Eka Budi: Cita Tak Direncanakan, Tapi Ditemukan
Dari Kota Seni Gianyar menuju Karangasem, ia menapaki jalan pengabdian tanpa pernah benar-benar merencanakannya. Kini, Eka Budi menjadi wajah ketulusan di balik penguatan petani dan ketahanan pangan daerah.
Eka Budi:
Cita Tak Direncanakan, Tapi Ditemukan
Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari cita-cita besar yang telah digariskan. Sebagian justru berawal dari langkah ragu, dari pencarian arah, bahkan dari kegagalan yang memantik keberanian untuk terus melangkah. Begitulah kisah I Putu Eka Budi Antara, S.P., M.Agb. sosok penyuluh pertanian yang menempuh jalan pengabdian bukan karena direncanakan, melainkan karena ditemukan di tengah proses panjang pencarian makna hidup.
Pria kelahiran Kota Seni Gianyar, ini berzodiak Sagitarius, zodiak yang dikenal berjiwa petualang dan pantang menyerah. Ia tumbuh dalam keluarga pendidik, kedua orang tuanya adalah guru. Dari mereka, Eka belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan pentingnya Pendidikan nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi setiap langkah hidupnya.
Selepas menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Gianyar, Eka memilih untuk tidak terburu-buru melanjutkan studi. Ia mengambil masa jeda selama satu tahun fase yang kerap dianggap “menganggur” oleh sebagian orang. Namun baginya, jeda itu justru menjadi ruang sunyi yang berharga. Di sanalah ia belajar menerima proses, memahami arti sabar, dan menata ulang arah hidupnya.
“Saya percaya, setiap orang punya waktunya sendiri. Tidak ada yang terlambat selama kita masih mau berproses dan terus belajar,” ujarnya dengan nada tenang yang mencerminkan kedewasaan batin hasil perenungan panjang.
Langkah awal pendidikannya dimulai dari Diploma Informatika. Namun, darah pendidik yang mengalir kuat dari kedua orang tuanya seolah memanggilnya pulang ke dunia keguruan. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Pendidikan Matematika, bidang yang tak hanya menajamkan logika, tetapi juga membentuk ketekunan berpikir.
Namun di balik angka dan rumus, tumbuh benih ketertarikan lain dalam dirinya dunia pertanian, terutama tanaman hias yang sejak lama memberi ketenangan bagi batinnya. Kecintaan itu membuat Eka mengambil langkah berani, menempuh kuliah S1 Agribisnis pada malam hari, sementara di siang hari ia tetap menjalani perkuliahan di jurusan keguruan.
Menjalani dua disiplin ilmu yang berbeda secara bersamaan bukan perkara mudah. Waktu, tenaga, dan pikiran harus dibagi dengan penuh disiplin. Namun dari proses itulah ia belajar arti keteguhan dan konsistensi. “Kelelahan waktu itu rasanya luar biasa,” kenangnya sambil tersenyum, “tapi di situlah saya memahami bahwa hasil terbaik lahir dari kesungguhan yang tidak pernah berhenti.”
Menjadi penyuluh pertanian sejatinya bukanlah cita-cita awal Eka. Selepas kuliah, ia sempat menjadi guru honorer dan bekerja di Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Ia bahkan sempat mengikuti seleksi CPNS Guru Matematika, meski belum berhasil. Namun, kegagalan itu tak membuatnya berhenti melangkah. Ia mencoba lagi, kali ini di bidang yang sama sekali baru baginya pertanian. Siapa sangka, keputusan sederhana itu menjadi titik balik hidupnya. Ia dinyatakan lulus CPNS bidang pertanian di Kabupaten Karangasem, wilayah yang kelak menjadi ladang pengabdian dan kisah panjang perjalanannya.
Tahun 2011, Eka resmi memulai karier sebagai CPNS di Pemerintah Kabupaten Karangasem. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Penyuluh Pertanian Pertama dan ditempatkan di Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem. Di desa itu, ia menemukan makna sejati dari profesinya. “Saya belajar, penyuluh bukan sekadar memberi tahu, tapi hadir bersama petani, mendengarkan mereka, mencari solusi bersama,” tutur Eka.
Di tengah kesibukannya mendampingi para petani dan membangun sistem penyuluhan di tingkat desa, semangat belajarnya tak pernah padam. Ia kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 Agribisnis di Universitas Udayana Denpasar, dengan komitmen luar biasa membagi waktu antara tugas lapangan, keluarga, dan kuliah. “Saya tidak ingin berhenti belajar, karena dunia pertanian terus berkembang,” ujarnya.
Usaha keras itu berbuah manis pada tahun 2017, Eka resmi menyelesaikan studi Magister Agribisnis (M.Agb). Gelar itu bukan sekadar simbol akademik, tetapi cerminan tekad seorang penyuluh yang ingin memberi kontribusi lebih luas bagi pembangunan pertanian di daerahnya.
Tahun demi tahun, jejak pengabdian itu menebal. Tahun 2015, ia dipercaya menjadi penyuluh pertanian tingkat kabupaten. Empat tahun berselang, 2019, ia diamanahkan sebagai Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bebandem posisi yang mempertemukannya dengan berbagai dinamika pertanian di tingkat akar rumput. Di tahun 2021, tanggung jawabnya kian besar ketika ditunjuk sebagai Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Karangasem.
Memasuki 1 Januari 2026, menjadi babak baru tidak hanya bagi I Putu Eka Budi Antara, tetapi juga bagi seluruh penyuluh pertanian di Indonesia. Seiring kebijakan pemerintah, status penyuluh daerah resmi beralih ke pusat dan berada di bawah naungan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Pada momentum bersejarah itu, Tak berselang lama, tepat pada 6 Januari 2026, kepercayaan baru kembali menghampirinya. Ia dikukuhkan sebagai Ketua Tim Kerja (Katimker) Kabupaten Karangasem, sebuah amanah strategis yang menegaskan perannya dalam memperkuat sinergi dan efektivitas penyuluhan pertanian di tingkat daerah.
Bagi Eka, setiap jabatan bukanlah puncak, melainkan ladang baru untuk menebar manfaat. “Setiap tanggung jawab adalah kesempatan untuk berbuat lebih baik bagi petani dan daerah,” ujarnya dengan nada penuh makna kalimat sederhana yang mencerminkan filosofi hidupnya sebagai seorang pengabdi. (jikwid)
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
0
Funny
1
Angry
0
Sad
0
Wow
0