Mudarsana: Bangkrut Pernah, Menyerah Tidak

Hamparan padi di Subak Kerdung, Denpasar Selatan, kembali menghijau. Di antara pematang sawah itu, I Nyoman Mudarsana, S.Sos berjalan pelan sambil sesekali memandang aliran air yang kembali hidup. Tak banyak yang tahu, pria yang kini menjadi Pekaseh Subak Kerdung itu pernah jatuh saat merintis usaha restoran sebelum akhirnya menemukan jalan pulang di sawah.

May 31, 2026 - 05:48
 0  39
Mudarsana: Bangkrut Pernah, Menyerah Tidak

Mudarsana: Bangkrut Pernah, Menyerah Tidak

Dari restoran yang tumbang, I Nyoman Mudarsana memilih kembali ke lumpur sawah dan kini memikul beban sebagai pekaseh.

Angin sore menyapu hamparan hijau di Subak Kerdung, Denpasar Selatan. Di sela batang padi yang bergoyang pelan, sosok I Nyoman Mudarsana, S.Sos tampak berjalan santai menyusuri pematang. Sesekali ia berhenti, menatap aliran air yang kini kembali mengisi petak-petak sawah. Wajahnya terlihat tenang, meski di balik ketenangan itu tersimpan cerita panjang tentang jatuh, bangun, dan memilih kembali ke tanah yang sejak kecil akrab dengannya.

“Kalau sekarang lihat air mengalir begini rasanya lega,” ujarnya sambil tersenyum tipis saat ditemui di tengah sawah Subak Kerdung.

Pria asal Pedungan itu mengaku jalan hidupnya tidak pernah sepenuhnya mengarah ke sawah. Setelah menamatkan pendidikan dasar hingga SMA, pada 1990 ia melanjutkan kuliah di Universitas Warmadewa jurusan Sosial Politik. Masa kuliahnya dijalani sambil bekerja di Bali Raya hingga lulus pada 1994.

Selepas menyandang gelar sarjana, Mudarsana sempat mencoba peruntungan di dunia usaha. Tahun 1995 ia membuka restoran di kawasan Nusa Dua. Namun harapan itu tak bertahan lama. Usaha yang dirintisnya ambruk diterpa situasi sulit akibat merebaknya wabah kolera saat itu.

“Sempat bangkrut total. Akhirnya restoran dijual,” kenangnya.

Dari hasil penjualan restoran senilai sekitar Rp35 juta, Mudarsana mengambil keputusan yang mungkin saat itu dianggap tak lazim. Ia kembali ke sawah.

Bukannya membeli mobil atau memulai usaha lain, uang tersebut justru dipakainya membeli empat unit traktor. Di masa itu, jasa pengolahan lahan per are masih sekitar Rp1.500.

“Saya berpikir sawah tetap akan hidup. Orang pasti tetap perlu tanam padi,” katanya.

Keputusan itu perlahan menjadi titik balik kehidupannya. Dari sana ia kembali akrab dengan dunia pertanian, hingga akhirnya dipercaya menjadi Pekaseh Subak Kerdung sejak awal 2025.

Namun amanah sebagai pekaseh rupanya tak selalu ringan.

Mudarsana mengaku salah satu masa paling berat yang dihadapi krama Subak Kerdung terjadi ketika saluran irigasi mengalami kerusakan serius. Bendungan dan jaringan irigasi yang jebol membuat pasokan air terhenti total.

Sawah-sawah di Subak Kerdung sempat seperti kehilangan nyawa.

Dua musim tanam berlalu tanpa aktivitas menanam. Petani hanya bisa menunggu sambil berharap air kembali mengalir.

“Sempat pusing juga. Dua kali musim tanam petani tidak bisa menanam karena air tidak ada,” ungkapnya.

Kondisi itu bukan sekadar menghentikan produksi pertanian, tetapi juga memukul penghasilan petani. Yang lebih berat, menurutnya, adalah menjaga semangat krama subak agar tidak ikut surut.

Namun menjadi pekaseh, kata dia, ternyata bukan hanya soal mengurus sawah dan air.

Ada beban lain yang tak terlihat. Salah satunya ketika muncul persoalan sengketa tanah yang menyeret dirinya sebagai saksi. Situasi seperti itu sering kali menghadirkan tekanan mental tersendiri.

“Kadang yang berat justru pikiran. Kalau ada masalah tanah, posisi pekaseh sering diminta jadi saksi,” ujarnya.

Belum lagi persoalan sampah yang kerap membuatnya prihatin. Keberadaan jogging track di wilayah Subak Kerdung memang memberi manfaat bagi masyarakat. Namun tak sedikit pengunjung yang datang berolahraga justru meninggalkan sampah sembarangan di area sawah.

“Kadang ada yang olahraga, selesai olahraga sampahnya ditinggal begitu saja,” katanya sambil menggeleng pelan.

Meski demikian, semua beban itu seolah terbayar saat musim panen tiba.

Baginya, tak ada kepuasan yang lebih besar selain melihat petani tersenyum saat hasil panen mulai diangkut dari sawah.

“Kalau panen berhasil dan petani senang, itu yang bikin bahagia,” tuturnya.

Di tengah cepatnya perubahan kota dan makin sempitnya lahan pertanian, Mudarsana masih berdiri di pematang sawah yang sama. Lumpur yang dulu pernah ditinggalkan, justru menjadi tempat ia kembali menanam harapan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menjaga agar denyut Subak Kerdung tetap hidup.(JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 4
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 2