Bawang Songan Disasar, Buleleng–Bangli Matangkan Skema Pasar
Komoditas bawang merah di Desa Songan B, Kintamani, masuk radar kerja sama antar daerah. Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng turun langsung menggali potensi dan persoalan di lapangan, sebagai langkah konkret menekan gejolak harga yang berkontribusi terhadap inflasi.
Bawang Songan Disasar, Buleleng–Bangli Matangkan Skema Pasar
Upaya pengendalian inflasi pangan terus diperkuat melalui sinergi antar daerah. Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng melakukan kunjungan kerja ke Desa Songan B, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Selasa (21/4), untuk menjajaki peluang kerja sama komoditas strategis, khususnya bawang merah.
Rombongan dipimpin Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng beserta jajaran, dan diterima perwakilan Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bangli. Hadir pula penyuluh pertanian wilayah binaan Songan B, Wayan Darmayuda, SP, serta Katimker Provinsi Bali wilayah binaan Kabupaten Bangli, I Nyoman Gde Surendra Atmaja, S.P., M.P.
Dalam pemaparannya, Darmayuda menjelaskan bahwa Desa Songan B memiliki 104 kelompok tani dengan komoditas utama bawang merah yang mendominasi hingga 80 persen. Sisanya, sekitar 20 persen, merupakan komoditas pendukung seperti cabai, tomat, kol, dan nanas.
“Potensi bawang merah di Songan B sangat besar, namun masih dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama fluktuasi harga yang tinggi dan rantai distribusi yang panjang,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, panjangnya rantai distribusi menyebabkan adanya potongan harga sekitar 10–11 persen oleh pengepul. Selain itu, keterbatasan modal membuat petani masih bergantung pada tengkulak. Kondisi ini diperparah dengan belum adanya sistem informasi harga yang transparan, serta risiko produksi akibat faktor cuaca seperti embun dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
“Di sisi lain, belum adanya nota kesepahaman (MoU) pemasaran tetap juga membuat posisi tawar petani masih lemah,” tambahnya.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama antar daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan yang berpengaruh terhadap inflasi. Salah satu komoditas yang menjadi fokus adalah bawang merah, mengingat perannya yang cukup signifikan dalam pembentukan inflasi.
Dalam kegiatan tersebut, tim dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng juga melakukan wawancara langsung dengan petani bawang merah di Songan B. Sejumlah aspek digali lebih dalam, mulai dari varietas yang dikembangkan, jumlah produksi per tahun, perkembangan harga, hingga pola dan saluran pemasaran yang selama ini berjalan.
Sementara itu, Katimker Provinsi Bali, I Nyoman Gde Surendra Atmaja, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas daerah untuk memperkuat posisi petani dalam rantai pasok.
“Kerja sama antar daerah ini menjadi langkah strategis untuk memotong rantai distribusi yang terlalu panjang. Jika bisa diformalkan melalui skema yang jelas, termasuk MoU pemasaran, maka petani akan mendapatkan kepastian pasar dan harga yang lebih baik,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa penguatan data produksi dan sistem informasi harga menjadi kunci dalam merancang pola kerja sama yang berkelanjutan.
“Ke depan, kita dorong adanya integrasi data produksi dan informasi harga yang lebih transparan, sehingga pengambilan kebijakan tidak lagi berbasis asumsi, tetapi berbasis data riil di lapangan,” imbuhnya.
Hasil dari penggalian data ini nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi pola kerja sama ke depan. Termasuk menilai kelayakan dan peluang implementasi kerja sama antar daerah pada komoditas bawang merah.
Diharapkan, sinergi ini mampu memperpendek rantai distribusi, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menjaga stabilitas pasokan dan harga bawang merah di pasar. (Yuda/Rendra/JikWid)
What's Your Reaction?
Like
5
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0