BPP Blahbatuh Jadi War Room Data Pertanian
BPP Blahbatuh jadi titik temu penyamaan data. Penyuluh ditegaskan bukan sekadar pendamping, tapi garda terdepan penjaga akurasi. Data tak boleh meleset harus mencerminkan kondisi riil di lapangan.
BPP Blahbatuh Jadi War Room Data Pertanian
Dari Selisih Angka hingga Realita Sawah, Penyuluh Jadi Penjembatan Fakta
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Blahbatuh tak sekadar jadi tempat berkumpul. Dari ruang inilah, langkah besar memastikan keakuratan data pergerakan pertanian Gianyar. Rapat koordinasi dan sinkronisasi data tanaman pangan dan hortikultura digelar, menghimpun seluruh pemangku kepentingan dalam satu meja.
Hadir dalam forum strategi tersebut perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, BPS Kabupaten Gianyar, BBRMP Bali, Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi Penyuluh dan Kinerja Penyuluhan, koordinator BPP hingga para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Gianyar.
Rapat ini bukan sekedar rutinitas administratif. Ini menjadi salah satu indikator kunci dalam mendukung program swasembada pangan. Akurasi data menjadi harga mati. Tanpa data yang selaras, perencanaan bisa meleset jauh dari kondisi riil di lapangan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Ni Made Yuliani Putri, SP, M.Agb., menegaskan, rapat ini diadakan untuk memastikan data lapangan benar-benar sesuai dengan sasaran pusat. “Ini juga langkah menjadi awal menyiapkan kegiatan strategi tanaman pangan tahun 2026,” katanya saat membuka kegiatan.
Evaluasi demi evaluasi dibedah. Mulai dari luas tambah tanam (LTT), validasi hortikultura, hingga laporan berbasis sistem. Selain itu, metode Kerangka Sampel Area (KSA) untuk padi dan jagung juga dibedah guna memastikan akurasi produksi.
Ia mengakui, masih terdapat perbedaan data yang cukup mencolok. Oleh karena itu, sinkronisasi menjadi krusial agar seluruh pihak bergerak dengan angka yang sama.
Kepala Bidang TPH Provinsi Bali, Ir. Nyoman Swastika, M.Si., memaparkan evaluasi kegiatan serta pelaporan data tanaman pangan tahun berjalan. Sementara itu, perwakilan BPS Kabupaten Gianyar, Ketut Manacika, S.St., M.Agb, mengulas metode Survey Kerangka Sampel Area (KSA) untuk komoditas padi dan jagung sebuah instrumen penting dalam menjaga validitas data produksi.
Peran penyuluh sebagai garda terdepan juga disampaikan dalam forum tersebut. Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi Penyuluh dan Kinerja Penyuluhan Kabupaten Gianyar, I Made Geben, SP, menegaskan bahwa kualitas data sangat ditentukan oleh ketelitian dan konsistensi pelaporan dari penyuluh di lapangan.
“Penyuluh itu bukan hanya mendampingi petani, tapi juga penjaga. Apa yang diinput harus benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sinkronisasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat disiplin pelaporan. Menurutnya, perbedaan data yang selama ini muncul bukan semata-mata kesalahan, melainkan dinamika lapangan yang harus diselaraskan dengan sistem.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Data harus satu pintu, satu persepsi. Karena dari data inilah arah kebijakan yang ditentukan,” tegasnya.
Geben juga mendorong seluruh penyuluh untuk lebih adaptif terhadap sistem pelaporan digital, sekaligus tetap menjaga validitas data melalui verifikasi langsung di lapangan.
“Kecepatan penting, tapi akurasi jauh lebih penting. Jangan sampai cepat, tapi datanya tidak tepat,” tandasnya.
Diskusi berlangsung dinamis. Peserta aktif mengkritisi sekaligus memberi masukan terhadap pencapaian data yang telah diinput dalam sistem pelaporan. Fokus pembahasan mengerucut pada sinkronisasi luas tambah tanam (LTT), validasi data hortikultura, perbandingan target dan realisasi, hingga kendala teknis di lapangan.
Perbedaan data antar sumber masih menjadi tantangan utama. Namun, melalui forum di BPP Blahbatuh ini, benang kusut mulai terurai. Satu per satu masalah yang dibahas, dicarikan titik temu.
BPP Blahbatuh pun menegaskan, bukan hanya sebagai tempat penyuluhan, tetapi juga sebagai pusat kendali informasi dan koordinasi pertanian di tingkat lapangan. Dari situlah fondasi data yang akurat dibangun menjadi pijakan menuju swasembada pangan yang lebih terukur dan realistis. (Sintya/JikWid)
What's Your Reaction?
Like
6
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0