“Tak Direncanakan, Gus De Jadi Penyuluh”
Di tengah hamparan sawah Subak Sangketan, Penebel, langkah IB Gde Dwijayanta tak pernah benar-benar berhenti. Dari balik kesibukannya mendampingi pelatihan budidaya padi hemat air, tersimpan kisah perubahan besar dari dunia perbankan dan pembiayaan menuju ladang pengabdian sebagai penyuluh pertanian.
“Tak Direncanakan, Gus De Jadi Penyuluh”
Di sela riuh aktivitas pelatihan Budidaya Padi Hemat Air di Subak Sangketan, Penebel, Tabanan, sosok IB Gde Dwijayanta, S.TP tampak tak pernah benar-benar berhenti bergerak. Pagi itu, ia masih sempat meluangkan waktu untuk berbincang, meski sesekali harus menyapa petani atau memastikan jalannya kegiatan tetap sesuai rencana.
“Menjadi penyuluh itu sebenarnya bukan rencana awal saya,” ujarnya sambil tersenyum.
Pria asal Klungkung ini menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Denpasar, sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Udayana pada jurusan Teknologi Industri Pertanian. Selama di kampus, aktif berorganisasi dan dipercaya sebagai Wakil Ketua BEM Fakultas Teknologi Pertanian periode 2007–2010 pengalaman yang turut membentuk jiwa kepemimpinannya hingga kini.
Namun jalan hidupnya tidak langsung mengarah ke dunia penyuluhan. Ia sempat berkarier di berbagai sektor. Mulai dari menjadi Quality Control di PT Aerofood ACS (2010–2012), kemudian beralih ke dunia perbankan di PT Bank CIMB Niaga Cabang Makassar (2012–2017), hingga bekerja di perusahaan pembiayaan PT Clipan Finance (2017–2019).
“Dulu hidup saya lebih banyak berkutat dengan angka, laporan, dan target,” kenangnya.
Titik balik terjadi pada 1 Maret 2019, saat ia resmi diangkat sebagai penyuluh pertanian dan ditempatkan di BPP Kecamatan Penebel, dengan wilayah binaan Desa Tegallingah dan Desa Rejasa. Sejak saat itu, ritme hidupnya berubah total.
Di balik sosoknya yang familier disapa Gus De, terselip karakter kuat yang seolah mencerminkan zodiak Taurus yang menaunginya. Setia dalam pendampingan, hemat dalam langkah, namun kaya dalam dedikasi. Ia dikenal pekerja keras, tak mudah menyerah saat menghadapi dinamika di lapangan, serta selalu hadir dengan sikap ramah dan ketulusan hati. Tekadnya pun tak main-main sekali memilih jalan sebagai penyuluh, Gus De menjalaninya dengan penuh komitmen, membumi bersama petani, dan terus bergerak membawa perubahan.
“Kini saya lebih sering berada di tengah sawah, berdialog langsung dengan petani. Rasanya jauh berbeda, tapi justru di situ saya menemukan makna,” katanya.
Menurutnya, menjadi penyuluh bukan sekadar pekerjaan, melainkan proses belajar tanpa henti. Ia mengaku banyak mendapatkan pelajaran dari petani, terutama terkait kearifan lokal dan cara bertani yang selaras dengan alam.
“Setiap musim itu seperti kelas baru. Kita belajar lagi, menyesuaikan, dan mencari solusi bersama,” jelasnya.
Di tengah kesibukannya, Dwijayanta tetap menjaga keseimbangan hidup. Ia mengisi waktu luang dengan bermain basket dan bersepeda dua hobi yang menurutnya membantu menjaga stamina untuk tetap aktif di lapangan.
Bagi Dwijayanta, kepuasan terbesar bukan terletak pada capaian pribadi, melainkan saat melihat petani binaannya berhasil.
“Ada rasa bangga ketika ilmu yang kita sampaikan bisa membantu meningkatkan hasil panen atau menyelesaikan masalah di lapangan,” ungkapnya.
Ia pun menyadari bahwa profesi penyuluh telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Dari ruang kerja yang terbatas, sekarang saya berada di ruang belajar yang luas tanpa batas. Menjadi penyuluh membuat saya lebih dekat dengan kehidupan yang nyata lebih membumi, lebih bermakna, dan penuh rasa syukur,” tutupnya. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0