Ngebolang ke Negeri Gajah, “Mas Bas” Tak Bisa Lepas dari Sawah

Cuti untuk mengurus studi putrinya yang lagi studi di Belanda tidak membuat Penyuluh Pertanian yang satu ini, jauh dari dunia pertanian. Disela perjalanannya, penyuluh yang kini akrab disapa Mas Bas ini justru membagikan pengalaman lapangan dari Sri Lanka kepada awak media PERHIPTANI.

Apr 11, 2026 - 20:15
Apr 12, 2026 - 04:52
 0  42
Ngebolang ke Negeri Gajah, “Mas Bas” Tak Bisa Lepas dari Sawah

Ngebolang ke Negeri Gajah, “Mas Bas” Tak Bisa Lepas dari Sawah

Di tengah kesibukannya mengurus studi sang putri, I Made Suryadi, SP, justru menemukan “ruang belajar” baru. Bukan di kampus, melainkan di hamparan sawah sebuah desa di Sri Lanka.

Kepada awak media PERHIPTANI, penyuluh yang akrab disapa Mas Bas itu menceritakan kisahnya tentang pertanian organik, irigasi sederhana, hingga kisah unik petani yang harus berhadapan dengan gajah liar.

Mas Bas, justru menyempatkan diri turun ke sawah saat singgah di Sri Lanka. Bertemu petani lokal, melihat pertanian organik, hingga mempelajari sistem irigasi sederhana yang mengingatkannya pada subak di Bali.

Yang paling mengejutkan?
Hama di sana bukan tikus atau wereng…

Gajah setinggi 2,5 meter.

Cuti kerja biasanya identik dengan istirahat. Tapi tidak bagi I Made Suryadi.

Penyuluh pertanian ini justru memanfaatkan waktu luangnya untuk tetap belajar. Bersama sang istri, ia tengah mengurus dan menyelesaikan administrasi putrinya yang sedang menempuh studi di salah satu universitas di Belanda.

Dalam sela perjalanan panjangnya, pasutri ini singgah di Serene Sigiriya, Batuyaya, Dambulla, Sri Lanka. Dua malam mereka habiskan di kawasan yang masih kental dengan nuansa pertanian tradisional.

Alih-alih menikmati waktu santai sepenuhnya, Mas Bas malah “turun sawah”.

“Saya ini penyuluh, jadi di mana pun pasti tertarik lihat pertanian. Rasanya ada yang kurang kalau tidak menyapa petani,” ujarnya sambil tersenyum.

Di lokasi tersebut, ia bertemu dengan Gayan, petani lokal yang membuka banyak cerita tentang praktik pertanian di desanya.

Menurut Gayan, pertanian di wilayah itu masih didominasi sistem organik. Beragam komoditas seperti terong, tomat, cabai, dan okra ditanam berdampingan. Di sisi lain, hamparan sawah tetap menjadi komoditas utama.

Yang menarik perhatian Mas Bas adalah sistem irigasinya.

Air dialirkan dari sumber alami melalui saluran sederhana, kemudian dibagi secara bergiliran antarpetani. Sistem ini berjalan berdasarkan kesepakatan lokal, mencerminkan kearifan dalam mengelola air di tengah keterbatasan infrastruktur.

“Ini mirip konsep subak di Bali, ada pembagian air dan kebersamaan petani. Bedanya, di sini masih sangat sederhana,” ungkap Mas Bas.

Untuk padi, petani setempat menanam varietas seperti BG300, BG352, dan BG362. BG300 tergolong genjah dengan umur sekitar tiga bulan dan potensi hasil mencapai 6,5 ton per hektare.

Sementara BG362 dikenal lebih tahan terhadap kekeringan.

“Menariknya, varietas di sini cukup adaptif, tapi daya simpan benihnya relatif pendek,” kata Mas Bas.

Ia juga mencatat harga cabai di tingkat petani berkisar 300–600 LKR per kilogram. Fluktuasi harga ini menjadi tantangan yang jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia.

Namun, ada satu hal yang benar-benar berbeda.

“Hama terbesar di sini bukan wereng atau tikus, tapi gajah,” kata Gayan.

Gajah pembohong tingginya sekitar 2,5 meter sering masuk ke lahan dan merusak tanaman. Ancaman ini menjadi risiko nyata yang harus dihadapi petani setiap musim.

Bagi Mas Bas, pengalaman ini membuka perspektif baru.

“Di mana pun, petani itu sama. Sama-sama berjuang, sama-sama bergantung pada alam. Bedanya hanya kondisi dan tantangannya,” ujarnya.

Bagi Mas Bas, perjalanan ini menjadi bukti bahwa proses belajar bagi penyuluh tidak mengenal batas ruang dan waktu. Bahkan di tengah hutan sekalipun, sawah tetap menjadi ruang belajar yang tak tergantikan. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 11
Dislike Dislike 0
Love Love 3
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0