Penyuluh Jinakkan OPT Durian dengan Jadam Sulfur
Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menjadi ancaman serius bagi produktivitas durian. Untuk mencegah kerugian petani, penyuluh pertanian bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) turun langsung mendampingi petani menerapkan pengendalian yang tepat melalui aplikasi Jadam Sulfur dan insektisida berbahan aktif Abamektin.
Penyuluh Jinakkan OPT Durian dengan Jadam Sulfur
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Binaan Desa Banjar bersama POPT melaksanakan pendampingan aplikasi Jadam Sulfur dan insektisida berbahan aktif Abamektin di lahan anggota Kelompok Tani Gopala Nandini, Banjar Dinas Perampas, Desa Banjar, Kecamatan Banjar.
Kegiatan tersebut tidak sekadar melakukan penyemprotan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi petani mengenai strategi pengendalian OPT yang efektif dan ramah lingkungan. Petani dibimbing mulai dari teknik pencampuran bahan, penentuan dosis, waktu aplikasi, hingga penggunaan pestisida secara tepat sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Dalam pendampingan tersebut, Jadam Sulfur diperkenalkan sebagai salah satu teknologi budidaya yang membantu menjaga kesehatan tanaman sekaligus menekan perkembangan penyakit. Sementara itu, insektisida berbahan aktif Abamektin diaplikasikan untuk mengendalikan hama utama pada tanaman durian, seperti thrips, tungau, dan ulat, sesuai rekomendasi teknis.
Di sela pendampingan, Penyuluh Pertanian Wilayah Binaan Desa Banjar, Shinta Istihsan, S.P., mengingatkan bahwa pengendalian OPT tidak boleh dilakukan setelah serangan semakin parah. Menurutnya, kunci keberhasilan justru terletak pada pengamatan rutin di kebun sehingga gejala serangan dapat dikenali sejak dini.
"Pengendalian yang efektif dimulai dari pengamatan. Ketika petani rutin memantau kondisi tanaman, tindakan pengendalian bisa dilakukan lebih cepat, tepat sasaran, tepat dosis, dan sesuai kebutuhan. Dengan cara itu, penggunaan pestisida menjadi lebih efisien, tanaman tetap sehat, dan kualitas buah durian dapat terjaga," jelas Shinta.
Ia menambahkan, pendampingan yang dilakukan penyuluh bersama POPT tidak hanya bertujuan mengatasi serangan OPT saat ini, tetapi juga membangun kemampuan petani agar semakin mandiri dalam menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat dan penggunaan pestisida secara bijaksana, petani diharapkan mampu menghasilkan durian yang lebih berkualitas, aman, dan memiliki daya saing di pasar.
Penyuluh juga mengingatkan bahwa keberhasilan pengendalian OPT tidak hanya bergantung pada penggunaan pestisida, tetapi diawali dengan pengamatan rutin terhadap kondisi tanaman. Dengan demikian, tindakan pengendalian dapat dilakukan secara tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan sehingga lebih efektif serta meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
Pendampingan intensif antara PPL dan POPT diharapkan mampu meningkatkan kapasitas petani dalam mengenali gejala serangan sejak dini serta menerapkan pengendalian yang lebih efisien. Langkah tersebut menjadi kunci untuk menjaga produktivitas tanaman sekaligus meningkatkan kualitas buah durian yang dihasilkan.
Sinergi antara petani, penyuluh, dan POPT ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan membangun budidaya durian yang sehat, produktif, dan berdaya saing, sekaligus mendorong penerapan teknologi budidaya yang semakin ramah lingkungan di Desa Banjar.
Koresponden: Shinta Istihsan, S.P. (BPP Banjar Buleleng)
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0