Tak Mau Pulang Tangan Kosong, Dua Srikandi BPP Gianyar Bidik PM-AAS

LIMBOTO – Langkah mereka tak hanya mengawal petani. Dua srikandi penyuluh pertanian Kabupaten Gianyar juga sibuk menyusuri stan demi stan di arena PENAS KTNA XVII Gorontalo. Misinya jelas: tak mau pulang tangan kosong dan membawa pulang teknologi PM-AAS untuk kemajuan pertanian Gianyar.

Jun 23, 2026 - 05:31
 0  43
Tak Mau Pulang Tangan Kosong, Dua Srikandi BPP Gianyar Bidik PM-AAS

Tak Mau Pulang Tangan Kosong, Dua Srikandi BPP Gianyar Bidik PM-AAS

LIMBOTO – Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Kabupaten Gorontalo tak hanya menjadi ajang silaturahmi insan pertanian dari seluruh Indonesia. Bagi kontingen Kabupaten Gianyar, Bali, perhelatan nasional ini juga dimanfaatkan sebagai arena berburu inovasi dan teknologi pertanian modern.

Di tengah ribuan peserta yang memadati lokasi kegiatan, dua srikandi penyuluh pertanian Gianyar, Ni Nyoman Apriani, SP dari BPP Gianyar dan Ni Kadek Sintya Dewi, SP dari BPP Blahbatuh, tampil aktif mengawal petani binaan sekaligus menyerap berbagai terobosan terbaru di bidang pertanian.

Kehadiran keduanya membawa misi penting, yakni memperkuat pendampingan teknis serta menjadi jembatan transfer teknologi bagi petani di Kabupaten Gianyar. Sejumlah stan pameran dari berbagai provinsi mereka susuri satu per satu untuk mengamati perkembangan teknologi yang berpotensi diterapkan di daerah.

Berburu Teknologi PM-AAS

Perhatian mereka tertuju pada konsep Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang kini menjadi salah satu arah pengembangan pertanian nasional. Beragam inovasi dipelajari, mulai dari teknologi agronomi digital, pemanfaatan sensor tanah berbasis Internet of Things (IoT), hingga benih jagung bioteknologi yang lebih adaptif menghadapi perubahan iklim dan serangan organisme pengganggu tanaman.

"Banyak inovasi luar biasa yang bisa kami pelajari di sini," ujar Ni Nyoman Apriani di sela-sela kunjungannya ke stan pameran pembangunan pertanian.

Menurutnya, tugas penyuluh tidak berhenti pada melihat dan mengagumi teknologi yang dipamerkan. Yang lebih penting adalah memilih inovasi yang benar-benar sesuai dengan karakteristik pertanian di Gianyar.

"Tugas kami setelah ini adalah menyaring teknologi yang paling cocok dan adaptif untuk dikembangkan di Gianyar, sehingga manfaatnya benar-benar bisa dirasakan oleh petani," tegasnya.

Membawa Pulang Inspirasi untuk Petani

Hal senada disampaikan Ni Kadek Sintya Dewi. Menurutnya, PENAS KTNA XVII merupakan ruang belajar yang sangat berharga bagi para penyuluh pertanian. Interaksi langsung dengan berbagai inovator dan pelaku usaha pertanian membuka perspektif baru dalam pengelolaan usaha tani yang lebih efisien dan berdaya saing.

"Kami mendapatkan banyak referensi baru. Semangat dan keberhasilan daerah lain menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pendampingan kepada petani di Gianyar," ungkapnya.

Bagi kedua penyuluh tersebut, perjalanan ke Bumi Serambi Madinah tidak boleh berakhir hanya dengan dokumentasi dan cerita perjalanan. Ada bekal ilmu dan teknologi yang harus dibawa pulang untuk diterapkan bersama petani.

"Kami datang bukan sekadar melihat-lihat. Banyak hal konkret yang ingin kami serap dan bawa pulang. Harapannya, ada inovasi yang bisa segera diterapkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani Gianyar," pungkasnya. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0