Rakor Kota Denpasar: BBRMP Bali Percepat LTT, Penyuluh Kawal Perluasan Tanam

Alih fungsi lahan terus menggerus sawah Bali. Di sisi lain, kebutuhan beras masyarakat justru terus meningkat. Kondisi itu membuat percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda. Penyuluh pertanian pun didorong menjadi ujung tombak mengawal peningkatan produksi melalui penerapan teknologi modern hingga penguatan sinergi bersama subak.

Jul 8, 2026 - 10:52
 0  14
Rakor Kota Denpasar: BBRMP Bali Percepat LTT, Penyuluh Kawal Perluasan Tanam

Rakor Kota Denpasar:

BBRMP Bali Percepat LTT, Penyuluh Kawal Perluasan Tanam

Alih fungsi lahan menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan Bali. Di tengah kebutuhan beras yang terus meningkat, luas sawah produktif justru terus menyusut. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam Rapat Koordinasi Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) yang digelar Balai Besar Penerapan dan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Bali di Denpasar, Selasa, (7/7)

Rapat dihadiri Kepala BBRMP Bali, Dinas Pertanian Kota Denpasar, POPT, Katimker, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta pekaseh dan kelian subak se-Kota Denpasar sebagai upaya menyatukan langkah mempercepat tanam sekaligus menjaga produksi padi Bali.

Kepala BBRMP Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, MP., mengungkapkan bahwa tantangan pertanian Bali semakin berat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi beras Bali pada 2025 mencapai 331.531 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat diperkirakan mencapai 389.397 ton per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 4,35 juta jiwa. Dalam kurun 2022 hingga 2024, Bali juga kehilangan sekitar 3.000 hektare lahan sawah akibat alih fungsi lahan.

"Produksi harus terus ditingkatkan karena ruang untuk menambah lahan sudah semakin terbatas," ujarnya.

Menurut Rai Yasa, capaian luas tanam padi hingga 6 Juli 2026 masih berada di bawah periode yang sama tahun lalu. Penurunan luas lahan baku sawah menjadi salah satu penyebab utama. Secara keseluruhan, luas lahan baku sawah Bali turun dari 64.474 hektare menjadi 62.954 hektare. Sementara di Kota Denpasar berkurang dari 1.341 hektare menjadi 1.306 hektare.

Kondisi tersebut berdampak pada pencapaian LTT di seluruh kecamatan di Kota Denpasar. Kecamatan Denpasar Selatan menjadi wilayah dengan capaian terendah akibat terganggunya jaringan irigasi pasca kerusakan bendungan. Hambatan lain yang dihadapi adalah keterbatasan operator traktor, keterlambatan pengolahan lahan, hingga peralihan sebagian lahan sawah ke komoditas hortikultura.

Sebagai langkah percepatan, BBRMP Bali mendorong penerapan Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS). Sistem budidaya modern ini mengedepankan mekanisasi presisi, efisiensi penggunaan sumber daya, intensifikasi produksi, serta pengembangan kawasan berbasis korporasi petani untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus membuka lahan baru.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kota Denpasar, I G.A.N. Anggraeni Suwari melalui jajarannya menyampaikan target LTT Kota Denpasar pada 2026 sebesar 3.559 hektare. Hingga Juni 2026, realisasi tanam baru mencapai 982,13 hektare atau sekitar 80 persen dari target yang ditetapkan pemerintah pusat.

Menurutnya, keterbatasan pasokan air irigasi dan minimnya operator alat dan mesin pertanian masih menjadi kendala utama. Untuk mempercepat realisasi tanam, pemerintah telah menyiapkan berbagai dukungan, mulai bantuan pengembangan padi inbrida seluas 450 hektare, benih varietas genjah tahan kekeringan, pupuk organik, kapur pertanian, hingga rehabilitasi jaringan irigasi.

Perbaikan infrastruktur juga terus dipacu melalui pembangunan Jalan Usaha Tani di Subak Kedua, Subak Pakel I, dan Subak Sembung serta rehabilitasi jaringan irigasi tersier di Subak Anggabaya, Subak Kepaon, Subak Pagutan, Subak Pakel I, dan Subak Taman.

Di sisi lain, ancaman organisme pengganggu tanaman masih perlu diwaspadai. Hingga Juni 2026, serangan penyakit kresek menjadi yang tertinggi dengan luasan 21,8 hektare, disusul penggerek batang, tikus sawah, keong mas, dan orong-orong. Karena itu, sinergi antara penyuluh pertanian, POPT, pemerintah daerah, dan pekaseh subak terus diperkuat agar pengendalian dilakukan lebih cepat dan tepat.

Rapat koordinasi tersebut menegaskan bahwa percepatan LTT tidak hanya bertumpu pada bantuan pemerintah, tetapi juga pada pendampingan intensif penyuluh, penguatan kelembagaan subak, serta penerapan teknologi pertanian modern. Kolaborasi inilah yang diharapkan mampu menjaga produktivitas padi Bali di tengah menyusutnya lahan sawah sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendukung target swasembada pangan nasional.

Koresponden: Sriyanto (BBRMP Bali)

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0