Penyuluh Gerakkan Subak, Reforma Agraria Perkuat Pertanian Hijau
Reforma Agraria menjadi pintu masuk memperkuat pertanian ramah lingkungan di Desa Petak, Kabupaten Gianyar. Melalui pendampingan penyuluh, penguatan kelembagaan subak hingga pelatihan pestisida nabati mulai didorong sebagai langkah nyata menjaga produktivitas sekaligus kelestarian lingkungan.
Penyuluh Gerakkan Subak, Reforma Agraria Perkuat Pertanian Hijau
GIANYAR – Program Reforma Agraria tidak lagi sekadar berbicara mengenai penataan akses masyarakat terhadap tanah. Di Desa Petak, Kecamatan Gianyar, program tersebut berkembang menjadi momentum memperkuat pertanian hijau melalui penguatan kelembagaan subak, peningkatan kapasitas petani, dan pendampingan intensif oleh penyuluh pertanian.
Semangat itu mengemuka dalam kegiatan Penyuluhan Penanganan Akses Reforma Agraria Tahun 2026 yang diselenggarakan ATR/BPN Kantor Pertanahan Kabupaten Gianyar di Wantila Desa Adat Benawah, Desa Petak, pekan lalu.
Kegiatan dibuka Perbekel Desa Petak Anak Agung Gede Mayun dan dihadiri Kepala Seksi Penataan dan Pemberdayaan Kantor Pertanahan Kabupaten Gianyar I Gusti Ngurah Agung Wirawan, A.Ptnh., M.H. Hadir pula narasumber dari Yayasan Kedai Masyarakat dan debtWATCH Indonesia, perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Gianyar, pemerintah desa, TP PKK, BPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Pendamping Desa, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), perangkat desa, kelian dinas, anggota subak, serta mahasiswa Bina Desa Fakultas Hukum Universitas Udayana.
Dalam kegiatan tersebut, peserta sepakat bahwa keberhasilan Reforma Agraria tidak hanya diukur dari aspek legalitas dan akses terhadap sumber daya, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengelola lahan secara produktif, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi. Desa Petak dinilai memiliki potensi besar mengembangkan pertanian berbasis subak yang dipadukan dengan konsep desa agrowisata tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Salah satu langkah yang didorong ialah penerapan budidaya pertanian ramah lingkungan melalui pengurangan penggunaan pestisida kimia secara bertahap, disertai penerapan rotasi tanaman. Pola tanam yang lebih beragam diyakini mampu menjaga kesuburan tanah, menekan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi petani.
Peran penyuluh pertanian menjadi ujung tombak dalam menggerakkan perubahan tersebut. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Petak, Paksi Bali Dewa, S.P., M.Agb., menegaskan bahwa penguatan kelembagaan subak harus menjadi fondasi dalam membangun pertanian yang maju dan berkelanjutan.
"Setiap subak sebaiknya melaksanakan rapat rutin minimal satu kali setiap bulan. Forum ini menjadi wadah untuk membahas berbagai persoalan di lapangan, mengevaluasi kegiatan budidaya, menyusun solusi bersama, sekaligus memperkuat komunikasi dan kekompakan antarpetani," ujarnya.
Menurutnya, subak yang aktif berdiskusi akan lebih cepat beradaptasi terhadap berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman, hingga penerapan inovasi budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, Paksi Bali Dewa juga mengusulkan agar Pemerintah Desa Petak mengalokasikan program pelatihan pembuatan pestisida nabati pada tahun 2027. Pelatihan tersebut diharapkan dilaksanakan secara langsung di masing-masing subak sehingga petani dapat mempraktikkan pembuatannya sesuai kondisi lahan dan komoditas yang diusahakan.
"Pertanian ramah lingkungan merupakan salah satu arah pembangunan Desa Petak. Kami berharap pada tahun 2027 dapat diprogramkan pelatihan pembuatan pestisida nabati di setiap subak agar petani memiliki keterampilan mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, menekan biaya produksi, sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani," tambahnya.
Melalui kegiatan ini, ATR/BPN bersama Pemerintah Desa Petak menunjukkan bahwa Reforma Agraria bukan hanya program penataan agraria, melainkan juga instrumen pemberdayaan masyarakat yang mampu memperkuat sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Sinergi antara pemerintah, penyuluh pertanian, akademisi, lembaga pendamping, dan petani menjadi modal penting dalam membangun pertanian yang produktif sekaligus berkelanjutan.
Dengan pendampingan yang berkesinambungan, Desa Petak diharapkan mampu menjadi percontohan pengembangan pertanian hijau berbasis subak di Kabupaten Gianyar. Penguatan kelembagaan petani, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta kolaborasi lintas sektor diyakini menjadi fondasi dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Koresponden: Paksi Bali Dewa ( BPP Gianyar)
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0