Jurus Lembu Lestari Dongkrak Produktivitas
Di tengah tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks, Kelompok Tani Ternak (KTT) Lembu Lestari di Desa Bulian, Buleleng membuktikan bahwa inovasi mampu mengubah lahan menjadi sumber kesejahteraan. Lewat pola tumpangsari sapi dan sayuran, hamparan 6 hektare kini tumbuh menjadi pertanian produktif sekaligus ramah lingkungan.
Jurus Lembu Lestari Dongkrak Produktivitas
Di saat sebagian petani mulai dihadapkan pada tantangan perubahan iklim, biaya produksi yang meningkat, hingga fluktuasi harga hasil pertanian, Kelompok Tani Ternak (KTT) Lembu Lestari di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng justru menunjukkan arah berbeda. Mereka membuktikan bahwa pertanian inovatif mampu menghadirkan harapan, keberlanjutan, sekaligus kesejahteraan dalam satu hamparan lahan.
Dipimpin Nyoman Parta, kelompok yang berdiri sejak tahun 2022 dengan jumlah 25 anggota ini terus bergerak mengembangkan sistem pertanian yang tidak lagi terpaku pada pola konvensional. Mereka percaya, pertanian masa depan harus mampu menyatukan produktivitas, efisiensi, dan kelestarian lingkungan dalam satu sistem yang saling terhubung.
Semangat itu kini tampak nyata di lahan seluas sekitar 6 hektare milik kelompok. Hamparan lahan tersebut berubah menjadi kawasan pertanian tumpangsari yang hidup dan produktif. Berbagai komoditas seperti cabai, terong, pakcoy, hingga bunga gumitir tumbuh berdampingan dalam satu kawasan, menciptakan ekosistem pertanian yang saling mendukung.
Bagi KTT Lembu Lestari, pemilihan komoditas bukan dilakukan secara kebetulan. Sayuran dipilih karena menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat dengan masa panen yang relatif cepat sehingga mampu mempercepat perputaran ekonomi petani. Sementara bunga gumitir dipertahankan karena memiliki nilai ekonomi sekaligus sosial budaya yang kuat bagi masyarakat Bali.
Selain menjadi kebutuhan penting dalam pelaksanaan yadnya sehari-hari, gumitir juga memiliki fungsi ekologis yang tidak kalah penting. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai refugia alami yang membantu menarik musuh alami hama, sehingga keseimbangan ekosistem pertanian tetap terjaga.
Yang menarik, pengembangan usaha tani di kelompok ini juga terintegrasi dengan peternakan sapi. Sistem tumpangsari sapi dan tanaman menciptakan hubungan yang saling menguatkan. Limbah ternak dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk mendukung kesuburan lahan, sementara hasil pertanian dapat menopang kebutuhan usaha ternak. Pola ini sekaligus menjadi langkah efisiensi dalam menekan ketergantungan terhadap input dari luar.
Tidak berhenti pada aspek produksi, kelompok ini juga aktif mengembangkan berbagai agens hayati sebagai upaya mewujudkan pertanian sehat dan ramah lingkungan. Sejumlah mikroorganisme seperti Trichoderma, Beauveria bassiana, hingga Paeni Bacillus mulai diproduksi dan dimanfaatkan secara mandiri oleh kelompok.
Pemanfaatan agens hayati tersebut menjadi bagian dari komitmen kelompok dalam mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis. Selain menjaga kesehatan tanaman, langkah tersebut juga diharapkan mampu menjaga kualitas lingkungan pertanian dan keberlanjutan sumber daya alam.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian saat ini, KTT Lembu Lestari menghadirkan pesan sederhana namun kuat: pertanian tidak cukup hanya menghasilkan panen, tetapi juga harus mampu menjaga alam dan menyiapkan masa depan. Dari Desa Bulian, semangat itu kini tumbuh bersama hamparan sayuran, bunga gumitir, dan peternakan yang berjalan beriringan menuju pertanian berkelanjutan.
Koresponden: Sukardana BPP Kubutamahan Buleleng
Editor: Jikwid/DND
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0