Puja: Tua Bukan Alasan Menolak Inovasi

Usia boleh menginjak 70 tahun, tetapi semangat belajar I Made Puja tak pernah surut. Petani asal Banjar Tegal Kangin, Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara itu menjadi bukti bahwa inovasi pertanian tidak mengenal batas usia. Berkat keberaniannya mencoba teknologi bawang merah asal biji dan pendampingan intensif penyuluh pertanian, Puja berhasil mengantarkan demplot yang dikelolanya menjadi contoh bagi petani lain.

Jun 26, 2026 - 06:44
 0  15
Puja: Tua Bukan Alasan Menolak Inovasi

Puja: Tua Bukan Alasan Menolak Inovasi

DENPASAR - Keriput di wajah I Made Puja menyimpan cerita panjang tentang perjuangan hidup. Di usia 70 tahun, petani asal Banjar Tegal Kangin, Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara itu masih aktif turun ke sawah. Bahkan, ia menjadi salah satu petani pelaksana demplot bawang merah asal biji (True Shallot Seed/TSS) yang sukses dipanen dalam kegiatan Farm Field Day Dinas Pertanian Kota Denpasar.

Keberhasilan tersebut bukanlah perjalanan yang mudah. Puja mengaku awalnya sempat ragu ketika ditawari mencoba teknologi bawang merah asal biji. Selama puluhan tahun bertani, ia terbiasa menggunakan umbi sebagai benih. Sementara teknologi TSS merupakan hal baru yang belum pernah ia praktikkan.

"Awalnya saya ragu karena belum pernah menanam bawang merah dari biji. Takut gagal juga ada. Tetapi Ibu Rully, penyuluh terus mendampingi dan memberikan penjelasan, sehingga saya memberanikan diri mencoba," ujarnya.

Lahir pada tahun 1953, kehidupan Puja sejak kecil tidak berjalan mudah. Ia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas III sekolah dasar. Saat itu kedua orang tuanya merantau ke wilayah Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Tak lama kemudian, keduanya meninggal dunia sehingga Puja harus menghentikan sekolah dan berjuang menjalani hidup dengan segala keterbatasan.

Masa mudanya dihabiskan dengan bekerja serabutan. Salah satu pekerjaan yang pernah digelutinya adalah menjadi tukang bangunan. Di sela-sela pekerjaannya, ia tetap mempertahankan hubungan dengan dunia pertanian yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.

Seiring waktu, Puja memilih lebih fokus mengelola sawah sebagai petani penggarap. Lahan garapan seluas sekitar 60 are menjadi sumber penghidupan keluarganya selama puluhan tahun. Dari lahan itulah ia membesarkan keluarga sekaligus mempertahankan tradisi bertani di tengah pesatnya perkembangan Kota Denpasar.

Meski tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, Puja tidak pernah menutup diri terhadap perubahan. Ketika penyuluh pertanian memperkenalkan teknologi bawang merah asal biji, ia memilih belajar dan mengikuti setiap arahan yang diberikan.

Menurutnya, pendampingan penyuluh menjadi faktor penting yang membuat dirinya berani mencoba teknologi baru tersebut. Penyuluh tidak hanya memberikan teori, tetapi juga hadir langsung di lapangan mendampingi petani mulai dari persemaian, penanaman, pemeliharaan hingga panen.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pertanian dan terutama para penyuluh yang selalu hadir mendampingi petani. Pendampingan seperti ini sangat kami butuhkan karena membuat petani lebih percaya diri mencoba inovasi baru. Harapan kami program ini bisa terus berlanjut dan dikembangkan di lahan yang lebih luas," katanya.

Keberhasilan demplot bawang merah asal biji yang dikelola Puja menjadi bukti bahwa inovasi pertanian dapat diterima oleh siapa saja, termasuk petani lanjut usia. Baginya, usia bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru dengan kemauan mencoba dan dukungan penyuluh, teknologi baru dapat menjadi jalan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.

Dari seorang anak desa yang terpaksa putus sekolah karena keadaan, pernah menjadi tukang bangunan, hingga kini menjadi petani yang dipercaya mengelola demplot inovasi, perjalanan hidup I Made Puja mengajarkan satu hal sederhana: kemauan untuk belajar sering kali lebih penting daripada keterbatasan yang dimiliki. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0