Penyuluh Gerakkan Hilirisasi Kelapa, Batok Pun Bernilai
Pendampingan penyuluh pertanian tak lagi sebatas meningkatkan produksi di tingkat petani. Melalui hilirisasi yang didorong Kementerian Pertanian, penyuluh kini mengawal lahirnya usaha-usaha bernilai tambah. Salah satunya tampak pada usaha Gede Budi Setyawan, pelaku usaha asal Kubutambahan, Buleleng, yang mengolah kelapa menjadi kopra dan aneka suvenir berbahan batok sehingga mampu menembus pasar luar Bali sekaligus membuka lapangan kerja.
Penyuluh Gerakkan Hilirisasi Kelapa, Batok Pun Bernilai
GIANYAR – Pendampingan penyuluh pertanian kini tidak lagi berhenti pada peningkatan produksi di lahan. Melalui hilirisasi yang didorong Kementerian Pertanian, penyuluh turut menggerakkan pelaku usaha untuk mengolah komoditas pertanian menjadi produk bernilai tambah. Salah satu contoh nyata hadir di wilayah binaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukawati, Kabupaten Gianyar, di mana kelapa diolah tidak hanya menjadi kopra, tetapi juga menjadi aneka suvenir berbahan batok yang memiliki nilai ekonomi.
Praktik hilirisasi tersebut dijalankan Gede Budi Setyawan, pelaku usaha asal Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Di bawah pendampingan Penyuluh Pertanian BPP Sukawati, kabupaten Gianyar, usaha yang berlokasi di Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar itu berkembang dengan memanfaatkan hampir seluruh bagian kelapa sehingga menghasilkan nilai tambah dan meminimalkan limbah.
Selain memproduksi kopra, Gede mengolah limbah batok kelapa menjadi berbagai produk kerajinan, seperti gantungan kunci, hiasan, dan suvenir yang dipasarkan ke sejumlah artshop di Bali. Sementara itu, hasil kopra dipasarkan ke luar Bali untuk memenuhi kebutuhan industri.
Usaha tersebut saat ini mempekerjakan dua orang karyawan. Untuk menjaga kesinambungan produksi, Gede membeli bahan baku dari petani dengan harga sekitar Rp11 ribu per kilogram. Setelah melalui proses pengeringan dan pengolahan, kopra dijual kepada pengepul dengan kisaran harga Rp13 ribu per kilogram. Adapun produk kerajinan batok kelapa dipasarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp6 ribu hingga Rp15 ribu per buah, bergantung pada jenis dan tingkat kerumitannya.
Menurut Gede, pemanfaatan seluruh bagian kelapa menjadi produk bernilai ekonomi memberikan manfaat ganda. Selain meningkatkan pendapatan usaha, langkah tersebut juga mengurangi limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
"Batok kelapa yang dulu hanya menjadi limbah, sekarang bisa diolah menjadi berbagai suvenir yang memiliki nilai jual. Dengan begitu, hampir tidak ada bagian kelapa yang terbuang," ujarnya.
Koordinator BPP Sukawati, Ni Ketut Poliadi, S.P., mengatakan hilirisasi merupakan salah satu strategi Kementerian Pertanian untuk meningkatkan daya saing komoditas pertanian melalui penciptaan nilai tambah di tingkat petani dan pelaku usaha. Menurutnya, penyuluh memiliki peran penting dalam mendampingi proses tersebut, mulai dari identifikasi potensi, pengembangan inovasi, hingga penguatan jejaring pemasaran.
"Pendampingan penyuluh tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong petani dan pelaku usaha agar mampu mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Hilirisasi seperti ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat daya saing komoditas lokal," jelasnya.
Pendampingan yang dilakukan Penyuluh Pertanian menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi komoditas kelapa di tingkat lapangan. Melalui pembinaan berkelanjutan, pelaku usaha didorong memanfaatkan seluruh potensi kelapa, termasuk limbah batok, sehingga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah sekaligus memperluas peluang pasar.
Keberhasilan usaha Gede Budi Setyawan menunjukkan bahwa hilirisasi bukan sekadar konsep, melainkan dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara pelaku usaha dan penyuluh pertanian. Ketika inovasi, kreativitas, dan pendampingan berjalan beriringan, komoditas kelapa tidak lagi berhenti sebagai bahan baku, tetapi berkembang menjadi berbagai produk bernilai ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Koresponden: I Wayan Janu Wirawan, BPP Sukawati Gianyar
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0