"Kreativitas Penyuluh, Bentengi Sawah dari OPT"
Kreativitas penyuluh pertanian di Kecamatan Negara, Jembrana, patut diapresiasi. Bersama petani, mereka membangun petak pengamatan tetap yang berfungsi sebagai benteng awal menghadapi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Dari petak inilah berbagai ancaman terhadap tanaman padi dipantau sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
"Kreativitas Penyuluh, Bentengi Sawah dari OPT"
Upaya menjaga swasembada pangan di Kecamatan Negara, Jembrana, kini dilakukan dengan cara yang lebih terukur. Para penyuluh pertanian bersama petani membangun "alarm" dini melalui petak pengamatan tetap yang tersebar di sejumlah hamparan sawah. Dari petak-petak inilah pertumbuhan tanaman dan potensi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dipantau secara berkala sebelum berkembang menjadi ancaman yang merugikan petani.
Inovasi tersebut lahir dari pemikiran para penyuluh BPP Kecamatan Negara, I Made Suarnawa, S.ST., Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Kaliakah I Nyoman Widnyana Putra, S.P., Koordinator POPT Kabupaten Jembrana sekaligus penanggung jawab wilayah Kecamatan Negara Anak Agung Gede Garba Yogantara, S.P., bersama para petani. Mereka bersinergi, melihat pentingnya sistem peringatan dini di tingkat petani. Mewujudkan melalui pembentukan petak pengamatan tetap sebagai instrumen deteksi dini untuk menjaga produktivitas padi dan mengantisipasi serangan hama maupun penyakit tanaman secara lebih efektif.
Setiap petak pengamatan dipantau secara rutin setiap pekan. Berbagai parameter pertumbuhan tanaman, mulai dari tinggi tanaman, jumlah anakan, hingga keberadaan OPT, dicatat dan dianalisis sebagai dasar pengambilan keputusan dalam penerapan pengendalian hama terpadu.
Pengamatan terbaru dilaksanakan pada Selasa (23/6) di Subak Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara. Hamparan sawah yang didominasi varietas Inpari 32 dengan umur tanaman 29 hari setelah tanam (HST) menjadi lokasi pengamatan kedua sejak program ini berjalan.
Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata tinggi tanaman mencapai 39,4 sentimeter dengan jumlah anakan sebanyak 21,3 per rumpun. Namun demikian, tim juga menemukan adanya serangan penggerek batang padi yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman apabila tidak segera ditangani.
Koordinator BPP Kecamatan Negara, I Made Suarnawa, S.ST., mengatakan keberadaan petak pengamatan tetap merupakan instrumen penting dalam memperkuat sistem peringatan dini terhadap serangan OPT. Menurutnya, keberhasilan menjaga produktivitas padi tidak hanya ditentukan oleh pemupukan dan pengelolaan air, tetapi juga kemampuan mendeteksi ancaman sejak dini.
"Petak pengamatan tetap ini kami bangun sebagai sarana belajar bersama sekaligus alat deteksi dini di lapangan. Dengan pengamatan yang dilakukan secara rutin setiap minggu, perkembangan tanaman maupun keberadaan OPT dapat diketahui lebih cepat sehingga tindakan pengendalian bisa dilakukan secara tepat dan tidak terlambat," ujarnya.
Ia menegaskan, sinergi antara PPL, POPT, dan petani menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi padi di Kecamatan Negara.
"Kami ingin petani tidak hanya menjadi pelaku budidaya, tetapi juga mampu menjadi pengamat di lahannya sendiri. Ketika petani memahami kondisi tanamannya sejak awal, pengendalian dapat dilakukan lebih efektif dan risiko kehilangan hasil dapat ditekan," tegasnya.
Hama penggerek batang padi sendiri dikenal sebagai salah satu musuh utama tanaman padi. Pada fase vegetatif, serangannya menimbulkan gejala sundep, sedangkan pada fase generatif dapat menyebabkan beluk. Jika tidak dikendalikan, serangan hama ini berpotensi menurunkan produktivitas bahkan menyebabkan kehilangan hasil panen.
Karena itu, sejumlah langkah pengendalian terus didorong, mulai dari pengamatan rutin dan pelaporan dini, penerapan tanam serempak untuk memutus siklus hidup hama, pemungutan kelompok telur penggerek batang, pelestarian musuh alami seperti parasitoid telur, hingga penggunaan pestisida secara bijaksana sesuai rekomendasi dan ambang pengendalian.
Salah seorang petani di Subak Pangkung Buluh, I Ketut Merta, mengaku keberadaan petak pengamatan tetap memberi manfaat nyata bagi petani dalam menghadapi ancaman hama di lapangan.
"Kegiatan ini sangat penting bagi kami. Petani menjadi lebih memahami cara mengenali dan mengendalikan hama maupun penyakit tanaman. Dengan pengamatan rutin, kami bisa lebih cepat mengambil tindakan sebelum serangan semakin parah," katanya.
Bagi petani, petak pengamatan bukan sekadar titik pengamatan di tengah hamparan sawah. Lebih dari itu, petak tersebut menjadi ruang belajar bersama yang membantu petani memahami kondisi tanaman secara langsung dan mengambil keputusan berdasarkan fakta di lapangan.
Dari petak-petak sederhana itulah semangat menjaga ketahanan pangan terus dirawat. Sebuah ikhtiar yang mungkin tidak selalu terlihat, namun menjadi benteng awal untuk memastikan sawah tetap produktif, panen tetap terjaga, dan kesejahteraan petani terus tumbuh.
Koresponden: Widnyana
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0