"Di Balik Omzet Jutaan Puyuh Ambengan, Ada Penyuluh"

Di balik produksi ribuan telur puyuh dan omzet jutaan rupiah yang dihasilkan setiap hari di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, ada peran penyuluh pertanian yang konsisten mendampingi peternak. Pendampingan tersebut turut mengantarkan usaha ternak puyuh milik Made Budi Darsana berkembang menjadi salah satu usaha peternakan rakyat yang menjanjikan di Kabupaten Buleleng.

Jun 25, 2026 - 05:32
 0  7
"Di Balik Omzet Jutaan Puyuh Ambengan, Ada Penyuluh"

"Di Balik Omzet Jutaan Puyuh Ambengan, Ada Penyuluh"

Dari sebuah kandang sederhana di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, ribuan telur puyuh dipanen setiap hari. Usaha yang awalnya dipilih karena membutuhkan modal relatif ringan itu kini menjelma menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi pemiliknya.

Adalah Made Budi Darsana, 35, peternak muda yang telah menekuni budidaya puyuh petelur selama empat tahun terakhir. Di tengah dominasi usaha peternakan ayam dan sapi, ia justru memilih jalur berbeda dengan mengembangkan ternak puyuh yang dinilainya lebih terjangkau untuk dirintis secara bertahap.

“Awalnya saya melihat kebutuhan modal untuk ternak puyuh lebih ringan. Bibit dan pakannya masih bisa dijangkau, sehingga cocok untuk usaha yang berkembang sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Keputusan itu terbukti tepat. Saat ini, Made Budi memelihara sekitar 4.000 ekor burung puyuh petelur. Seluruh bibit didatangkan dari Pulau Jawa dengan harga sekitar Rp15.000 per ekor saat memasuki masa produksi. Dalam siklus pemeliharaannya, puyuh mampu bertelur produktif selama kurang lebih satu tahun sebelum diafkir dan diganti dengan bibit baru agar produksi tetap optimal.

Di balik tingginya produksi, kebutuhan pakan menjadi komponen biaya terbesar. Setiap hari, sekitar 100 kilogram pakan khusus puyuh harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan ribuan ternak tersebut. Dengan harga pakan mencapai Rp353 ribu per 50 kilogram, efisiensi usaha menjadi kunci menjaga keuntungan.

Selain pakan, kesehatan ternak juga mendapat perhatian serius. Made Budi rutin memberikan vitamin serta antibiotik alami racikan sendiri yang dibuat dari kunyit dan bawang putih untuk menjaga daya tahan tubuh puyuh.

Perawatan yang konsisten membuahkan hasil manis. Dalam kondisi optimal, 4.000 ekor puyuh mampu menghasilkan sekitar 40 kerat telur per hari. Dengan satu kerat berisi 90 butir, produksi harian mencapai sekitar 3.600 butir telur.

Telur-telur tersebut dipasarkan kepada pedagang pasar dan pelanggan tetap yang tersebar di wilayah Seririt, Banyuning, hingga Kerobokan. Dengan harga jual berkisar Rp35.000 hingga Rp40.000 per kerat, usaha tersebut mampu menghasilkan omzet jutaan rupiah per hari dengan tingkat keuntungan mencapai 30 hingga 40 persen.

Namun, perjalanan usaha itu tidak selalu mulus. Ketersediaan pakan khusus puyuh menjadi tantangan yang kerap dihadapi. Ketika pasokan pakan langka, ia terpaksa menggunakan pakan ayam sebagai alternatif. Dampaknya langsung terasa pada produktivitas ternak.

“Kalau pakan puyuh tidak tersedia dan diganti dengan pakan ayam, produksi telur biasanya menurun. Ini menjadi salah satu tantangan yang sering kami hadapi,” ungkapnya.

Ke depan, Made Budi berencana menambah populasi ternak sekaligus memindahkan kandang ke lokasi yang lebih representatif guna meningkatkan produktivitas dan kenyamanan pemeliharaan.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Binaan Desa Ambengan, Komang Trisna Wirakusuma, SP, menilai usaha ternak puyuh petelur memiliki prospek cerah sebagai sumber pendapatan alternatif masyarakat pedesaan.

Menurutnya, puyuh memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari siklus produksi yang cepat, kebutuhan lahan yang relatif terbatas, hingga permintaan pasar yang masih stabil. Meski demikian, keberhasilan usaha sangat bergantung pada manajemen pemeliharaan, terutama dalam penyediaan pakan, sanitasi kandang, dan pengendalian kesehatan ternak.

“Usaha ternak puyuh petelur seperti yang dikembangkan Pak Made Budi menunjukkan bahwa peternakan skala rumah tangga memiliki peluang ekonomi yang sangat baik. Dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan sarana produksi yang memadai, usaha ini dapat terus berkembang dan memberikan nilai tambah bagi peternak,” jelasnya.

Ia berharap keberhasilan yang diraih Made Budi dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk mengembangkan usaha agribisnis yang produktif dan berkelanjutan. Kisah dari Ambengan tersebut membuktikan bahwa ketekunan, inovasi, dan manajemen usaha yang baik mampu mengubah kandang sederhana menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Koresponden: Wira (BPP Sukasada)

Editor: JikWid/DND

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0