Menjaga Sawah di Tengah Gempuran Pariwisata
"Di tengah gempuran pembangunan kawasan wisata Sukawati, masih ada sosok yang setia menyusuri pematang sawah. Ida Ayu Jambawati memilih hadir bersama petani, menjaga sawah, Subak, dan harapan pertanian Bali."
Menjaga Sawah di Tengah Gempuran Pariwisata
Siang itu suasana Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukawati, Gianyar, tidak terlalu ramai. Beberapa petani baru saja meninggalkan ruang konsultasi, sementara telepon genggam Ida Ayu Jambawati kembali berdering. Pesan demi pesan masuk silih berganti. Ada yang menanyakan serangan wereng, jadwal pembagian air irigasi, hingga pupuk yang belum juga datang.
Perempuan berkacamata itu hanya tersenyum.
"Kalau musim tanam begini memang hampir setiap hari seperti ini. Penyuluh harus siap kapan pun petani membutuhkan. Baru saja usai mengantar petani melengkapi dokumen persyaratan bantuan pemerintah ke Dinas Pertanian Gianyar" ujarnya kepada awak media PERHIPTANI Bali.
Sejak awal 2026, Ida Ayu Jambawati dipercaya mendampingi petani di Desa Kemenuh dan Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati. Dua desa yang selama ini lebih dikenal sebagai kawasan seni, budaya, dan pariwisata, tetapi masih menyimpan bentangan sawah produktif yang menjadi penyangga pangan sekaligus bagian dari warisan budaya Bali.
Di balik hijaunya hamparan sawah itu, tersimpan berbagai persoalan yang tidak ringan.
Alih fungsi lahan menjadi tantangan terbesar. Laju pembangunan vila, rumah tinggal, hingga fasilitas wisata terus mendekati kawasan pertanian.
"Setiap kali melihat sawah berubah menjadi bangunan, rasanya sedih. Sawah yang hilang hampir tidak mungkin kembali. Karena itu kami terus mendorong petani agar tetap mempertahankan lahan pertaniannya," ungkap Dayu.
Persoalan berikutnya adalah air. Sistem Subak yang selama ratusan tahun menjadi denyut kehidupan pertanian Bali kini menghadapi tekanan akibat perubahan tata ruang dan menurunnya debit irigasi.
"Kalau air terlambat masuk ke sawah, pertumbuhan tanaman ikut terganggu. Petani harus benar-benar pandai mengatur jadwal tanam bersama," katanya.
Perubahan iklim juga membuat pola tanam semakin sulit diprediksi. Serangan wereng, tikus, burung, dan penyakit tanaman datang silih berganti. Di sisi lain, harga sarana produksi terus meningkat, sementara ketersediaan pupuk bersubsidi masih terbatas dan harga gabah sering berfluktuasi saat panen raya.
Namun menurut Dayu, tantangan yang paling mengkhawatirkan justru datang dari regenerasi petani.
"Anak-anak muda sekarang lebih banyak memilih bekerja di sektor pariwisata. Padahal pertanian juga membutuhkan generasi penerus. Kalau tidak ada yang mau bertani, siapa yang akan menjaga sawah Bali nanti?" tuturnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, semangatnya tidak pernah surut.
Hampir setiap hari ia turun ke sawah, berdiskusi dengan petani, memantau pertumbuhan tanaman, membantu menyelesaikan persoalan di lapangan, sekaligus mengenalkan berbagai inovasi budidaya dan pengendalian hama terpadu.
Dedikasi itu dirasakan langsung oleh para petani.
Kelian Subak di wilayah binaannya, I Made Oka Bawa, menilai Dayu bukan penyuluh yang hanya datang ketika ada program pemerintah.
"Bu Dayu hampir selalu ada saat petani membutuhkan. Kalau ada hama, masalah air, atau persoalan budidaya, beliau cepat turun ke sawah. Petani merasa tidak berjalan sendiri," ujarnya.
Senada dengan itu, petani muda asal Desa Kemenuh, I Wayan Budiartha subak Tengkulak, mengaku pendampingan Dayu membuat petani lebih percaya diri menghadapi perubahan iklim.
"Beliau tidak hanya memberi teori, tetapi ikut melihat kondisi tanaman di lapangan. Solusi yang diberikan sesuai dengan kondisi sawah kami. Itu yang membuat kami nyaman berdiskusi," katanya.
Perjalanan Dayu menjadi penyuluh pertanian bukanlah sesuatu yang instan.
Perempuan asal Bangli itu sempat bekerja di sektor pariwisata dan Bank Pasar Bangli sebelum bergabung sebagai tenaga honorer di Dinas Pertanian pada 2004. Semangat belajarnya tidak pernah padam. Sambil bekerja, ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Mahasaraswati pada 2008.
Kerja kerasnya membuahkan hasil ketika pada 2010 ia resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Penugasan pertama membawanya ke Desa Penglumbaran, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Di sanalah ia belajar memahami kehidupan petani dari dekat.
Tahun 2023 menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya ketika memilih beralih ke Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian. Sejak itu, sawah menjadi ruang kerjanya, sementara para petani menjadi keluarga yang setiap hari didampinginya.
Kini, di BPP Sukawati, langkahnya hampir tidak pernah jauh dari pematang sawah. Baginya, menjadi penyuluh bukan sekadar menyampaikan teknologi atau program pemerintah, melainkan membangun kepercayaan, menghadirkan solusi, dan memastikan petani tetap memiliki harapan.
"Kalau petani bisa panen lebih baik, itu sudah menjadi kebahagiaan bagi saya. Penyuluh tidak bisa bekerja dari balik meja. Kami harus hadir bersama petani," tuturnya.
Di tengah derasnya arus pembangunan yang terus menggerus lahan pertanian Bali, Ida Ayu Jambawati memilih tetap berada di pematang sawah. Menjaga bukan hanya tanaman padi yang tumbuh, tetapi juga semangat petani, kelestarian Subak, dan masa depan pertanian Pulau Dewata. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
5
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0