Gede Jaya: Dulu Diremehkan, Kini Semangka Tulamben Jadi Andalan

Dulu diremehkan, kini diburu pasar. Semangka yang sempat dipandang sebelah mata di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem, kini menjadi komoditas andalan sekaligus pemasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perubahan itu berawal dari keberanian I Gede Jaya, yang didampingi penyuluh pertanian mengubah lahan kering menjadi ladang harapan.

Jul 8, 2026 - 05:01
 0  4
Gede Jaya: Dulu Diremehkan, Kini Semangka Tulamben Jadi Andalan

Gede Jaya:

Dulu Diremehkan, Kini Semangka Tulamben Jadi Andalan

 

Dulu, semangka nyaris tak masuk hitungan petani di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem. Lahan kering, minim air, dan harga jual yang rendah membuat komoditas ini dipandang sebelah mata. Banyak petani memilih bertahan dengan tanaman yang dianggap lebih aman daripada mengambil risiko mencoba sesuatu yang baru.

Namun, keadaan perlahan berubah. Berkat keberanian seorang petani membaca peluang, ditambah pendampingan penyuluh pertanian yang terus mengawal proses budidaya, semangka kini menjelma menjadi salah satu komoditas hortikultura yang paling menjanjikan di kawasan lahan kering. Bahkan, hasil panennya rutin memasok kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di balik perubahan itu berdiri sosok I Gede Jaya, petani asal Banjar Dinas Muntig yang menjadi pelopor budidaya semangka di Desa Tulamben.

Pria kelahiran 1973 itu sehari-hari bertani sekaligus dipercaya sebagai Bendahara Kelompok Tani Lahar Sari. Karakternya sederhana, tetapi memiliki satu kelebihan: berani mencoba ketika kebanyakan orang masih diliputi keraguan.

Momentum itu datang pada 2021. Saat sumur bor mulai dimanfaatkan sebagai sumber irigasi, I Gede Jaya melihat peluang yang belum banyak dilirik. Di tengah keraguan petani lain, ia justru menanam semangka meski harga saat itu masih berkisar Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram.

Keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Modal yang dikeluarkan tidak sedikit, sementara keuntungan belum tentu menjanjikan. Namun, ia percaya kebutuhan buah segar akan terus meningkat dan suatu saat pasar akan memberikan nilai lebih bagi semangka.

"Dulu banyak yang menganggap semangka kurang menjanjikan karena harganya masih rendah. Tetapi saya percaya kalau dikelola dengan baik dan pasarnya ada, semangka bisa menjadi sumber penghasilan yang bagus. Sekarang hasilnya mulai terlihat, bahkan permintaannya terus meningkat," tutur I Gede Jaya.

Keyakinan itu akhirnya berbuah manis. Harga semangka kini melonjak menjadi Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Komoditas yang dulu dipandang sebelah mata kini justru menjadi sumber pendapatan baru bagi petani lahan kering di Kecamatan Kubu.

Keberhasilannya pun menular. Sedikit demi sedikit, anggota Kelompok Tani Lahar Sari mulai mengikuti jejaknya. Bagi I Gede Jaya, keberhasilan sejati bukan ketika ia menikmati hasil seorang diri, melainkan ketika semakin banyak petani ikut merasakan manfaatnya.

Peluang pasar pun semakin terbuka. Saat ini, hasil panennya rutin dipasok ke dua dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kubu. Setiap hari, kedua dapur tersebut membutuhkan sekitar 100 kilogram semangka sebagai pelengkap menu bergizi. Ironisnya, kebutuhan itu belum mampu dipenuhi seluruhnya karena produksi petani lokal masih terbatas.

"Permintaan dari dapur MBG cukup besar. Saya berharap semakin banyak petani ikut menanam semangka sehingga kebutuhan tersebut bisa dipenuhi oleh petani lokal. Kalau pasarnya sudah jelas seperti ini, tentu menjadi kesempatan yang sangat baik," katanya.

Tak berhenti pada semangka, I Gede Jaya kini juga mulai mengembangkan budidaya timun Jepang. Komoditas tersebut dipilih karena memiliki permintaan yang terus meningkat dari dapur MBG sehingga berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi petani.

Perjalanan I Gede Jaya tidak berjalan sendiri. Di balik keberhasilannya, penyuluh pertanian hadir sebagai mitra yang mendampingi petani mulai dari pemilihan komoditas, penerapan teknik budidaya, hingga membuka akses pasar agar hasil panen memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Koordinator BPP Kecamatan Kubu, I Ketut Tahu Putrajaya, S.P., M.M.A., mengatakan keberhasilan semangka di Tulamben membuktikan bahwa lahan kering bukan lagi hambatan apabila didukung infrastruktur air dan pendampingan yang tepat.

"Keberadaan sumur bor harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung budidaya tanaman berumur pendek bernilai ekonomi tinggi seperti semangka. Dengan pengelolaan air yang baik, lahan kering memiliki potensi besar menghasilkan komoditas hortikultura yang menguntungkan," ujarnya.

Menurutnya, penyuluh tidak hanya mendampingi aspek teknis budidaya, tetapi juga menjembatani kemitraan antara petani dan pelaksana Program Makan Bergizi Gratis agar tercipta kepastian pasar bagi hasil panen petani.

"Sinergi seperti inilah yang akan memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani," tegasnya.

Penyuluh Pertanian Wilayah Binaan Desa Tulamben, I Made Juni Aditya, S.P., menambahkan bahwa semangka merupakan salah satu komoditas paling prospektif di Kecamatan Kubu karena memiliki umur panen relatif singkat dan permintaan pasar yang terus tumbuh.

Pendampingan penyuluh, katanya, dilakukan secara intensif mulai dari penggunaan benih unggul, pengolahan lahan, pengaturan irigasi, pemupukan berimbang, penyerbukan, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.

"Semangka memiliki siklus panen yang relatif singkat sehingga perputaran modal lebih cepat. Dengan pendampingan penyuluh dan kemauan petani untuk terus belajar, semangka sangat berpeluang menjadi komoditas unggulan Kecamatan Kubu," jelasnya.

Kini, semangka bukan lagi tanaman yang diremehkan di Tulamben. Komoditas yang dulu dianggap kurang menjanjikan justru menjadi harapan baru bagi petani lahan kering. Di balik setiap buah yang dipanen, tersimpan kisah tentang keberanian mengambil risiko, konsistensi belajar, serta peran penyuluh yang terus mengawal petani dari lahan hingga pasar.

Kisah I Gede Jaya membuktikan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari satu langkah kecil: keberanian mencoba ketika orang lain memilih menunggu. Ketika inovasi petani bertemu pendampingan penyuluh dan kepastian pasar, lahan kering bukan lagi simbol keterbatasan, melainkan ladang harapan yang mampu menumbuhkan kesejahteraan.

Koresponden: Putu Laksmi Pramita, S.P. (BPP Kubu Karangasem)

Editor: JukWid

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0