Penyuluh Perkuat P4S, Vanili Ambengan Naik Kelas
Pendampingan penyuluh pertanian mengubah kebun vanili di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, menjadi lebih dari sekadar lahan produksi. Melalui P4S Petani Muda Keren Perkumpulan Petani Vanili Singaraja Bali (PMK PPVSB), kebun itu berkembang menjadi ruang belajar yang melahirkan inovasi budidaya, pengolahan pascapanen, sekaligus mencetak petani-petani baru yang siap mengembangkan vanili lokal berkualitas.
Penyuluh Perkuat P4S, Vanili Ambengan Naik Kelas
BULELENG – Tingginya harga vanili yang sempat menjadi perhatian pada 2015 menjadi titik awal perjalanan I Wayan Rinaya menekuni komoditas bernilai ekonomi tinggi tersebut. Berkat ketekunan, semangat belajar, serta pendampingan penyuluh pertanian, ia kini sukses membangun Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Petani Muda Keren Perkumpulan Petani Vanili Singaraja Bali (PMK PPVSB) di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Tak sekadar membudidayakan vanili, P4S yang dipimpinnya kini berkembang menjadi pusat pembelajaran bagi petani dari berbagai daerah. Mulai dari teknik budidaya, pengendalian penyakit, hingga pengolahan pascapanen diajarkan secara langsung kepada peserta pelatihan.
Rinaya menuturkan, ketertarikannya terhadap vanili muncul karena prospek ekonomi yang menjanjikan. Berbekal pembelajaran mandiri yang dipadukan dengan pendampingan penyuluh pertanian lapangan (PPL), ia terus melakukan berbagai uji coba hingga menemukan teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi wilayah Ambengan.
"Pendampingan penyuluh memberi kami banyak masukan, mulai dari teknik budidaya hingga penanganan tanaman. Dari sana kami terus belajar dan mengembangkan metode yang lebih efektif," ujarnya.
Hasilnya, tanaman vanili yang memasuki usia produktif sekitar tiga hingga empat tahun mampu menghasilkan hingga 10 kilogram buah basah per tanaman atau setara sekitar 1,5 kilogram vanili kering.
Meski demikian, budidaya vanili bukan tanpa tantangan. Ancaman utama berasal dari penyakit busuk batang akibat cendawan Fusarium. Karena itu, Rinaya lebih mengedepankan langkah pencegahan melalui pengaturan drainase, pemilihan media tanam, serta pengelolaan kelembapan kebun agar tanaman tetap sehat.
Selain budidaya, P4S PMK PPVSB juga fokus pada pengolahan pascapanen. Buah vanili basah diproses menjadi polong vanili kering berkualitas premium yang kemudian dikemas menggunakan plastik vakum guna menjaga mutu produk.
Dalam setahun, kelompok ini mampu mengolah sekitar satu ton buah vanili basah. Setelah melalui proses curing dan pengeringan, bobot vanili menyusut dengan rasio sekitar 10:1 hingga 6:1, bergantung pada tingkat kematangan buah saat dipanen.
Produk vanili kering hasil olahan P4S kini dipasarkan dengan harga sekitar Rp1,5 juta per kilogram, sedangkan vanili basah berkisar Rp100 ribu per kilogram. Pemasarannya dilakukan melalui pembeli yang datang langsung maupun promosi digital melalui berbagai platform media sosial.
Ke depan, Rinaya berharap dukungan pemerintah untuk membangun demplot budidaya vanili dalam pot sebagai media pelatihan sekaligus percontohan teknologi budidaya. Rencana tersebut membutuhkan sekitar 50 pot dengan estimasi biaya Rp300 ribu per unit.
"Vanili memiliki prospek yang sangat baik apabila dikelola dengan benar, mulai dari budidaya hingga pascapanen. Melalui P4S ini kami ingin menjadi tempat belajar bagi petani yang ingin mengembangkan vanili. Harapan kami ke depan dapat difasilitasi pembangunan demplot vanili dalam pot sebagai media pembelajaran dan percontohan teknologi budidaya yang lebih efisien serta mudah diterapkan masyarakat," kata Rinaya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah binaan Desa Ambengan, Komang Trisna Wirakusuma, SP, menegaskan bahwa keberadaan P4S PMK PPVSB merupakan salah satu aset penting dalam pengembangan agribisnis vanili di Buleleng.
Menurutnya, peran penyuluh tidak hanya mendampingi proses budidaya, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan petani agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus menjadi pusat belajar bagi masyarakat.
"P4S PMK PPVSB telah membuktikan bahwa petani tidak hanya mampu menghasilkan vanili berkualitas, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bagi petani maupun generasi muda. Kami akan terus memperkuat sinergi antara penyuluh, petani, dan pemerintah agar inovasi budidaya maupun pengolahan vanili terus berkembang sehingga mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing vanili lokal," ujarnya.
Semangat berbagi pengetahuan yang dibangun melalui P4S PMK PPVSB menjadi bukti bahwa penyuluhan pertanian tidak berhenti pada peningkatan produksi semata. Lebih dari itu, penyuluhan telah melahirkan pusat pembelajaran yang mampu mencetak petani mandiri, memperkuat hilirisasi, serta mengangkat vanili lokal Ambengan sebagai komoditas unggulan yang memiliki daya saing tinggi di pasar.
Koresponden: Wira (BPP Sukasada)
Editor: JikWid/DND
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0