Ulan Wibawani: Mengawal Mutu, Menjaga Masa Depan Padi

Di balik tingginya produktivitas padi, ada satu faktor yang kerap luput dari perhatian petani. Bukan pupuk, bukan pula irigasi. Fondasinya justru dimulai dari benih. Dari benih bermutu, produktivitas dan keberhasilan budidaya ditentukan sejak awal.

May 27, 2026 - 04:34
 0  47
Ulan Wibawani: Mengawal Mutu, Menjaga Masa Depan Padi

Ulan Wibawani:

Mengawal Mutu, Menjaga Masa Depan Padi

Suasana di BPP Tegallalang, Gianyar, saat temu teknis penyuluh pertanian se-Kabupaten Gianyar terasa berbeda. Di tengah pembahasan programa, penguatan kapasitas, hingga pelaporan digital, satu materi menyedot perhatian peserta. Materi itu berjudul “Mengawal Mutu, Meningkatkan Produksi Perbenihan Padi” yang disampaikan oleh Ni Made Ulan Wibawani, S.P., M.P.

Keramahan Ni Made Ulan Wibawani langsung terasa sejak awal sesi dimulai. Perempuan asal Bale Agung, Jembrana, itu menyampaikan materi dengan bahasa yang ringan dan tidak berjarak. Pembawaannya tenang, tetapi isi materinya padat. Di balik kesederhanaannya, tersimpan pengalaman panjang yang membentuknya menjadi salah satu sosok yang tekun mengawal mutu perbenihan.

Perjalanannya di dunia pertanian tidak dibangun dalam waktu singkat. Ketertarikannya pada sektor pertanian membawanya menempuh pendidikan S1 Agronomi di Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Semangat belajarnya berlanjut hingga meraih gelar Magister Pertanian Lahan Kering di kampus yang sama. Bekal akademik itu kini mengantarkannya mengemban amanah sebagai Koordinator Pengawas Benih Tanaman pada UPTD Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bali.

Bagi Ulan, cerita tentang hasil panen yang baik sesungguhnya dimulai jauh sebelum padi menguning di sawah. Semuanya berawal dari benih. Sebab menurutnya, benih bukan hanya media tanam, melainkan pondasi utama keberhasilan budidaya. Bahkan, benih unggul bermutu disebut mampu menentukan sekitar 70 persen keberhasilan produksi padi.

"Investasinya sebenarnya murah. Biaya benih hanya sekitar lima persen dari total biaya produksi, tetapi dampaknya paling besar terhadap hasil," ungkapnya di hadapan para penyuluh.

Pernyataan itu membuat peserta mengangguk. Sebab di lapangan, banyak petani masih berorientasi menekan biaya tanpa memperhatikan kualitas benih yang digunakan.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi juga tidak sedikit. Ulan menyoroti maraknya peredaran benih ilegal, penggunaan benih kedaluwarsa, hingga penurunan mutu varietas yang berpotensi menekan produktivitas petani.

Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan pengawasan sekaligus edukasi yang berkelanjutan. Peran penyuluh menjadi penting sebagai ujung tombak pendampingan petani agar lebih selektif dalam memilih benih.

Ia menjelaskan, sertifikasi benih merupakan serangkaian pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan dalam rangka penerbitan sertifikat benih. Tujuannya menjaga kemurnian genetik dan mutu dari varietas benih yang dihasilkan.

"Sertifikasi bukan hanya soal administrasi, tetapi jaminan mutu agar benih yang sampai ke petani benar-benar sesuai standar," jelasnya.

Bagi Ulan, menjaga mutu benih sejatinya bukan hanya mengawal sebutir padi. Lebih dari itu, menjaga keberlanjutan produksi, pendapatan petani, hingga ketahanan pangan di masa depan. (JikWid/Windu)

What's Your Reaction?

Like Like 4
Dislike Dislike 0
Love Love 3
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0