Belajar Tak Pernah Tamat bagi Penyuluh
Gelar tinggi bukan akhir perjalanan. Penyuluh pertanian dituntut terus mengasah ilmu, dari pengalaman lapangan hingga ruang kelas, demi benar-benar mengubah perilaku petani.
Belajar Tak Pernah Tamat bagi Penyuluh
Ucapan itu masih melekat di ingatan. Setahun lalu, saat penobatan Penyuluh Pertanian Teladan Provinsi Bali, di depan ratusan penyuluh, ia berjanji, “Saya akan setia mendampingi PERHIPTANI.” Komitmen itu bukan sekedar kata. Di tengah padatnya peran sebagai akademisi dan praktisi penyuluhan, ia tetap hadir, berbagi, dan mengingatkan satu hal penting: belajar tidak pernah tamat.
Banyak orang mengira gelar doktor adalah garis akhir perjuangan belajar. Tidak bagi Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, SP, M.Si. Justru setelah menyandang gelar tertinggi itu, ia merasa tidak pernah benar-benar “lulus” dari proses belajar. Tuntutan berbagi ilmu, mengajar, hingga memecahkan persoalan di lapangan membuatnya terus dipaksa berpikir lebih dalam dan belajar lebih keras.
Pepatah lama itu tidak pernah usang. “ Tuntutlah ilmu sepanjang hayat dan belajarlah ke negeri China". Dulu saya mengira, gelar doktor adalah garis akhir dari perjalanan belajar. Setelah itu, hidup akan lebih tenang tak lagi diburu buku, penelitian, dan disertasi. Ternyata, anggapan itu keliru.
Justru setelah menyandang gelar doktor, tuntutan baru datangan. Undangan menjadi pembicara, mengajar, membimbing, hingga menyusun proposal penelitian hadir silih berganti. Alih-alih berhenti, proses belajar justru semakin intens. Di titik itulah saya menyadari: belajar memang tidak pernah tamat.
Apa sih arti belajar? Belajar pada hakikatnya adalah respon manusia terhadap rangsangan yang ditangkap oleh panca indera . Saat menghadapi panas, manusia menciptakan pakaian. Saat gelap, manusia menghadirkan lampu. Artinya, manusia beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Dan, belajar adalah cara manusia bertahan hidup. Tanpa belajar, manusia akan tertinggal, bahkan bisa “gugur” oleh perubahan zaman.
Bagaimana caranya manusia belajar? Ada dua cara utama manusia belajar. Pertama, melalui pengalaman learning by doing, learning by experience maka ada istilah experince is the best teacher . Cara ini paling kuat karena langsung dihadapkan dengan kenyataan, meski memerlukan waktu lebih lama. Kedua, melalui bimbingan guru, penyuluh, atau pelatih. Cara ini lebih cepat, tetapi seringkali kurang membekas jika tidak dipraktikkan.
Dalam dunia penyuluhan pertanian, belajar menjadi jantung utama. Tugas penyuluh bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi mengubah perilaku petani: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mau menjadi mau, dan dari tidak mampu menjadi mampu. Proses ini tidak sederhana, karena menyentuh aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan sekaligus.
Oleh karena itu, penyuluh tidak boleh berhenti belajar. Ia harus terus mengasah metode, strategi, dan pendekatan agar mampu menjawab tantangan di lapangan mulai dari perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, hingga dinamika sosial petani. Penyuluh yang berhenti belajar, sejatinya sedang tertinggal.
Pada akhirnya, belajar adalah keniscayaan. Bukan sekedar kewajiban akademik, tapi kebutuhan hidup. Bagi penyuluh pertanian, belajar bukan pilihan, melainkan jalan pengabdian.
Selamat belajar bagi para penyuluh di seluruh nusantara. Sebab pengabdian sejati adalah belajar tanpa henti hingga akhir hayat.
“Gelar bisa tamat, tapi belajar tidak pernah.”
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0