coklat hingga walang sangit yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Panen perdana tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, perwakilan BRIN, BBRMP, BPSB Provinsi Bali, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kelsi Bali, Katimker Penyuluhan Kabupaten Gianyar, jajaran penyuluh pertanian BPP Ubud serta petani setempat. (JikWid/Arya)

What's Your Reaction?

Like Like 2
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0