Cece Buktikan Hilirisasi Sorgum Dongkrak Ekonomi Desa
Dari lahan kecil di Desa Panji, Buleleng, Liman Dewi membuktikan bahwa hilirisasi mampu mengubah komoditas lokal menjadi produk bernilai tinggi. Melalui Tara Cakes, sorgum yang dulu dipandang sebelah mata kini naik kelas menjadi kue sehat yang menembus pasar luar daerah.
Cece Buktikan Hilirisasi Sorgum Dongkrak Ekonomi Desa
Dari Lahan 3 Are, Cece Sulap Panen Jadi Kue Sehat Bernilai Tinggi
Di tengah pandemi COVID-19, banyak usaha tumbang. Namun tidak bagi Liman Dewi. Perempuan kelahiran Pasuruan, justru menemukan jalan baru. Dari seorang akuntan pajak, ia bertransformasi pelaku menjadi UMKM pangan sehat berbasis sorgum di Desa Panji, Kabupaten Buleleng .
Liman Dewi akrab disapa Cece, memulai semuanya dari nol. Tanpa latar belakang kuliner, ia hanya berbekal rasa penasaran dan tekad untuk bangkit. Dari lahan kecil seluas 3 are di Banjar Dinas Mandul, ia mulai menanam dan mengolah sorgum komoditas lokal yang sempat terpinggirkan.
Langkah kecil itu kini menjelma menjadi Tara Cakes , UMKM yang dikenal dengan produk olahan sorgum kekinian. Cece menyulap hasil panen menjadi aneka produk bernilai tambah. Bolu lembut, roti, cookies renyah, hingga brownies. Harganya terjangkau, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp45 ribu, namun menawarkan kualitas dan manfaat kesehatan yang tinggi.
Inilah wujud nyata hilirisasi. Cece tidak berhenti pada budidaya, tetapi mengolah hingga produk siap dikonsumsi dan dipasarkan langsung. Produksi Tara Cakes kini mencapai sekitar 250 kotak per jenis setiap bulan, dengan omzet rata-rata Rp7 juta. Pasarnya pun meluas, tidak hanya di Bali, tetapi juga merambah Surabaya melalui pemasaran digital.
Keunggulan produknya terletak pada bahan bakunya. Sorgum dikenal bebas gluten, tinggi protein, dan lebih ramah bagi pencernaan. Cece juga menghadirkan varian vegan dan rendah gula, sejalan dengan tren gaya hidup sehat. Tekstur produknya pun khas. Lembut pada bolu dan brownies, serta renyah pada cookies memberikan pengalaman berbeda bagi konsumen.
Bagi Cece, sorgum bukan sekedar komoditas. Ia melihatnya sebagai identitas lokal yang layak diangkat. Menurutnya, sorgum memiliki potensi besar menjadi oleh-oleh khas Buleleng jika dikembangkan secara serius dari hulu hingga hilir.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Ia sempat membuka toko fisik selama dua tahun, namun harus menutupnya karena fokus pada usaha homestay. Kini, produksi tetap berjalan dengan dukungan dua tenaga harian lepas. Untuk menjaga pasokan bahan baku, Cece menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Tulus Bakti Desa Panji sebagai pemasok tepung sorgum.
Dukungan dari berbagai pihak turut memperkuat usahanya. Mulai dari fasilitasi HAKI oleh dinas terkait, pendampingan budidaya oleh penyuluh pertanian, hingga akses pasar melalui kegiatan pasar tani. Legalitas usaha pun diperoleh melalui layanan OSS dengan dukungan PLUT.
Prestasi demi prestasi pun diraih. Tahun 2023, Tara Cakes meraih Juara 2 Lomba Cipta Menu. Tahun 2024 masuk 10 besar UMKM terbaik. Bahkan pada tahun 2025, Tara Cakes menempati peringkat 4 nasional dalam ajang Sisberdaya Womenpreneur dari aplikasi DANA.
Penyuluh pertanian Desa Panji, Luh Putu Indrayani, menilai apa yang dilakukan Cece sebagai contoh konkret hilirisasi pertanian yang berhasil.
“Ini yang kami dorong. Petani tidak hanya menanam, tetapi juga mengolah dan memasarkan. Sorgum yang dulu kurang diminati, kini punya nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sorgum sangat potensial dikembangkan di Buleleng karena tahan terhadap kondisi kering serta memiliki kandungan gizi tinggi, sehingga cocok sebagai pangan alternatif masa depan.
Dari lahan kecil di Desa Panji, sebuah cerita besar tumbuh. Tentang keberanian memulai, tentang jatuh lalu bangkit, dan tentang potensi lokal yang diolah dengan cinta. Liman Dewi telah membuktikan, masa depan pangan sehat kadang tidak selalu datang dari industri besar, justru lahir dari dapur sederhana dan tangan yang tak pernah berhenti mencoba.
Koresponden: DND
Editor: JiKWid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0