"Cengkeh Menguning dan Mati, SIGAP TANI Ungkap Biang Keladinya”

Keluhan petani soal pohon cengkeh yang mendadak menguning dan mati langsung direspons Tim SIGAP TANI BPP Sukasada. Hasil pemeriksaan mengungkap serangan jamur akar putih yang telah menyebar di sebagian besar areal kebun.

Jun 3, 2026 - 04:58
 0  23
"Cengkeh Menguning dan Mati, SIGAP TANI Ungkap Biang Keladinya”

"Cengkeh Menguning dan Mati, SIGAP TANI Ungkap Biang Keladinya”

Keluhan petani langsung mendapat respons cepat dari Tim SIGAP TANI BPP Sukasada. Setelah menerima laporan adanya puluhan pohon cengkeh yang menguning dan mati di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, tim bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) segera turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan.

Laporan tersebut disampaikan petani cengkeh I Ketut Supala, 72. Pemilik kebun seluas 1,2 hektare di Subak Kelampitan itu mengaku khawatir karena semakin banyak tanaman cengkehnya yang menunjukkan gejala tidak normal. Dari sekitar 300 pohon cengkeh berumur kurang lebih 20 tahun yang dibudidayakan, beberapa di antaranya telah mati.

Keluhan itu pertama kali diterima Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Silangjana, Komang Trisna Wirakusuma, SP. Menurutnya, tanaman yang terserang menunjukkan gejala daun menguning dan rontok, ranting serta cabang mengering dari bagian ujung menuju pangkal. Pada beberapa tanaman, akar terlihat berwarna hitam kecokelatan dan mengalami kerusakan.

“Begitu menerima laporan dari petani, kami langsung melakukan pengecekan ke lokasi bersama POPT Kecamatan Sukasada. Respons cepat penting dilakukan agar penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan adanya serangan jamur akar putih yang telah menyebar hampir di seluruh areal kebun dengan tingkat serangan yang bervariasi, mulai ringan, sedang hingga berat. Selain itu, hasil pengukuran menunjukkan pH tanah berada pada kisaran 4,5–5 yang tergolong asam.

Pada tanaman dengan serangan berat, kondisi perakaran telah rusak sehingga kemampuan menyerap air dan unsur hara menjadi terganggu. Dampaknya, tanaman mengalami klorosis atau menguning, pertumbuhan terhambat, hingga akhirnya mati.

POPT Kecamatan Sukasada, Ni Putu Eka Handayani, SP, menjelaskan bahwa jamur akar putih merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman perkebunan yang sulit dikendalikan apabila tidak ditangani sejak dini.

“Jamur ini dapat bertahan lama di dalam tanah maupun pada sisa-sisa akar tanaman yang sudah mati. Berdasarkan hasil identifikasi, sumber inokulum masih ditemukan di beberapa titik kebun sehingga perlu segera dilakukan tindakan pengendalian agar tidak menyebar ke tanaman yang masih sehat,” jelasnya.

Sementara itu, I Ketut Supala mengaku lega setelah mendapatkan pendampingan dari petugas. Menurutnya, gejala awal sebenarnya hanya muncul pada beberapa pohon, namun dalam beberapa bulan terakhir jumlah tanaman yang menguning terus bertambah.

“Awalnya hanya satu dua pohon yang menguning. Lama-kelamaan semakin banyak. Saya bersyukur laporan saya cepat ditindaklanjuti sehingga penyebabnya bisa diketahui dan ada arahan penanganannya,” katanya.

Berdasarkan hasil identifikasi, Tim SIGAP TANI merekomendasikan sejumlah langkah pengendalian. Di antaranya membongkar dan memusnahkan tanaman yang telah mati beserta akar yang terinfeksi, membersihkan tunggul tanaman sakit, melakukan sanitasi kebun dan perbaikan drainase, serta membuat parit isolasi pada area yang terserang berat.

Selain itu, petani juga dianjurkan mengaplikasikan agen hayati antagonis seperti Trichoderma spp., memberikan pupuk organik matang yang diperkaya mikroorganisme menguntungkan, serta menambahkan kapur dolomit untuk meningkatkan pH tanah. Pada tanaman dengan tingkat serangan ringan hingga sedang, dapat dilakukan pembongkaran akar yang terinfeksi dan dilanjutkan dengan aplikasi fungisida sesuai rekomendasi teknis.

Melalui sinergi antara petani, penyuluh pertanian, dan POPT, penyebaran jamur akar putih diharapkan dapat ditekan sehingga produktivitas tanaman cengkeh di Subak Kelampitan tetap terjaga dan kerugian petani dapat diminimalkan.

Koresponden: Komang Trisna Wirakusuma, SP (BPP Kecamatan Sukasada)

Editor: JikWid/DND

What's Your Reaction?

Like Like 2
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0