Berburu Inovasi, Penyuluh Denpasar Kepincut Tabela Bawang Merah
Keikutsertaan Kontingen Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Denpasar pada Pekan Nasional (Penas) KTNA XVII Tahun 2026 di Gorontalo tidak hanya dimanfaatkan untuk mengejar prestasi. Di sela berbagai agenda kegiatan, para peserta dan penyuluh juga aktif berburu inovasi pertanian yang berpotensi diterapkan di daerah. Salah satu yang menarik perhatian adalah teknologi budidaya bawang merah dengan sistem Tanam Benih Langsung (Tabela).
Berburu Inovasi, Penyuluh Denpasar Kepincut Tabela Bawang Merah
Kontingen KTNA Kota Denpasar bertolak ke Gorontalo untuk mengikuti Penas KTNA XVII Tahun 2026. Ketua KTNA Kota Denpasar, I Wayan Merta Jiwa, mengungkapkan sebanyak delapan peserta utama diberangkatkan sebagai wakil Bali. Mereka didampingi lima orang pendamping, termasuk Ketua Tim Kerja (Katimker) Penyuluhan Kota Denpasar, Luh Ketut Ayu Sukarmi, S.P.
Dalam ajang nasional yang mempertemukan petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku agribisnis dari seluruh Indonesia itu, kontingen Denpasar mengikuti tiga cabang perlombaan, yakni peragaan hasil olahan kakul (siput sawah), asah terampil pertanian, serta unjuk tangkas ketangkasan tani.
Namun, bagi para penyuluh dan petani, Penas KTNA juga menjadi ruang belajar yang sarat pertukaran informasi dan teknologi. Karena itu, rombongan Denpasar memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi berbagai stan pameran inovasi pertanian yang menampilkan teknologi dan praktik terbaik dari berbagai daerah.
Salah satu stan yang mendapat perhatian khusus adalah pameran benih bawang merah biji atau True Shallot Seed (TSS). Teknologi tersebut menawarkan metode budidaya melalui sistem Tanam Benih Langsung (Tabela), tanpa melalui tahapan persemaian dan pindah tanam yang selama ini umum dilakukan petani.
Katimker Penyuluhan Kota Denpasar, Luh Ketut Ayu Sukarmi, mengaku tertarik dengan teknologi tersebut karena dinilai mampu menjawab salah satu kendala utama dalam budidaya bawang merah.
“Dalam budidaya bawang merah, salah satu fase yang cukup kritis adalah saat transplanting atau pindah tanam dari persemaian ke lahan. Pada fase ini tanaman rentan mengalami stres yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil produksi,” ujarnya saat meninjau stan pameran.
Menurut Ayu Sukarmi, sistem Tabela memungkinkan benih ditanam langsung di lahan sehingga risiko stres tanaman akibat proses pindah tanam dapat diminimalkan. Selain itu, metode ini juga berpotensi menghemat tenaga kerja, mempercepat proses tanam, dan meningkatkan efisiensi usaha tani.
“Ini menjadi salah satu inovasi yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Jika sesuai dengan kondisi lapangan, bukan tidak mungkin dapat menjadi alternatif teknologi yang diterapkan petani di Denpasar,” tambahnya.
Sementara itu, Merta Jiwa menegaskan bahwa keikutsertaan KTNA Denpasar dalam Penas KTNA XVII bukan semata-mata untuk mengikuti perlombaan. Lebih dari itu, ajang ini menjadi momentum peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian melalui transfer pengetahuan dan teknologi.
“Penas merupakan wadah yang sangat baik untuk belajar dari pengalaman daerah lain. Banyak inovasi yang dapat diadopsi, baik di bidang budidaya, pascapanen, pengolahan hasil, maupun pengembangan usaha agribisnis,” katanya.
Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring dengan pelaku utama maupun pelaku usaha pertanian dari berbagai provinsi.
“Harapan kami, peserta tidak hanya membawa pulang pengalaman dan prestasi, tetapi juga membawa teknologi, ide, serta semangat baru yang nantinya dapat ditularkan kepada kelompok tani di Kota Denpasar,” pungkasnya. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0