Rully, Jembatan Inovasi bagi Petani Usia Senja
Usia para petani di Subak Petangan, Denpasar Utara, rata-rata tak lagi muda. Sebagian bahkan telah memasuki usia senja. Namun keterbatasan usia tak menjadi penghalang mereka belajar teknologi baru. Di balik semangat itu, ada sosok penyuluh pertanian, Rully Fitri Sianti Dewi, S.Pt., M.P., yang sabar mendampingi petani dari satu petak lahan ke petak lainnya untuk mengenal budidaya bawang merah asal biji atau True Shallot Seed (TSS).
Rully, Jembatan Inovasi bagi Petani Usia Senja
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pertanian, tidak semua petani langsung menerima perubahan. Apalagi bagi petani yang telah puluhan tahun mengolah lahan dengan cara-cara yang diwariskan turun-temurun. Namun, di sinilah peran penyuluh pertanian menjadi sangat penting: menjembatani inovasi dengan pengalaman lapangan.
Sosok itu terlihat pada diri Rully Fitri Sianti Dewi, S.Pt., M.P., penyuluh pertanian BPP Denpasar utara ini membina wilayah Desa Ubung Kaja, Kelurahan Ubung, dan Desa Pemecutan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara. Dengan karakter teliti, tekun, dan sabar yang identik dengan zodiak Virgo, Rully memilih mendampingi petani secara langsung di lahan daripada sekadar menyampaikan teori di ruang pertemuan.
Sebagai jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB), Rully Fitri Sianti Dewi membawa bekal ilmu dan semangat inovasi ke tengah-tengah petani binaannya di Subak Petangan, Denpasar Utara. Tantangan terbesarnya justru datang dari kelompok tani yang sebagian besar berusia senja. Berbekal pengalaman puluhan tahun, mereka tentu tidak mudah menerima perubahan. Namun dengan kesabaran dan ketelatenan, Rully perlahan membangun kepercayaan petani untuk mengenal dan mencoba teknologi baru, termasuk budidaya bawang merah asal biji (TSS).
Alih-alih memaksa, Rully memilih pendekatan persuasif. Ia hadir di tengah petani, mendengarkan keluhan mereka, berdiskusi dari satu petak lahan ke petak lainnya, dan menunjukkan langsung manfaat inovasi yang diperkenalkan.
Pendekatan tersebut tampak saat ia mengawal demplot bawang merah dengan teknologi True Shallot Seed (TSS) atau bawang merah asal biji. Teknologi ini masih tergolong baru bagi sebagian petani yang selama ini terbiasa menggunakan umbi sebagai bahan tanam.
Pada awalnya, tidak sedikit petani yang ragu. Mereka khawatir hasilnya tidak sesuai harapan. Namun Rully tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Ia terus mendampingi mulai dari penyemaian, penanaman, pemeliharaan hingga evaluasi pertumbuhan tanaman di lapangan.
Baginya, keberhasilan inovasi bukan ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, melainkan sejauh mana petani memahami dan percaya terhadap teknologi tersebut.
Dalam setiap kunjungan lapang, Rully selalu berupaya membangun komunikasi yang hangat. Ia menghargai pengalaman para petani senior sekaligus perlahan memperkenalkan cara-cara baru yang lebih efisien dan produktif. Pendekatan inilah yang membuat petani merasa nyaman untuk belajar dan mencoba.
Di tengah terik matahari dan hamparan tanaman bawang merah, sosok Rully kerap terlihat berdiskusi dengan petani satu per satu. Baginya, penyuluhan bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan proses pendampingan yang membutuhkan kesabaran, empati, dan ketelatenan.
Kehadirannya menjadi bukti bahwa modernisasi pertanian tidak selalu dimulai dari alat-alat canggih, tetapi dari kemauan untuk mendampingi petani secara konsisten. Melalui tangan-tangan penyuluh seperti Rully Fitri Sianti Dewi, inovasi pertanian dapat diterima oleh semua kalangan, termasuk para petani yang telah memasuki usia senja.
Di Subak Petangan, ia tidak hanya mengajarkan teknologi TSS. Ia juga menumbuhkan keyakinan bahwa belajar tidak mengenal usia. Sebab bagi petani dan penyuluh, semangat berinovasi adalah benih yang harus terus ditanam demi masa depan pertanian yang lebih maju. (Jikwid)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0