Redika, Penyuluh Swadaya yang Tak Pernah Berhenti Mengasah Ilmu

Di tengah pesatnya pembangunan Kota Denpasar, I Made Redika tetap setia menjaga denyut pertanian Subak Sidakarya. Pensiun dari dunia pariwisata, ia kini total mengabdikan diri sebagai petani sekaligus penyuluh swadaya dengan filosofi khasnya, “Salam Arit Puntul”, simbol semangat untuk terus mengasah ilmu.

May 15, 2026 - 05:32
 0  22
Redika, Penyuluh Swadaya yang Tak Pernah Berhenti Mengasah Ilmu

Redika, Penyuluh Swadaya yang Tak Pernah Berhenti Mengasah Ilmu

Pagi itu matahari belum terlalu tinggi saat awak media Perhiptani menyusuri hamparan Subak Sidakarya, Denpasar Selatan. Di tengah barisan tanaman melon dan semangka yang tumbuh rapi, terlihat seorang pria bertopi sedang memanggul pupuk sambil menyusuri bedengan tanaman.

Pria itu adalah I Made Redika (56), petani asal Desa Sidakarya yang tetap setia mengolah sawah di tengah derasnya arus modernisasi Kota Denpasar.

“Tanaman hortikultura itu harus dirawat penuh perhatian. Tidak bisa setengah-setengah,” ujarnya sambil tersenyum saat menyambut awak media Perhiptani di lahan garapannya.

Siapa sangka, sebelum sepenuhnya menekuni pertanian, Redika pernah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pariwisata Bali. Setelah menamatkan pendidikan SD hingga SMA, ia melanjutkan pendidikan pada tahun 1990 di Diana Pura PPLP (Pusat Pendidikan Latih Pariwisata) dengan mengambil program Diploma 1 (D1). Setahun kemudian, tepatnya 1991, ia lulus dan mulai bekerja di sektor pariwisata.

Kariernya terbilang panjang. Ia bekerja di Bali Dynasty Resort, Tuban, Badung, sambil tetap membantu aktivitas bertani keluarga. Dunia hotel dijalaninya puluhan tahun hingga akhirnya resmi pensiun pada April 2025.

Namun bagi Redika, sawah tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

Di sela kesibukannya bekerja di industri pariwisata, ia tetap turun ke lahan. Bahkan setelah pensiun, waktunya kini lebih banyak dicurahkan untuk mengembangkan tanaman hortikultura seperti melon dan semangka di Subak Sidakarya.

Lahan yang digarapnya pun bukan milik pribadi sepenuhnya. Ia mengandalkan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan seluas sekitar satu hektare. Meski demikian, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus bertani dan menjaga lahan tetap produktif.

“Yang penting pertanian jangan sampai hilang,” katanya singkat.

Ketekunannya di dunia pertanian membuahkan berbagai prestasi. Pada tahun 2022, Redika dinobatkan sebagai Petani Teladan tingkat Kota Denpasar. Tak hanya piawai di lapangan, kemampuan komunikasinya juga menonjol. Ia pernah meraih Juara III Lomba Penceramah Pertanian se-Bali dalam ajang PEDA KTNA di Gianyar.

Selain aktif sebagai petani, Redika juga dikenal sebagai penyuluh swadaya yang kerap berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada petani lain, khususnya di bidang hortikultura. Berbekal pengalaman panjang di lapangan, ia tidak segan turun langsung mendampingi petani dalam teknik budidaya, pemupukan, hingga pengendalian hama ramah lingkungan.

Untuk memperkuat kapasitasnya, Redika beberapa kali mengikuti pelatihan di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang Jawa Timur mulai dari pelatihan pembuatan pestisida nabati hingga budidaya tanaman hortikultura modern. Ilmu yang diperoleh itu kemudian diterapkan di lahannya sendiri sekaligus dibagikan kembali kepada petani di lingkungan Subak Sidakarya.

Di kalangan petani, Redika juga dikenal dengan slogan khasnya, yakni “Salam Arit Puntul.” Dalam bahasa Bali, arit berarti sabit, sedangkan puntul berarti tumpul. Filosofi itu dimaknainya sebagai pengingat bahwa ilmu dan kemampuan harus terus diasah. Sebab, sabit yang dibiarkan tumpul tidak akan mampu bekerja maksimal, begitu pula manusia jika berhenti belajar.

Karena itu, Redika selalu menanamkan semangat untuk terus menambah pengetahuan, membuka diri terhadap teknologi pertanian baru, serta belajar dari pengalaman agar petani mampu berkembang mengikuti zaman.

“Petani tidak boleh berhenti belajar,” ujarnya.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, Redika masih rutin turun ke sawah sejak pagi. Di bawah terik matahari Subak Sidakarya, ia merawat tanaman satu per satu dengan penuh ketelatenan.

Di tangan petani sekaligus penyuluh swadaya seperti dirinya, denyut pertanian Kota Denpasar masih terus hidup. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0