Dua Dekade Jadi Pekaseh, Made Pagiartha Menjaga Napas Renon

Ketika banyak sawah di Kota Denpasar berubah menjadi permukiman dan bangunan, Made Pagiartha justru memilih tetap berdiri di pematang. Hampir dua dekade terakhir, pekaseh Subak Renon itu menjadi salah satu penjaga terakhir napas pertanian di kawasan Renon yang luas sawahnya terus menyusut dari 50 hektare menjadi sekitar 30 hektare.

Jun 12, 2026 - 09:48
 0  28
Dua Dekade Jadi Pekaseh, Made Pagiartha Menjaga Napas Renon

Dua Dekade Jadi Pekaseh, Made Pagiartha Menjaga Napas Renon

Lahir dan besar di Renon, Denpasar, Made Pagiartha menghabiskan masa pendidikannya mulai SD hingga SMA di Dwijendra. Setelah menamatkan sekolah, ia sempat menekuni profesi sebagai pemborong bangunan.

Namun, peristiwa Bom Bali yang mengguncang sektor ekonomi dan pariwisata membuat arah hidupnya berubah. Pagiartha memutuskan kembali ke sawah, meneruskan pekerjaan yang telah lama dikenalnya sejak kecil.

Keputusan itu menjadi titik balik kehidupannya. Dengan tekun, ia menggarap lahan sawah milik petani lain hingga mencapai tujuh hektare yang tersebar sampai kawasan Subak Intaran Barat, Sanur.

Tidak hanya padi, sejak 1998 Pagiartha juga menekuni budidaya bawang merah. Luas garapannya pernah mencapai sekitar tiga hektare hingga kawasan Subak Kepaon. Dari komoditas hortikultura tersebut, ia merasakan hasil yang cukup menjanjikan.

"Pelan-pelan dari hasil bertani bawang, saya bisa membeli tanah sendiri seluas 10 are di Renon," ujar Pagiartha saat ditemui awak media Perhiptani Bali.

Kepercayaan masyarakat kepadanya terus tumbuh. Pada 2006, ia didaulat menjadi Pekaseh Subak Renon dan amanah itu masih diembannya hingga sekarang.

Di bawah kepemimpinannya, Subak Renon terus berupaya mempertahankan eksistensi pertanian di tengah pesatnya pembangunan Kota Denpasar. Namun tantangan yang dihadapi tidak ringan. Luas sawah Subak Renon yang dahulu mencapai sekitar 50 hektare kini tersisa sekitar 30 hektare dengan jumlah anggota sebanyak 66 orang.

"Alih fungsi lahan memang menjadi tantangan terbesar kami. Tetapi selama masih ada petani yang bertahan, subak harus tetap hidup," katanya.

Saat ini, pria yang juga dipercaya sebagai Koordinator Pekaseh Denpasar Selatan itu masih aktif mengusahakan bawang merah. Ketika dikunjungi media Perhiptani Bali, ia tengah membudidayakan bawang merah varietas Super Philip seluas satu hektare. Tanaman yang baru berumur 15 hari tersebut mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Kota Denpasar berupa bantuan benih, pupuk, dan sarana pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Menurut Pagiartha, harga benih bawang merah saat ini berkisar Rp43 ribu per kilogram. Dukungan pemerintah tersebut menjadi tambahan semangat bagi petani untuk tetap bertahan di tengah tingginya biaya produksi.

Selain memimpin Subak Renon, Pagiartha juga dipercaya menjadi Ketua Koordinator Pekaseh Denpasar Selatan yang membawahi sepuluh subak. Salah satu program yang tengah disiapkan adalah penyelenggaraan lomba produktivitas padi tertinggi antar subak di wilayah Denpasar Selatan.

Baginya, kompetisi tersebut bukan sekadar mencari juara, melainkan upaya membangkitkan semangat petani untuk terus meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlangsungan sistem subak yang telah menjadi warisan budaya dunia.

"Bukan hanya soal hasil panen, tetapi bagaimana generasi berikutnya masih melihat sawah tetap ada di Denpasar," tegasnya. (Ristiani/JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 2
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0