Dilatih PERHIPTANI, Penyuluh Buktikan AWD Hemat Air dan Dongkrak Hasil
Pelatihan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) yang digagas PERHIPTANI Bali mulai menunjukkan hasil nyata. Di Subak Wongaya Betan, kawasan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru, penerapan AWD yang dipadukan dengan pertanian organik mampu menghasilkan produktivitas padi mencapai 6,3 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
Dilatih PERHIPTANI, Penyuluh Buktikan AWD Hemat Air dan Dongkrak Hasil
TABANAN – Gebrakan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PERHIPTANI Bali memperkenalkan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) kepada para penyuluh dan pekaseh di kawasan Subak Catur Angga Batukaru mulai membuahkan hasil. Teknologi hemat air tersebut kini berhasil diterapkan di tingkat petani dan mampu mendongkrak produktivitas padi tanpa meninggalkan prinsip pertanian ramah lingkungan.
Bukti keberhasilan itu terlihat saat Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Kecamatan Penebel melaksanakan kegiatan ubinan di Subak Wongaya Betan, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel. Subak yang menjadi bagian dari kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) Catur Angga Batukaru tersebut selama ini dikenal konsisten mengembangkan pertanian organik dengan tetap menjaga kelestarian alam dan budaya pertanian Bali.
Pengambilan ubinan dilakukan di lahan milik petani I Nyoman Semarandana. Selain untuk mengetahui potensi hasil panen, kegiatan tersebut juga menjadi bahan evaluasi terhadap penerapan inovasi budidaya yang selama ini didampingi oleh penyuluh pertanian.
Penyuluh Pertanian Wilayah Binaan drh. I Made Winaya menjelaskan, lahan seluas 60 are tersebut ditanami varietas Barak Cenana dengan menerapkan sistem pertanian organik yang dipadukan dengan teknologi pengairan berselang (AWD). Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata terdapat 12 anakan per rumpun dengan jumlah rumpun ubinan sebanyak 96 rumpun.
Dari hasil ubinan diperoleh gabah basah seberat 6,265 kilogram atau setara 4,38 kilogram Gabah Kering Panen (GKP), sehingga menghasilkan produktivitas sekitar 6,3 ton GKP per hektare.
"Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan pertanian organik yang dipadukan dengan teknologi AWD mampu menghasilkan produktivitas yang baik. Selain meningkatkan efisiensi penggunaan air, teknologi ini juga mendukung pelestarian lingkungan dan memperkuat sistem budidaya yang berkelanjutan," ujar drh. I Made Winaya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pelatihan AWD yang sebelumnya diinisiasi PERHIPTANI Bali di kawasan Subak Catur Angga Batukaru tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Inovasi yang diperkenalkan kepada penyuluh dan petani kini telah diterapkan di lapangan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan hasil usaha tani.
Dari sisi ekonomi, hasil panen petani juga memberikan prospek yang menjanjikan. Gabah organik tersebut direncanakan akan dibeli oleh Somya Pertiwi dengan harga Rp900 ribu per kuintal, lebih tinggi dibandingkan harga gabah konvensional sehingga memberikan nilai tambah bagi petani.
Pemilik lahan, I Nyoman Semarandana, mengaku bersyukur atas hasil panen yang dicapai. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendampingan intensif para penyuluh pertanian yang terus mengawal penerapan teknologi budidaya di lapangan.
"Saya mengajak seluruh petani untuk tetap semangat menerapkan pertanian organik. Hasilnya terbukti baik, tanah menjadi lebih sehat, lingkungan tetap terjaga, dan nilai jual gabah juga semakin baik. Terima kasih kepada seluruh Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Penebel yang selama ini selalu mendampingi kami. Pendampingan yang berkelanjutan menjadi motivasi bagi kami untuk terus maju dan berkembang," ujarnya.
Keberhasilan Subak Wongaya Betan menjadi sinyal positif bahwa sinergi antara inovasi, pendampingan penyuluh, dan komitmen petani mampu melahirkan pertanian yang produktif sekaligus berkelanjutan. Model budidaya ini diharapkan dapat direplikasi di subak-subak lainnya di Bali sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, menghemat penggunaan air, dan menjaga kelestarian Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.
Koresponden: Ida Bagus Gde Dwijayanta (BPP Penebel Tabanan)
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0