Yan Janu: Menjembatani Petani, Menopang Ekonomi Keluarga Lewat Peternakan Ayam
Jarum jam belum menunjukkan pukul delapan pagi ketika awak media PERHIPTANI bertemu I Wayan Janu Wirawan, S.Pt. di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukawati. Bagi pria asal Singakerta, Ubud, itu, setiap hari selalu dimulai dengan satu tujuan, memastikan petani yang didampinginya tidak berjalan sendiri. Di balik tugas sebagai penyuluh, ia juga mengelola peternakan ayam yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Yan Janu:
Menjembatani Petani, Menopang Ekonomi Keluarga Lewat Peternakan Ayam
GIANYAR – Pagi baru saja dimulai ketika awak media PERHIPTANI bertemu I Wayan Janu Wirawan, S.Pt. di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukawati. Beberapa saat lagi ia akan berangkat mendampingi kelompok tani di wilayah binaannya. Bagi penyuluh asal Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, itu, mengabdi kepada petani dan mengelola peternakan bukanlah dua dunia yang berbeda. Keduanya berjalan beriringan, menjadi jalan hidup yang dijalaninya dengan penuh ketekunan untuk menjembatani petani sekaligus menopang ekonomi keluarganya.
Sosok yang akrab disapa Yan Janu itu lahir di Gianyar dan tumbuh di Desa Singakerta. Ketertarikannya pada dunia pertanian tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh seiring perjalanan hidupnya. Ia mengenyam pendidikan di SD Negeri 3 Singakerta, melanjutkan ke SMP Negeri 2 Ubud, kemudian menempuh pendidikan di SMK Negeri 1 Mas Ubud dengan jurusan Multimedia. Meski sempat menekuni bidang yang berbeda, kecintaannya pada sektor agraris membawanya melanjutkan studi di Program Studi Peternakan Universitas Warmadewa hingga meraih gelar Sarjana Peternakan pada 2017.
Selepas kuliah, Yan Janu memilih mengabdikan ilmunya di Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Sejak 2018 hingga 2025, ia bekerja sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) pada Bidang Perkebunan. Bertahun-tahun berinteraksi dengan petani memberinya pengalaman berharga dalam memahami persoalan di lapangan, mulai dari budidaya, pemasaran, hingga tantangan regenerasi petani.
Dedikasi tersebut membawanya mengemban amanah baru sebagai Penyuluh Pertanian pada 2025. Kini ia bertugas di BPP Sukawati dengan wilayah binaan Desa Batuan, Desa Singapadu Kaler, dan Desa Celuk. Hampir setiap hari ia turun ke lapangan mendampingi kelompok tani, membantu menyelesaikan persoalan budidaya, memperkenalkan inovasi pertanian, hingga menjembatani berbagai program pemerintah agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani.
"Seorang penyuluh harus hadir di tengah petani. Dari lapangan kita memahami persoalan yang sebenarnya, sekaligus mencari solusi bersama," tuturnya.
Namun, ketika jam kerja usai, pengabdiannya pada sektor pertanian belum berakhir. Ia bergegas pulang untuk berganti peran sebagai peternak.
Sejak 2017, Yan Janu membangun usaha budidaya ayam yang hingga kini terus berkembang. Di kandangnya, ia memelihara sekitar 50 ekor ayam petelur kampung, ayam petelur strain Elba, serta sekitar 400 ekor ayam caru yang banyak dibutuhkan masyarakat Bali untuk keperluan upacara adat dan keagamaan. Usaha tersebut menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus penopang ekonomi keluarganya.
Pengalaman sebagai peternak membuat Yan Janu memahami bahwa tantangan usaha tidak pernah berhenti. Harga bibit berubah, biaya pakan naik turun, harga jual mengikuti dinamika pasar, sementara ancaman penyakit selalu menjadi perhatian serius. Karena itulah ia aktif membangun jejaring dengan sesama peternak.
Suatu sore, awak media PERHIPTANI mendapati Yan Janu tengah berdiskusi dengan seorang relasi peternak. Pembicaraan mereka mengalir dari persoalan harga bibit, biaya pakan, peluang pemasaran, hingga strategi memenuhi permintaan ayam caru yang meningkat menjelang hari-hari besar keagamaan. Mereka saling bertukar informasi mengenai pembeli potensial, kualitas bibit, serta cara menjaga efisiensi usaha agar tetap menguntungkan.
Diskusi kemudian berlanjut pada kesehatan ternak. Mereka berbagi pengalaman mengenai pentingnya mengenali gejala penyakit sejak dini, melakukan penanganan secara tepat, menerapkan vaksinasi sesuai jadwal, menjaga kebersihan kandang, memperhatikan kualitas pakan dan air minum, serta memperkuat biosekuriti untuk meminimalkan risiko serangan penyakit.
Bagi Yan Janu, setiap diskusi adalah ruang belajar. Tidak ada peternak yang merasa paling benar. Pengalaman di lapangan justru menjadi guru terbaik untuk meningkatkan kualitas usaha.
"Kalau kita berhenti belajar, usaha akan berhenti berkembang. Saya senang berdiskusi dengan sesama peternak karena selalu ada pengalaman baru yang bisa dipelajari. Ilmu itu kemudian saya terapkan di kandang, sekaligus menjadi bekal saat mendampingi petani dan peternak di wilayah binaan," ujarnya.
Rekan-rekannya mengenal Yan Janu sebagai sosok yang tenang, rendah hati, dan mudah diajak berdiskusi. Ia juga memiliki ketertarikan mendalami nilai-nilai kerohanian yang membentuk karakter dalam bekerja. Baginya, membantu orang lain adalah bagian dari pengabdian yang tidak selalu harus dibalas.
Prinsip itu pula yang membuatnya tetap bersemangat menjalani dua peran sekaligus. Sebagai penyuluh, ia mendampingi petani agar lebih maju melalui penerapan inovasi dan teknologi. Sebagai peternak, ia terus belajar dari pengalaman nyata di lapangan. Dua dunia itu saling menguatkan, menjadikannya bukan sekadar penyampai teori, tetapi juga pelaku yang memahami langsung tantangan usaha tani dan peternakan.
Di tengah tantangan regenerasi petani dan perubahan sektor pertanian yang semakin dinamis, Yan Janu memilih tetap berjalan di jalur pengabdian. Dari kandang ayam yang sederhana hingga hamparan sawah di wilayah binaannya, ia percaya bahwa perubahan besar selalu berawal dari kemauan untuk terus belajar, bekerja, dan hadir bersama masyarakat. Itulah jalan pengabdian yang dipilihnya—merawat harapan petani, sekaligus menjaga keberlanjutan pertanian Bali. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0