Adu Genetik Sapi Bali, Payangan–Gianyar Dominan

Bukan sekadar lomba, ajang ini menjadi “saringan” bibit unggul sapi Bali. Dari 42 ekor yang ikut seleksi sejak Maret, hanya 14 terbaik yang berhak tampil di tingkat kabupaten. Prosesnya pun tak instan. Tim juri bersama penyuluh pertanian turun langsung ke kandang peternak di tujuh kecamatan untuk memastikan kualitas ternak benar-benar sesuai standar.

Apr 15, 2026 - 03:10
Apr 15, 2026 - 03:21
 0  231
Adu Genetik Sapi Bali, Payangan–Gianyar Dominan

Adu Genetik Sapi Bali, Payangan–Gianyar Dominan

Lomba bibit sapi Bali tak lagi sekedar ajang seremonial. Pemerintah Kabupaten Gianyar menjadikannya sebagai instrumen seleksi ternak sekaligus unggul dalam ekonomi peternak. Hal itu terlihat dalam Lomba Bibit Sapi Bali jantan dan betina yang dibuka Sekda Gianyar di Lapangan Banteng, Selasa (14/4).

Dalam sambutan Bupati Gianyar yang dibacakan Sekda I Gusti Bagus Adi Widhya Utama, ditegaskan bahwa sapi Bali merupakan plasma nutfah unggulan nasional yang harus dijaga kualitas genetiknya. “Ini bukan sekedar lomba, tapi bagian dari upaya menjaga mutu dan populasi sapi Bali,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya seleksi induk dan pejantan. Sapi betina memiliki setengah potensi genetik, sementara setengah lainnya berasal dari pejantan. Oleh karena itu, seleksi menjadi kunci lahirnya ternak unggul dan produktif.

Selain itu, ia menyoroti pentingnyapendataan peternak di Kabupaten Gianyar agar dapat dijelaskan secara jelas. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat melakukan pelatihan secara optimal sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.

Penilaian tidak dilakukan secara instan. Sejak Maret, tim juri bersama penyuluh pertanian turun langsung ke kandang peternak di tujuh kecamatan untuk melakukan seleksi awal. Peran penyuluh menjadi penting, tidak hanya mendampingi, tetapi juga memastikan standar pemeliharaan dan kesehatan ternak terpenuhi.

Kriteria penilaian sapi meliputi kondisi sehat bebas penyakit menular, tidak cacat fisik dan genetis, memiliki organ reproduksi yang baik, serta memenuhi standar fisik sapi Bali secara kualitatif dan kuantitatif.

Dari 42 ekor sapi peserta di tingkat kecamatan, disaring menjadi 14 ekor terbaik untuk tampil di tingkat kabupaten. Persaingan pun berlangsung ketat di babak final.

Hasilnya, untuk kategori sapi jantan, juara I diraih I Wayan Rudiarta dari Banjar Penyabangan, Desa Kerta, Payangan. Juara II I Ketut Gede dari Banjar Bia, Desa Keramas, Blahbatuh, dan juara III I Ketut Santra dari Banjar Palak, Sukawati.

Sementara kategori sapi betina, juara I diraih I Wayan Sugiarta dari Abianbase, Gianyar. Juara II I Ketut Suastika dari Banjar Malet, Manukaya, Tampaksiring, serta juara III I Made Suardiana dari Banjar Saren, Desa Kerta, Payangan.

Penyelenggaraan kegiatan ini juga bekerja sama dengan Universitas Udayana. Ketua Panitia, Prof. I Gede Mahardika, menyebut tahun ini lomba lengkap dengan menambahkan kategori sapi betina. Langkah tersebut diharapkan tidak mampu mendorong perbaikan manajemen pembibitan sejak hulu.

“Harapannya, peternak semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas ternaknya, tidak hanya mengejar kuantitas,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Pemkab Gianyar berharap tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga melahirkan bibit sapi Bali unggulan yang berdaya saing. Dengan dukungan penyuluh, sejarawan, dan peternak, pengembangan sapi Bali di Gianyar diharapkan semakin terarah dan berkelanjutan. (Jikwid/Sudirka)

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0