UPJA Swakarsa Padangbulia Butuh Suntikan Baru

Koptan Swakarsa Subak Gede Padangbulia, Buleleng, yang pernah menyabet predikat UPJA terbaik tingkat Provinsi Bali, kini menghadapi tantangan serius. Mesin alsintan tua, minim operator muda, hingga keterbatasan BBM menjadi sorotan dalam kunjungan pembinaan Tim Pusat BPPSDMP Kementerian Pertanian.

May 16, 2026 - 06:33
 0  16
UPJA Swakarsa Padangbulia Butuh Suntikan Baru

UPJA Swakarsa Padangbulia Butuh Suntikan Baru

Koperasi Tani (Koptan) Swakarsa Subak Gede Padangbulia, Kabupaten Buleleng, mendapat perhatian serius dari Tim Pembina Pusat Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian saat kunjungan pembinaan kelembagaan ekonomi petani (KEP).

Tim pusat dipimpin Ir. Dwi Hayanti, M.Si. bersama Miranda Vionita, S.Ak. dari Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP, didampingi Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Penyuluhan Provinsi Bali I Ketut Arya Sudiadnyana, SP., M.Agb. dan jajarannya, Katimker Kabupaten Buleleng, Made Sumetriyani, M.P., Koordinator BPP Sukasada, Mohammad Hanan, SP., serta para penyuluh pertanian BPP Sukasada. Pembinaan difokuskan pada penguatan tata kelola KEP sekaligus memotret langsung kondisi usaha pelayanan jasa alat dan mesin pertanian (UPJA) yang menjadi tulang punggung ekonomi koperasi tersebut.

Koptan Swakarsa bukan lembaga biasa. Koperasi ini dikenal sebagai salah satu UPJA berprestasi di Bali. Pada 2009 lalu, UPJA Swakarsa berhasil meraih Piagam Penghargaan UPJA Swakarsa Kelas UPJA Profesional sekaligus menyabet peringkat pertama tingkat Provinsi Bali dalam ajang Usaha Pelayanan Jasa Alsintan dari Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali. Prestasi itu menjadi bukti kiprah panjang kelompok dalam mendukung modernisasi pertanian di Buleleng.

Namun di balik sederet capaian tersebut, pengurus koperasi kini menghadapi tantangan berat. Dalam diskusi bersama tim pembina, pengurus menyampaikan sejumlah persoalan mendasar yang mulai menghambat produktivitas pertanian di Subak Gede Padangbulia.

Masalah utama terletak pada kondisi alsintan yang sebagian besar telah berusia tua dan rawan mengalami kerusakan. Kondisi itu berdampak langsung terhadap efisiensi kerja petani, terutama saat musim tanam dan panen tiba. Situasi makin rumit karena minimnya tenaga operator muda yang mampu mengoperasikan alsintan modern seperti rice transplanter hingga drone pertanian.

Ketua Koptan Swakarsa Subak Gede Padangbulia, I Nyoman Sarwa Ardika, mengaku persoalan tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi kelembagaan petani di wilayahnya.

“Kondisi di lapangan saat ini cukup berat bagi kami. Sebagian besar mesin alsintan yang kami kelola usianya sudah tua dan sering rusak, sehingga biaya perawatan membengkak. Masalahnya kian rumit karena kami kekurangan tenaga muda yang bisa mengoperasikan alat modern seperti rice transplanter atau drone. Kami sangat berharap ada program pelatihan operator dan bantuan peremajaan unit dari pusat,” ujarnya saat berdiskusi dengan tim pembina.

Tidak hanya itu, hambatan operasional juga diperberat oleh terbatasnya akses dan kuota bahan bakar minyak (BBM), baik solar maupun bensin, yang menjadi kebutuhan utama untuk menggerakkan alsintan di areal persawahan.

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Tim Pembina Pusat bersama Dinas Pertanian Provinsi Bali menjadikan temuan lapangan itu sebagai catatan evaluasi prioritas. Permasalahan teknis yang disampaikan pengurus koperasi akan dibawa ke tingkat pengambil kebijakan untuk dicarikan solusi, mulai dari opsi peremajaan alsintan, pelatihan operator muda, hingga koordinasi terkait distribusi BBM bersubsidi bagi sektor pertanian.(Ratna Dewi/JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0