Desak Putu Sudarmini: Jalan Sunyi, “Ngegas” Sejak Kuliah

Di balik senyum ramahnya, Desak Putu Sudarmini adalah penyuluh muda yang tak pernah berjalan pelan. Sejak kuliah, ia sudah memilih untuk “ngegas” di lapangan.

Mar 31, 2026 - 05:33
 0  54
Desak Putu Sudarmini: Jalan Sunyi, “Ngegas” Sejak Kuliah

Desak Putu Sudarmini :

Jalan Sunyi, “Ngegas” Sejak Kuliah

Desak Putu Sudarmini, SP., M.P., bukan tipe yang banyak bicara soal mimpi. Ia lebih suka menunjukkannya lewat kerja. Lahir di Baturiti, Tabanan wilayah yang akrab dengan dinginnya udara pegunungan dan kerasnya ritme bertani. Ia tumbuh di tengah keluarga petani yang menjadikan tanah bukan sekadar lahan, tapi juga harapan.

Barangkali dari situlah prinsip hidupnya terbentuk sederhana, bertani itu harus menghasilkan.

Kalimat itu terdengar biasa, tapi di tangan Desak, menjadi arah yang jelas. Ia tidak ingin pertanian berhenti pada romantisme, melainkan bergerak sebagai aktivitas ekonomi yang nyata.

Perjalanan akademiknya pun mencerminkan karakter “tancap gas” itu. Lulus Sarjana Pertanian dari Universitas Udayana pada 2015, ia tak menunggu lama. Di tahun yang sama, ia langsung melanjutkan ke jenjang magister dan menuntaskannya pada 2017 dengan gelar Master Pertanian. Dua tahun, tanpa jeda.

Namun, jalan hidup tidak selalu berjalan di satu jalur. Sambil kuliah, Desak memilih untuk tidak hanya menjadi mahasiswa. Sejak 2015 hingga 2019, ia terjun sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di bawah Kementerian Sosial. Di sinilah ia belajar memahami sisi lain masyarakat tentang kemiskinan, ketahanan keluarga, dan pentingnya pendampingan yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari.

Pengalaman itu membentuk cara pandangnya sebagai penyuluh hari ini: bahwa pertanian bukan sekadar soal produksi, tetapi juga soal manusia di dalamnya.

Tahun 2019 menjadi titik balik. Ia resmi diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan ditempatkan di BPP Kecamatan Jembrana. Wilayah kerjanya meliputi Kelurahan Dauhwaru dan Sangkaragung, dua kawasan yang memiliki dinamika pertanian tersendiri.

Di lapangan, Desak dikenal sebagai sosok yang tidak setengah-setengah. Zodiak Cancer yang melekat padanya seolah menemukan bentuk dalam kesehariannya: pekerja keras, kreatif, dengan imajinasi kuat namun tetap membumi. Ia tidak hanya menyampaikan materi penyuluhan, tetapi juga mencoba meramu pendekatan yang lebih kontekstual, sesuai kebutuhan petani binaannya.

Baginya, penyuluhan tidak cukup hanya hadir di forum. Penyuluh harus hadir di persoalan.

Ia percaya bahwa inovasi pertanian tidak akan pernah berjalan jika tidak mampu menjawab kebutuhan paling dasar petani, kepastian hasil dan nilai ekonomi. Karena itu, setiap aktivitas penyuluhan yang ia lakukan selalu berangkat dari satu pertanyaan sederhana “ini bisa menambah penghasilan atau tidak?”

Pendekatan ini membuatnya lebih mudah diterima petani. Ia tidak datang membawa teori semata, tetapi juga menawarkan solusi yang bisa langsung diuji di lapangan.

Di tengah tantangan regenerasi petani yang kian nyata, Desak Putu Sudarmini hadir sebagai representasi generasi baru penyuluh: muda, terdidik, dan punya keberanian untuk bergerak lebih cepat.

Ia membuktikan bahwa menjadi penyuluh bukan sekadar profesi administratif, tetapi panggilan untuk menggerakkan perubahan pelan, tapi pasti.

Dan dari Dauhwaru hingga Sangkaragung, langkah kecil itu terus ia jaga. Karena baginya, selama petani masih berjuang di sawah, penyuluh tidak boleh berhenti berjalan.

Koresponden: Widnyana

Editor: Jikwid

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0