“Ketahanan Pangan Bukan Produk Instan”
Hening Nyepi dan hangat Idul Fitri telah berlalu, menyisakan ruang refleksi bagi banyak hal termasuk pertanian. Di balik jeda perayaan, sektor ini tetap bergerak, mengingatkan bahwa ketahanan pangan dibangun dari proses panjang, bukan hasil seketika.
“Ketahanan Pangan Bukan Produk Instan”
Di balik euforia hari raya, ada kerja sunyi petani dan penyuluh yang memastikan pangan tetap tersedia tanpa jeda, tanpa kompromi.
Hening Nyepi telah berlalu. Hangat Idul Fitri pun mulai mereda. Dua momentum besar yang memberi ruang bagi manusia untuk berhenti sejenak merenung, membersihkan diri, dan menata ulang arah kehidupan. Namun di balik jeda itu, ada satu sektor yang tak pernah benar-benar berhenti yakni pertanian.
Di saat sebagian aktivitas melambat, sawah tetap menunggu. Tanaman terus tumbuh, air mengalir di saluran irigasi, dan petani bersiap kembali ke lahan. Bagi mereka, waktu bukan sekadar hitungan hari, tetapi soal ketepatan musim. Terlambat satu fase tanam, konsekuensinya bisa panjang hingga pada hasil panen dan ketersediaan pangan.
Di sinilah kita kerap luput. Ketahanan pangan sering dibicarakan dalam angka produksi meningkat, stok aman, harga terkendali. Namun jarang kita melihatnya dari hulu, dari proses yang sunyi namun menentukan. Bagaimana lahan dikelola, bagaimana sarana produksi tersedia, dan bagaimana pengetahuan petani terus diperkuat.
Momentum pasca hari raya seharusnya menjadi titik refleksi. Apakah kita sudah cukup serius menempatkan pertanian sebagai fondasi kehidupan? Atau kita masih menganggapnya sebagai sektor pelengkap yang hanya diingat ketika harga pangan naik?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pertanian tidak pernah benar-benar “libur”. Bahkan setelah hari raya, aktivitas justru harus segera dipacu. Lahan perlu diolah, benih disiapkan, dan pemupukan dilakukan tepat waktu. Dalam siklus ini, satu hal menjadi sangat krusial, ketersediaan sarana produksi, terutama pupuk.
Pupuk bukan sekadar input. Ia adalah penentu ritme produksi. Tanpa ketersediaan yang tepat waktu, musim tanam bisa kehilangan momentum. Dan ketika momentum hilang, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga seluruh rantai pangan.
Namun persoalan pupuk tidak berhenti pada ketersediaan. Selama ini, pendekatan yang dominan masih berorientasi pada kuantitas berapa ton disalurkan, berapa luas lahan yang dipupuk. Padahal yang tak kalah penting adalah kualitas penggunaan. Apakah pupuk diberikan sesuai kebutuhan tanaman, apakah tanah tetap dijaga keseimbangannya.
Di titik ini, kita dihadapkan pada dilema klasik. Di satu sisi, produktivitas harus terus ditingkatkan. Di sisi lain, tekanan terhadap lahan tidak boleh diabaikan. Tanah yang terus-menerus dipaksa dengan input kimia tanpa keseimbangan akan mengalami degradasi. Dalam jangka pendek mungkin menghasilkan, tetapi dalam jangka panjang justru melemahkan fondasi produksi.
Karena itu, pendekatan pemupukan berimbang menjadi semakin relevan. Bukan sekadar slogan teknis, tetapi sebuah keharusan. Tanah harus diperlakukan sebagai ekosistem hidup, bukan sekadar media tanam. Kombinasi pupuk kimia dan organik, pemupukan sesuai dosis, serta pengelolaan yang bijak menjadi kunci keberlanjutan.
Peran penting dalam proses ini berada di tangan penyuluh pertanian. Mereka bukan hanya pendamping teknis, tetapi juga penerjemah kebijakan di tingkat tapak. Penyuluh memastikan bahwa program tidak berhenti di atas kertas, melainkan benar-benar dipraktikkan di lapangan.
Ketua DPW PERHIPTANI Bali, Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si,, menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dibangun secara instan.
“Ketahanan pangan harus dimulai dari hulu. Ketersediaan sarana produksi, pendampingan penyuluh, hingga perilaku petani dalam mengelola lahan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa momentum pasca hari raya seharusnya tidak disia-siakan.
“Ini saatnya memperkuat kembali komitmen. Kita tidak bisa hanya mengejar produksi, tetapi juga harus menjaga keberlanjutan. Pertanian yang kuat adalah pertanian yang mampu menjaga keseimbangan,” tegasnya.
Pernyataan ini relevan dengan kondisi saat ini. Tantangan pertanian semakin kompleks. Perubahan iklim membuat musim sulit diprediksi. Alih fungsi lahan terus terjadi. Sementara itu, regenerasi petani masih berjalan lambat. Jika tidak diantisipasi, maka ketahanan pangan yang selama ini dianggap kuat bisa menjadi rapuh.
Di Bali, kita memiliki modal sosial yang tidak dimiliki banyak daerah lain yaitu sistem subak. Lebih dari sekadar sistem irigasi, subak adalah representasi harmoni antara manusia, alam, dan budaya. Nilai ini seharusnya menjadi pijakan dalam membangun pertanian masa depan pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan.
Namun modal sosial saja tidak cukup. Ia harus diperkuat dengan kebijakan yang tepat, distribusi sarana produksi yang lancar, serta pendampingan yang konsisten. Tanpa itu, harmoni hanya akan menjadi konsep, bukan praktik.
Momentum pasca Nyepi dan Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk kembali menyadari hal ini. Bahwa pangan yang kita konsumsi setiap hari bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja. Ia adalah hasil dari kerja panjang, dari sistem yang harus terus dijaga, dan dari komitmen bersama yang tidak boleh luntur.
Pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab petani atau pemerintah. Ia adalah tanggung jawab kita semua. Dari cara kita menghargai pangan, hingga bagaimana kita mendukung kebijakan yang berpihak pada pertanian.
Karena dari tanah yang terjaga, lahir kehidupan yang berkelanjutan. Dan dari pertanian yang kuat, berdiri ketahanan pangan yang sesungguhnya. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0