Penyuluh Kawal Petani Gelgel Tuai Hasil Gemilang
KLUNGKUNG – Tawa riang pecah di tengah hamparan padi menguning di Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung. Bukan tanpa alasan. Di balik suasana penuh keakraban antara petani dan penyuluh pertanian itu, tersimpan kisah perjuangan menghadapi cuaca tak menentu dan ancaman hama yang akhirnya berbuah produktivitas mencapai 8,86 ton per hektare.
Penyuluh Kawal Petani Gelgel Tuai Hasil Gemilang
Hamparan padi menguning di Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung, Selasa pagi, tak hanya menghadirkan pemandangan yang meneduhkan mata. Gelak tawa para petani dan penyuluh pertanian yang pecah di tengah sawah membuat suasana pengambilan sampel ubinan jauh dari kesan kaku. Di atas lahan seluas 25 are milik Ketut Suartana, kebersamaan dan keakraban justru menjadi warna utama dalam kegiatan yang dikawal langsung oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah binaan Desa Gelgel, Ni Putu Wulan Tristiana, S.P.
Bersama tim BPP Kecamatan Klungkung, Wulan tak hanya mendampingi proses ubinan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang petani menghadapi cuaca tak menentu serta ancaman hama selama musim tanam. Pendampingan yang intens itu akhirnya berbuah manis ketika hamparan padi Inpari 32 milik Ketut Suartana siap dipanen dengan hasil yang menggembirakan.
Dengan jaket penahan angin dan senyum yang tak lepas dari wajah mereka, para penyuluh tampak sigap memotong dan mengumpulkan rumpun-rumpun padi varietas Inpari 32 yang telah menguning sempurna. Tidak ada sekat antara petani dan penyuluh. Peluh yang menetes di bawah terik matahari seolah terbayar oleh suasana kekeluargaan yang tercipta selama proses ubinan berlangsung.
Namun, keberhasilan panen kali ini tidak diraih dengan mudah. Beberapa bulan sebelumnya, Ketut Suartana sempat diliputi kekhawatiran akibat cuaca yang tak menentu. Hujan yang datang tiba-tiba disusul panas menyengat memicu kelembapan tinggi yang menjadi kondisi ideal bagi berkembangnya organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Belum lagi ancaman hama wereng dan penyakit blas yang sempat menghantui pertanaman padinya. Bahkan, sebulan lalu, ia mengaku sempat dibuat waswas karena khawatir serangan OPT akan menggerus hasil panen.
"Jujur, saya sempat ketar-ketir. Cuaca tidak menentu membuat tanaman sangat rentan terserang hama. Beruntung teman-teman PPL dan tim POPT dari BPP Kecamatan Klungkung rutin turun ke sawah memberikan pendampingan, mulai dari pengamatan hingga teknik pengendalian yang tepat," kenang Ketut Suartana.
Kerja keras dan kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Saat proses ubinan selesai dilakukan, timbangan digital menunjukkan berat gabah sebesar 5,54 kilogram. Setelah dikonversi, produktivitas tanaman padi mencapai 8,86 ton per hektare.
Angka tersebut langsung disambut senyum lebar Ketut Suartana. Segala kegelisahan, biaya tambahan, hingga malam-malam penuh kekhawatiran selama musim tanam seakan terbayar lunas.
"Lega sekali rasanya. Hasil ini jauh di atas perkiraan saya. Semua lelah selama menghadapi cuaca buruk akhirnya terbayar. Terima kasih kepada seluruh tim penyuluh yang tidak pernah bosan mendampingi kami," ujarnya penuh syukur.
Potret kebersamaan di sawah Desa Gelgel itu menjadi gambaran bahwa menjaga ketahanan pangan tidak hanya soal teknologi dan angka produksi. Kedekatan yang humanis, respons cepat terhadap persoalan di lapangan, serta pendampingan yang berkelanjutan menjadi modal penting bagi para penyuluh pertanian dalam membantu petani melewati masa-masa sulit hingga mampu memanen hasil yang membanggakan.
Koresponden: Anom Wijaya
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0