“Bukan Pesaing, Tapi Simbol Kebangkitan Penyuluh Pertanian Bali”
Tuntas sudah DPW Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI) Provinsi Bali menggelar ajang bergengsi Penyuluh Pertanian Berprestasi 2025, sebuah momentum untuk memberi penghargaan kepada para pejuang pertanian yang tak kenal lelah membimbing petani menuju kemandirian dan kesejahteraan.
“Bukan Pesaing, Tapi Simbol Kebangkitan Penyuluh Pertanian Bali”
Di tengah gempuran teknologi dan perubahan iklim yang kian tak menentu, tiga penyuluh pertanian dari Bali membuktikan bahwa semangat pengabdian tak pernah layu. Mereka tidak sekadar menjadi pemandu di lahan, namun penyulut api perubahan membawa inovasi, menanam harapan, dan mendatangkan kesejahteraan bagi petani di akar rumput. Dari Gianyar, Jembrana, hingga Karangasem, gema perjuangan mereka menjadi simbol kebangkitan baru penyuluhan pertanian yang dihilangkan pada kearifan lokal dan ilmu pengetahuan.
Tuntas sudah DPW Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI) Provinsi Bali menggelar ajang bergengsi Penyuluh Pertanian Berprestasi 2025, sebuah momentum untuk memberi penghargaan kepada para pejuang pertanian yang tak kenal lelah membimbing petani menuju kemandirian dan kesejahteraan.
Ajang ini menghadirkan tiga finalis terbaik, masing-masing merupakan representasi semangat perubahan di akar rumput. Mereka bukan sekedar penyuluh, tapi pionir gerakan hijau yang menghidupkan kembali semangat pertanian berkelanjutan di Pulau Dewata.
Detik Menegangkan
Suasana tiba-tiba hening. Tepat pukul 12.00 WITA d etik jam di dinding seolah ikut menahan napas. Dice Fice Siska Ndoen, SST., M.Agb. , berdiri dengan senyum menahan tegang. Di tangannya, berisi hasil penilaian dewan juri kunci dari perjalanan panjang para penyuluh terbaik Bali tahun ini.
Ia menatap hadirin sejenak, lalu menarik napas perlahan. “Baik, kita sampai pada saat yang ditunggu-tunggu,” katanya, suaranya bergetar pelan tapi tegas. Semua mata tertuju padanya. Para finalis menunduk, sebagian menggenggam tangan, sebagian lagi memejamkan mata, berdoa dalam hati.
Sekali lagi , Dice menatap kertas di tangannya. Ia berhenti sejenak, menciptakan jeda yang membuat suasana semakin menegangkan. Beberapa hadirin menahan napas. Hening sempurna. Hanya detak jantung yang terdengar di kepala masing-masing.
“Dan... juara pertama Penyuluh Pertanian Berprestasi 2025 adalah...”
Ia kembali membaca perlahan. Tepuk tangan mulai menggema sebelum nama dipanggil.
“ Ni Kadek Sintya Dewi, SP.dari DPD Perhiptani Kabupaten Gianyar! ”
Sekejap, ruangan meledak oleh sorak dan tepuk tangan. Wajah Sintya memucat, lalu berubah menjadi senyum haru. Tangannya menutupi mulut, air matanya menetes pelan. Rekan-rekan penyuluh berdiri memberi selamat, sementara Dice tersenyum lega ketegangan pun pecah menjadi kebahagiaan yang memenuhi ruangan.
Dengan total nilai 114 poin , Ni Kadek Sintya Dewi, sebagai Juara Pertama Penyuluh Pertanian Berprestasi 2025 versi Perhiptani Bali . Disusul Reni Lamtauli Pakpahan, SP. dengan 111 poin , dari DPD Perhiptani Kabupaten Jembrana dan di posisi ketiga I Gede Januartha, SP. dengan 108 poin penyuluh pertanian asal DPD Perhiptani Kabupaten Karangasem .
Ketua Harian DPW Perhiptani Bali, I Ketut Arya Adnyana, SP., M.Agb. , menegaskan bahwa finalis ketiga ini bukan sekadar kompetitor, tetapi simbol dari semangat penyuluhan baru yang berpadu antara kearifan lokal, ilmu pengetahuan, dan aksi nyata di lapangan .
“DPW Perhiptani Bali menyambut ketiganya bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai simbol kebangkitan penyuluhan pertanian yang dihilangkan dari nilai-nilai kemandirian petani Bali,” ujar Arya Adnyana.
Sementara itu, Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, SP., M.Si. , pengajar dan dosen bidang penyuluhan pertanian Universitas Udayana, mengungkapkan bahwa penilaian terhadap peserta tidak hanya menitikberatkan pada teori atau presentasi, tetapi juga bukti penerapan nyata di lapangan .
“Inovasi yang sederhana namun bermanfaat dan digunakan terus menerus oleh petani jauh lebih berharga daripada teknologi canggih yang tidak terpakai,” tegasnya.
“Penyuluh sejati adalah mereka yang memahami kebutuhan petani dan menciptakan solusi dari kenyataan di lapangan.”
Acara ini juga meneguhkan kembali falsafah penyuluhan pertanian: “Menolong orang agar dapat menolong dirinya sendiri” dalam istilah modern, help people helpself . Falsafah ini menjadi ruh utama penyuluhan yang menekankan pemberdayaan, partisipasi aktif, dan kemandirian petani.
Melalui ajang ini, Perhiptani Bali berkomitmen untuk melahirkan generasi penyuluh yang humanis, inovatif, dan berjiwa sosial tinggi, demi terwujudnya pertanian yang produktif dan berkelanjutan. (TrioB)
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
1